Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Concept of Dharuri Bisy Syaukah in Fikih Siyasah: A Study of the Thought of Abuya Muhammad Waly Al-Khalidi Aulia Ababiel; Safriadi Safriadi
Siyasah Wa Qanuniyah Vol 3 No 1 (2025): Siyasah Wa Qanuniyah
Publisher : Ma'had Aly Raudhatul Ma'arif

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61842/swq/v3i1.22

Abstract

During Soekarno's administration, several significant events took place, including the emergence of the DI/TI movement led by Sekarmadji Maridjan Kartosuwirjo. This movement, also known as DI/TII, operated under the Tentara Islam Indonesia (TII) and aimed to establish an Islamic State of Indonesia. Concurrently, Islamic parties debated not only the desired form of an Islamic state but also the legitimacy of President Soekarno as ulil amri (leader deserving of obedience) due to the government not being Islamic. Amidst ongoing debates within the Islamic factions in the Constituent Assembly, President Soekarno convened approximately 500 ulama from Java and two prominent ulama from Aceh, Teungku M. Hasan Krueng Kalee and Abuya Muda Wali al-Khalidy, at Istana Cipanas on October 14, 1957. They discussed the status of the Indonesian state and its president under Islamic jurisprudence, deliberating on whether his leadership was legitimate according to Islamic principles. Out of this meeting emerged the concept of "Waliyul Amri Dharuri Bisy Syaukah", bestowed upon President Soekarno, affirming his legitimacy as the head of state despite Indonesia not being an Islamic nation. The scholarly work discussed in this context employs library research as its method, gathering theoretical insights by studying relevant literature. The research findings underscore the proposal of "Dharuri Bisy Syaukah," a consensus reached among the attending ulama, which solidified President Soekarno's legitimacy as the national leader.
Peran Ulama Dayah dalam Meminimalisir Angka Perceraian di Kabupaten Bireuen Aulia Ababiel
EDU SOCIETY: JURNAL PENDIDIKAN, ILMU SOSIAL DAN PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Vol. 5 No. 2 (2025): June-September 2025
Publisher : Association of Islamic Education Managers (Permapendis) Indonesia, North Sumatra Province

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56832/edu.v5i2.1378

Abstract

Angka perceraian di Kabupaten Bireuen terus meningkat setiap tahun dan menimbulkan dampak sosial yang kompleks. Ulama dayah, sebagai tokoh agama dan sosial di Aceh, memiliki peran penting dalam upaya meminimalisir perceraian. Penelitian ini bertujuan menganalisis peran ulama dayah dalam menekan angka perceraian, mengidentifikasi hambatan yang dihadapi, serta menelaah persepsi masyarakat terhadap upaya tersebut. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif, dengan pengumpulan data melalui wawancara mendalam, observasi, dan studi dokumentasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ulama dayah aktif memberikan edukasi keagamaan, mediasi konflik rumah tangga, serta bimbingan pranikah. Namun, efektivitas peran mereka masih terkendala oleh keterbatasan otoritas formal dan pengaruh modernisasi. Masyarakat secara umum masih menaruh kepercayaan tinggi terhadap ulama dayah, namun diperlukan sinergi lebih lanjut dengan lembaga formal untuk memperkuat upaya pencegahan perceraian. Penelitian ini menegaskan pentingnya penguatan peran ulama dayah dalam menjaga ketahanan keluarga di Kabupaten Bireuen.