p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Studia Legalia
Anggraeni Wijaya , Karisma
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

REFORMULASI KEWENANGAN PEMERINTAH DAERAH DALAM PENYELESAIAN SENGKETA PILKADES: ANTARA INTERVENSI KEKUASAAN DAN DEMOKRASI DESA Anggraeni Wijaya , Karisma; Zaky Ibrahim , Muhammad
Journal of Studia Legalia Vol. 6 No. 1 (2025): Dinamika Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara dalam Sistem Ketataneg
Publisher : FKPH Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Kewenangan Pemda dalam menyelesaikan sengketa Pilkades menimbulkan dilema antara menjaga stabilitas politik lokal dan menghormati prinsip kemandirian desa. Penelitian ini menganalisis batas intervensi Pemda serta upaya menciptakan keseimbangan antara hukum, demokrasi, dan otonomi desa. Metode penelitian yang digunakan adalah metode hukum normatif dengan pendekatan perundang-undangan dan konseptual untuk menganalisis wewenang Pemerintah Daerah dalam penyelesaian sengketa pemilihan kepala desa. Kewenangan pemerintah daerah dalam menyelesaikan sengketa Pilkades diatur dalam UU Desa dan regulasi terkait. Namun, intervensi Pemda sering memicu dilema antara stabilitas dan otonomi desa. Tantangan utama mencakup batas kewenangan yang tidak jelas, konflik kepentingan, serta kurangnya transparansi dalam penyelesaian sengketa, yang berpotensi melemahkan demokrasi desa. Kewenangan pemerintah daerah dalam sengketa Pilkades harus mengutamakan netralitas, transparansi, dan proporsionalitas guna menjaga keseimbangan antara pengawasan dan penghormatan terhadap demokrasi serta otonomi desa. Kata Kunci: kewenangan pemerintah daerah, sengketa pilkades, otonomi desa ABSTRACT The authority of local governments in resolving village head election (Pilkades) disputes creates a dilemma between maintaining local political stability and respecting the principle of village autonomy. This study analyzes the limits of local government intervention and efforts to create a balance between law, democracy, and village autonomy. The research method used is a normative legal method with a statutory and conceptual approach to analyze the authority of local governments in resolving village head election disputes. The authority of local governments in resolving Pilkades disputes is regulated under the Village Law and related regulations. However, government intervention often triggers a dilemma between stability and village autonomy. The main challenges include unclear authority limits, conflicts of interest, and a lack of transparency in dispute resolution, which have the potential to weaken village democracy. Local government authority in Pilkades disputes should prioritize neutrality, transparency, and proportionality to maintain a balance between supervision and respect for democracy and village autonomy. Keyword: local government authority, pilkades disputes, village autonomy
ANALISIS NILAI KEGUNAAN PADA KONSTRUKSI KONSTITUSI DALAM MENEMPATKAN LINGKUNGAN HIDUP SEBAGAI SUBJEK HUKUM Gilang Saviola , Achmad; Nauval Mufti Rayhan, Alendra; Anggraeni Wijaya , Karisma
Journal of Studia Legalia Vol. 6 No. 1 (2025): Dinamika Hukum Tata Negara dan Hukum Administrasi Negara dalam Sistem Ketataneg
Publisher : FKPH Universitas Brawijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Penurunan kualitas lingkungan hidup akibat aktivitas manusia menimbulkan urgensi untuk meninjau ulang kedudukan hukum lingkungan dalam sistem hukum Indonesia. Tulisan ini membahas konsep Green Constitution sebagai kerangka hukum yang menempatkan lingkungan hidup tidak hanya sebagai objek hukum, tetapi juga berpotensi sebagai subjek hukum yang memiliki hak-hak konstitusional. Dengan menggunakan metode yuridis normatif dan pendekatan konseptual serta perundang-undangan, artikel ini menganalisis bagaimana ketentuan UUD NRI 1945, khususnya Pasal 28H ayat (1), Pasal 33 ayat (3) dan (4), serta UU No. 32 Tahun 2009, menjadi pondasi dalam mendefinisikan status quo lingkungan hidup. Penelitian ini juga menggunakan pisau analisis filsafat hukum utilitarianisme, khususnya pemikiran John Stuart Mill, untuk menilai preferensi nilai guna antara lingkungan hidup sebagai objek dan sebagai subjek hukum. Hasil kajian ini menunjukkan bahwa penempatan lingkungan hidup sebagai subjek hukum melalui perspektif ecocracy memberi kontribusi strategis bagi pelestarian dan perlindungan lingkungan yang berkelanjutan. Kata Kunci: green constitution, lingkungan hidup, subjek hukum, objek hukum. ABSTRACT The degradation of environmental quality due to human activities raises the urgency to re-examine the legal standing of the environment in Indonesia’s legal system. This paper explores the concept of the Green Constitution as a legal framework that views the environment not merely as a legal object but also potentially as a legal subject endowed with constitutional rights. Employing a normative juridical method with conceptual and statutory approaches, this study analyzes the constitutional provisions—specifically Article 28H paragraph (1), Article 33 paragraphs (3) and (4) of the 1945 Constitution of Indonesia, and Law No. 32 of 2009—as the basis for defining the environmental legal status quo. Utilizing the legal philosophy of utilitarianism, particularly the thought of John Stuart Mill, this paper evaluates the utilitarian preference between viewing the environment as a legal object and as a legal subject. The study concludes that recognizing the environment as a legal subject within the ecocracy framework provides strategic value in ensuring sustainable environmental protection and conservation. Keyword: green constitution, environment, legal subject, legal object.