saniatuzzulfa, rahmah
Program Studi Psikologi, Fakultas Psikologi, Universitas Sebelas Maret Surakarta

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

Pelatihan Terapi Realitas Untuk Menurunkan Fear of Failure Serta Meningkatkan Self-Compassion, dan Student Engagement pada Mahasiswa Universitas Sebelas Maret Rebecca Natalia Pratiwi Pangaribuan; Shafaa Hanuun Priyaningtyas; Syifa Syahida Azzahra; Rahmah Saniatuzzulfa
SEMAR (Jurnal Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni bagi Masyarakat) Vol 13, No 1 (2024): Mei
Publisher : LPPM UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/semar.v13i1.81328

Abstract

Terapi realitas menekankan pada tanggung jawab kehidupan tiap individu yang mampu diterapkan pada mahasiswa yang masuk dan terperangkap dalam masa evaluasi diri secara negatif. Beberapa penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa terapi realitas memiliki kemampuan untuk meningkatkan aspek positif dan mengurangi aspek negatif, seperti meningkatkan kemampuan adaptasi, memperbaiki kemampuan mahasiswa dalam mengatasi skripsi, mengurangi kecenderungan prokrastinasi, meningkatkan rasa percaya diri dan kesehatan mental. Oleh karena itu partisipan diharapkan mampu menerapkan teknik terapi realitas dalam upaya meningkatkan self compassion dan student engagement serta menurunkan fear of failure. Berfokus pada mahasiswa dengan self-compassion rendah hingga sedang, fear of failure sedang dan tinggi, dan student engagement sedang hingga rendah, pengabdian ini melibatkan 20 partisipan yang mengikuti empat sesi terapi kelompok. Dengan menggunakan skala Self-Compassion Scale, The Performance Appraisal Failure, dan Student Engagement Scale, penelitian ini menggambarkan peningkatan signifikan pada tingkat self-compassion dan student engagement, sementara tingkat fear of failure menurun setelah intervensi. Terapi kelompok realitas, fokus pada penerimaan realitas dan tanggung jawab, membuktikan efektivitasnya dalam meningkatkan kesejahteraan psikologis mahasiswa. Pelatihan ini memberikan kontribusi dalam memberi intervensi yang lebih efektif terhadap variabel psikologis mahasiswa di tingkat perguruan tinggi, memperkaya pemahaman tentang self-compassion, fear of failure, dan student engagement. Reality therapy emphasizes the life responsibility of each individual and can be applied to incoming students who find themselves trapped in a period of negative self-evaluation. Some previous studies have shown that reality therapy has the ability to enhance positive aspects and reduce negative aspects, such as improving adaptation skills, enhancing students' ability to handle thesis work, reducing procrastination tendencies, boosting self-confidence, and improving mental health. Therefore, participants are expected to be able to apply reality therapy techniques in an effort to increase self-compassion and student engagement while reducing the fear of failure. Focusing on students with low to moderate scores of self-compassion, moderate to high  scores of fear of failure, and moderate to low  scores of student engagement, this study involved 20 participants in four group therapy sessions. Using the Self-Compassion Scale, The Performance Appraisal Failure, and Student Engagement Scale, the research depicts a significant increase in levels of self-compassion and student engagement, while the level of fear of failure decreases after the intervention. Reality group therapy, with a focus on acceptance of reality and responsibility, proves its effectiveness in enhancing the psychological well-being of students. This training contributes to providing more effective interventions for psychological variables in college students, enriching the understanding of self-compassion, fear of failure, and student engagement.
Efektivitas Edukasi Kesehatan Mental Sebagai Upaya Peningkatan Kapasitas Mental Kader Posyandu Remaja Kampung X Surakarta Maisa Rara Pramastri; Khoirunnisa Maulida Rahma; Nisaul Aufa; Prischa Kartikananda; Rahmah Saniatuzzulfa
SEMAR (Jurnal Ilmu Pengetahuan, Teknologi, dan Seni bagi Masyarakat) Vol 13, No 2 (2024): November
Publisher : LPPM UNS

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/semar.v13i2.84813

Abstract

Kerentanan remaja mengalami masalah kesehatan mental menjadi permasalahan global yang penting untuk diperhatikan. Guna memfasilitasi perkembangan remaja secara optimal, dibentuklah program kegiatan posyandu remaja. Ketersediaan posyandu remaja masih terbatas dan belum intens dalam mempromosikan pentingnya kesehatan mental remaja. Di sinilah kader posyandu remaja berperan penting dalam memberikan pelayanan sehingga penting untuk memiliki literasi kesehatan mental yang memadai. Upaya peningkatan kapasitas mental dilakukan melalui metode edukasi kesehatan mental. Penelitian ini bertujuan untuk memfasilitasi edukasi kesehatan mental kader posyandu remaja, meningkatkan partisipasi dan antusias para kader dalam upaya peningkatan kesehatan mental remaja, dan mengetahui tingkat literasi kesehatan mental mereka sebelum dan sesudah edukasi. Peningkatan literasi kesehatan mental kader posyandu remaja ditinjau melalui metode quasi-eksperimen dengan analisis uji Wilcoxon. Berdasarkan populasi dengan kriteria inklusi-eksklusi yang ditentukan, kegiatan dihadiri oleh 17 kader posyandu remaja kampung X Surakarta, sehingga teknik sampling jenuh digunakan. Hasil analisis penelitian menggunakan instrumen Tes Pengetahuan Literasi Kesehatan Mental dengan nilai reliabilitas 0,611 hanya menunjukkan peningkatan rata-rata sebesar 0,36 dengan p=0,444 (<0,05). Meskipun demikian, pelaksanaan program edukasi telah memfasilitasi dan meningkatkan partisipasi serta antusias kader posyandu remaja dalam upaya peningkatan kesehatan mental remaja. Kata kunci: edukasi; kesehatan mental; literasi; remaja
Hubungan antara Psychological Well-Being dan Rasa Syukur dengan Kesepian Mahasiswa Aida Fajriyatin Formaningrum; Rahmah Saniatuzzulfa
Jurnal Ilmiah Psikologi Candrajiwa Vol 9, No 2 (2024): Jurnal Ilmiah Psikologi Candrajiwa
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jip.v9i2.77181

Abstract

Kesepian merupakan masalah psikologis yang tidak bisa dihindari mahasiswa yang kerap menghadapi situasi stres selama perkuliahan dan mengalami kesulitan yang lebih tinggi dari tingkat pendidikan sebelumnya pada emerging adults. Sejumlah faktor bisa memprediksi kesepian, termasuk psychological well-being dan rasa syukur. Teknik proportional stratified random sampling diimplementasikan untuk mengambil sampel pada 200 responden berusia 18-25 tahun yang merupakan mahasiswa aktif Psikologi UNS. Instrumen yang digunakan adalah skala kesepian (α = 0,900), skala psychological well-being (α = 0,762), dan skala rasa syukur (α = 0,838). Hasil analisis menunjukkan nilai Fhitung antara psychological well-being dengan rasa syukur dan kesepian sebesar 62,508 dengan nilai R sebesar 0,623 (p < 0,05). Hasil uji parsial memperlihatkan bahwa secara negatif dan signifikan psychological well-being dan kesepian menunjukkan adanya hubungan dengan koefisien regresi sebesar -0,517 (p<0,05). Hubungan negatif dan signifikan diperlihatkan juga oleh rasa syukur dengan kesepian dengan koefisien regresi sebesar -0,146 (p<0,05). Dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan negatif yang kuat antara psychological well-being dan rasa syukur dengan kesepian, adanya hubungan negatif yang cukup kuat dan signifikan antara psychological well-being dengan kesepian, dan terdapat hubungan negatif yang sangat lemah dan signifikan antara rasa syukur dan kesepian. Studi ini mengungkap bahwa psychological well-being dan rasa syukur penting dalam mengurangi kesepian pada mahasiswa terutama pada psychological well-being yang dampaknya lebih kuat. 
Hubungan Antara Self-compassion dan Student Engagement pada Mahasiswa di Sebuah Universitas Negeri di Surakarta Syifa Syahida Azzahra; Rahmah Saniatuzzulfa
Jurnal Ilmiah Psikologi Candrajiwa Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Ilmiah Psikologi Candrajiwa
Publisher : UNS Press

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/jip.v10i2.101292

Abstract

Student engagement is considered important because it can influence academic achievement and student success in their studies. Student engagement is a form of student responsibility demonstrated through their compliance with regulations and active participation in the learning process. Student engagement is also positively correlated with the level of self-compassion that students exhibit. Self-compassion enables students to treat themselves with kindness and understanding, increasing their motivation to engage in the learning process and facilitating a more positive approach to dealing with difficulties or failures. The purpose of this study was to investigate whether a relationship exists between self-compassion and student engagement among students. This study involved 385 students from a state university in Surakarta. The sampling method employed was convenience sampling, using the Student Engagement Scale (α = 0.747) and the Self-Compassion Scale (α = 0.879) as instruments. The results of the study, using the product-moment Pearson correlation test, showed that the sig value was 0.000 and the r value was 0.402, indicating a significant relationship between self-compassion and student engagement among students. The implications of these results are the importance of developing self-compassion skills in students, as an increase in self-compassion can help them manage academic stress, enhance learning motivation, and encourage more active involvement in both academic and non-academic activities.
Penerimaan dan Kualitas Hidup Caregiver dengan Kekambuhan pada Pasien Rawat Jalan Skizofrenia Medina Hayati; Rin Widya Agustin; Rahmah Saniatuzzulfa
Philanthropy: Journal of Psychology Vol. 5 No. 2 (2021)
Publisher : Faculty of Psychology, Universitas Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26623/philanthropy.v5i2.3171

Abstract

Abstract. Relapse is a state of recurrence and worsening symptom experienced by patient. Acceptance and quality of life of caregivers can affect their attitude toward patient and might be affecting the possibility of schizophrenia relapse. This study intended to seek the correlation between caregiver s acceptance and quality of life with relapse of schizophrenia outpatient in Surakarta Regional Psychiatric Hospital that involved 35 caregivers with incidental sampling technique. The measurement used on this study are BPRS for assessing schizophrenia relapse (α = 0,908), Caregiver Acceptance Scale (α = 0,934), and Caregiver Quality of Life Scale (α = 0,960). This study used multiple linear regression analysis to analyze the output. Based on the data showed that the level of acceptance and quality of life perceived by caregivers didn t affect the likelihood of relapse of schizophrenia outpatient in Surakarta Regional Psychiatric Hospital.Keywords: Acceptance, Caregiver, Schizophrenia Relapse, Quality of LifeAbstrak. Relapse merupakan keadaan muncul kembali dan bertambah parah simptom yang dialami oleh pasien skizofrenia. Penerimaan dan kualitas hidup dari caregiver dapat mempengaruhi sikapnya dalam merawat pasien sehingga mungkin mempengaruhi kemungkinan terjadinya relapse. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara penerimaan dan kualitas hidup caregiver dengan relapse pada pasien rawat jalan skizofrenia di RSJ Daerah Surakarta yang melibatkan 35 caregiver dengan teknik incidental sampling. Instrumen yang digunakan adalah Skala Relapse Skizofrenia (α = 0,908), Skala Penerimaan Caregiver (α = 0,934), dan Skala Kualitas Hidup Caregiver (α = 0,960). Analisis data dalam penelitian ini menggunakan uji regresi linear berganda. Berdasarkan hasil data penelitian menunjukkan bahwa tingkatan penerimaan dan kualitas hidup dari caregiver tidak memiliki pengaruh terhadap munculnya relapse pada pasien rawat jalan skizofrenia di RSJ Daerah Surakarta.Kata Kunci: Caregiver, Kualitas Hidup, Penerimaan, Relapse Skizofrenia