Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kadar Sitokin pada Dengue Hemorrhagic Fever Antari, Ni Komang Rani Juli
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.47053

Abstract

Disregulasi sitokin memainkan peran utama dalam patogenesis demam berdarah dengue (DBD), yang memengaruhi derajat keparahan penyakit melalui interaksi imun yang kompleks. Studi terbaru mengungkapkan profil sitokin yang berbeda antara demam dengue (DF) dan DBD, dengan implikasi pada luaran klinis dan strategi terapeutik. Metode penelitian ini adalah studi literatur dengan menggunakan pendekatan scoping review. Subjek penelitian ini adalah kumpulan literatur yang berisi penelitian terdahulu yang berkaitan dengan judul penelitian ini. Sumber literatur berjumlah 10 jurnal yang diperoleh melalui penelusuran menggunakan database yang terdiri dari Pubmed, Google Scholar, NCBI, dan ScienceDirect. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa disregulasi sitokin sangat penting dalam patogenesis demam berdarah dengue (DBD), dengan peningkatan kadar sitokin proinflamasi seperti TNF-α dan IL-6 yang berkorelasi dengan tingkat keparahan penyakit. Infeksi sekunder menunjukkan kadar sitokin yang jauh lebih tinggi dibandingkan dengan infeksi primer, yang mengindikasikan respons inflamasi yang lebih kuat. Infeksi DENV2 dikaitkan dengan profil sitokin yang lebih kuat dan tingkat keparahan yang lebih besar daripada DENV1. Ketidakseimbangan antara sitokin pro-inflamasi dan anti-inflamasi, terutama tingkat IL-10 yang lebih rendah pada DBD, berkontribusi terhadap disfungsi endotel dan kebocoran plasma. Dengan menargetkan keseimbangan sitokin diharapkan dapat memberikan potensi terapi, sehingga menyoroti perlunya penelitian lebih lanjut mengenai dinamika sitokin dan perannya dalam DBD.
Pengaruh Vitamin D pada Diabetes Mellitus Tipe 2 dan Gagal Ginjal Kronik Antari, Ni Komang Rani Juli
Jurnal Ners Vol. 9 No. 3 (2025): JULI 2025
Publisher : Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jn.v9i3.47054

Abstract

Vitamin D berperan penting dalam menjaga kesehatan secara keseluruhan, terutama dalam pengelolaan dan pencegahan penyakit kronis seperti diabetes mellitus tipe 2 (T2DM) dan penyakit ginjal kronis (PGK). Metode penelitian ini adalah studi literatur dengan menggunakan pendekatan scoping review. Subjek penelitian ini adalah kumpulan literatur yang berisi penelitian terdahulu yang berkaitan dengan judul penelitian ini. Sumber literatur berjumlah 10 jurnal yang diperoleh melalui penelusuran menggunakan database yang terdiri dari Pubmed, Google Scholar, NCBI, dan ScienceDirect. Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa vitamin D memiliki peran penting dalam pengelolaan penyakit kronis seperti diabetes tipe 2 dan gagal ginjal kronis. Vitamin D mempengaruhi sensitivitas insulin dan sekresi insulin, yang keduanya penting dalam pengembangan dan pengelolaan diabetes tipe 2. Kekurangan vitamin D terkait dengan penurunan pelepasan insulin, resistensi insulin, dan disfungsi sel beta, yang merupakan ciri khas diabetes tipe 2. Vitamin D juga berperan dalam melindungi ginjal dengan mengurangi fibrosis dan peradangan, serta mengatur sistem renin-angiotensin-aldosterone yang terkait dengan tekanan darah dan fungsi ginjal. Suplementasi vitamin D dapat meningkatkan sensitivitas insulin dan fungsi sel beta pada individu dengan risiko tinggi atau baru didiagnosis diabetes tipe 2. Namun, bukti dari uji klinis acak masih bervariasi, dengan beberapa menunjukkan perbaikan pada kontrol glikemik. Secara keseluruhan, vitamin D menawarkan potensi terapeutik sebagai terapi tambahan untuk mengelola diabetes tipe 2 dan gagal ginjal kronis.
Peran Anifrolumab dan Belimab pada Sle Antari, Ni Komang Rani Juli
Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia Vol. 5 No. 6 (2025): Cerdika: Jurnal Ilmiah Indonesia
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/cerdika.v5i6.2669

Abstract

Anifrolumab adalah antibodi monoklonal yang menargetkan subunit reseptor interferon tipe I dan telah digunakan sebagai terapi untuk penyakit lupus eritematosus sistemik (SLE). Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas dan keamanan anifrolumab pada pasien SLE melalui pendekatan tinjauan pustaka. Data diperoleh dari database PubMed dan Google Scholar dengan menggunakan kata kunci “anifrolumab” dan “systemic lupus erythematosus” dalam rentang publikasi sepuluh tahun terakhir. Berdasarkan analisis dari beberapa uji klinis, anifrolumab menunjukkan peningkatan aktivitas pengobatan yang lebih signifikan dibandingkan plasebo. Dalam salah satu uji klinis fase III utama (TULIP-2), anifrolumab menunjukkan tingkat respons BICLA (British Isles Lupus Assessment Group-based Composite Lupus Assessment) sebesar 47,8% dibandingkan dengan 31,5% pada kelompok plasebo. Selain itu, penurunan dosis kortikosteroid hingga ?7,5 mg/hari tercapai pada 51,5% pasien yang menerima anifrolumab, dibandingkan dengan hanya 30,2% pada kelompok plasebo. Temuan ini menunjukkan bahwa anifrolumab efektif dalam menurunkan aktivitas penyakit dan kebutuhan terhadap kortikosteroid pada pasien SLE. Namun demikian, kejadian efek samping seperti infeksi saluran pernapasan atas dan herpes zoster lebih sering dilaporkan pada kelompok anifrolumab. Kesimpulannya, anifrolumab terbukti memiliki efektivitas yang baik dalam meningkatkan respons klinis pada pasien SLE, meskipun risiko infeksi tertentu tetap perlu dimonitor secara cermat selama penggunaannya.