Claim Missing Document
Check
Articles

Found 11 Documents
Search

Efisiensi Penyisihan Logam Fe Dengan Menggunakan Instalasi Pengolahan Lindi Compact (IPLC) Agriani, Septi; Rachmawati S Dj, -
Jurnal Rekayasa Hijau Vol 2, No 1 (2018)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Institut Teknologi Nasional

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (598.899 KB) | DOI: 10.26760/jrh.v2i1.2047

Abstract

ABSTRAKLindi berasal dari proses dekomposisi sampah yang mengandung materi tersuspensi, terlarut, dan terekstraksi, sehingga kandungan lindi sangat berbahaya. Pada penelitian ini akan diteliti logam Fe yang terdapat dalam lindi TPA Sarimukti serta parameter pendukung, seperti pH, suhu, DO, kekeruhan dan TSS. Pengolahan dilakukan dengan menggunakan reaktor Instalasi Pengolahan Lindi Compact (IPLC) secara semi kontinu dengan kombinasi antara anaerob dan aerob. Waktu detensi yang digunakan, yaitu 31,33 jam yang didapatkan dari tracer test. Proses seeding dan aklimatisasi dilakukan menggunakan bakteri fakultatif, dengan dua media lekat, yaitu kaldness dan bioball. Berdasarkan dari karakteristik awal didapatkan beberapa parameter yang tidak memenuhi baku mutu Peraturan Menteri Lingkungan Hidup Tahun 2016 Tentang Baku Mutu Lindi Bagi Usaha dan/atau Kegiatan Tempat Pemrosesan Akhir Sampah, yaitu BOD5 sebesar 1.071,55-1.593,29 mg/l, COD sebesar 4.800-6.400 mg/l dan TSS sebesar 470-556 mg/l. Berdasarkan hasil penelitian, IPLC mampu menyisihkan Fe sebesar 53,87% dari konsentrasi awal.Kata kunci: Air Lindi, Logam Berat, IPL Compact, SarimuktiABSTRACTLeachate originates from waste decomposition process which contains suspended, dissolved, and extracted material, so that leachate content is considered as hazardous. In this research, leachate was obtained from municipal solid waste (TPA) Sarimukti. Parameters to be studied is heavy metals Fe which contained in the leachate from TPA Sarimukti. In addition several supporting parameters, such as pH, temperature, DO, turbidity and TSS are studied. The treatment was carried out using a pilot plant scale reactor of Leachate Compact Processing Plant (IPLC), operated semi-continuously using biological, physical and chemical processing systems as well as anaerobic-aerobic configurations. The detention time used were 31,33 hours which was obtained from the tracer test. The seeding and acclimatization process was carried out using facultative bacteria, with two sticky media, caldness and bioball. Based on the results, IPLC was able to eliminate Fe by 53,87% from the initial concentration.Keywords: Leachate, Heavy Metal, IPL Compact, Sarimukti
Ketercapaian Sasaran 4K dalam Pelaksanaan Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) di PDAM Tirta Dharma Kota Malang SHANTY, DEWI; S DJ, RACHMAWATI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (895.482 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v8i2.112-120

Abstract

AbstrakPDAM Kota Malang sebagai sarana penyedia air minum di Kota Malang, diharapkan mampu mencapai target Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019, yaitu akses terhadap air minum mencapai 100% di tahun 2019. Upaya yang dapat dilakukan untuk mencapai target tersebut, yaitu melalui Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM), dengan memperhatikan sasaran aspek 4K (kualitas, kuantitas, kontinuitas, dan keterjangkauan). Sasaran 4K tersebut, yaitu K1 sebagai acuan air minum yang layak dikonsumsi, K2 sebagai jumlah air minimum yang dikonsumsi masyarakat dengan memperhitungkan kehilangan air, K3 sebagai acuan pengaliran tak terputus selama 24 jam, dan K4 sebagai kesanggupan masyarakat untuk membayar harga air sesuai dengan tarif air yang telah diberlakukanberdasarkan peraturan yang dipersyaratkan. Hasil evaluasi menunjukkan PDAM Kota Malang telah mencapai sasaran 4K dan mampu melaksanakan RPAM. Hal tersebut didukung oleh sistem online yang telah dikembangkan untuk menjamin keamanan pendistribusian air minum kepada masyarakat.Kata kunci: PDAM Kota Malang, RPAM, Sasaran 4K  AbstractPDAM Kota Malang as a drinking water supply in Malang City, is expected to reach the target of National Medium Term Development Plan (RPJMN) 2015-2019, that is access to drinking water reaches 100% in 2019. The efforts that can be conducted to achieve the target through the Drinking Water Security Plan (RPAM), by focusing on 4K aspects(quality, quantity, continuity and affordability). The 4K aspects, such as K1 as a reference for drinking water that is suitable for consumption, K2 as the minimum amount of water consumed by the community taking into water losses, K3 as a reference for uninterrupted for 24 hours, and K4 as the ability of the community to pay the price of water based on the regulations required. The evaluation results show that PDAM Kota Malang reached the 4K aspects and be able to implement RPAM. This is supported by an online system that has been developed to safe the distribution of drinking water to the public.Keywords: PDAM Kota Malang, RPAM, 4K Aspects
Pemilihan Alternatif Jaringan Distribusi di Kelurahan Batununggal dan Mengger, Kecamatan Bandung Kidul, Kota Bandung HAKASPENO, ALYES HAKASPENO; S.DJ, RACHMAWATI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 9, No 1 (2021)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (741.752 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v9i1.11-22

Abstract

AbstrakKelurahan Batununggal dan Mengger merupakan daerah cakupan pelayanan PDAM Tirtawening, dengan jumlah penduduk pada tahun 2016 sebanyak 29.190 jiwa. Walaupun tingkat pelayanan jaringan distribusi air minum daerah tersebut sebesar 24%, tetapi pipa eksisting merupakan pipa asbes yang tua. Oleh karena itu perlu dilakukan perencanaan baru agar daerah tersebut dapat terlayani oleh jaringan PDAM dengan memanfaatkan sumber air dari IPA Cikalong. Periode perencanaan adalah 20 tahun, sampai dengan tahun 2039. Proyeksi total kebutuhan air rata-rata untuk tahun 2039 adalah sebesar 80,13 l/dtk. Perencanaan jaringan distribusi dilakukan dengan membuat 3 alternatif jaringan. Dari ketiga alternatif ini dipilih salah satu alternatif terbaik secara hidrolis dengan menggunakan metode Weight Ranking Technique (WRT). Analisis hidrolis dilakukan dengan menggunakan aplikasi Epanet 2.0, yang mengacu kepada kriteria sesuai dengan Permen PU No.18 Tahun 2007. Alternatif terpilih untuk wilayah perencanaan adalah alternatif ke-3, yaitu yang menggunakan pola gabungan (cabang dan loop). Dari hasil analisis hidrolis diperoleh sisa tekan, kecepatan aliran, dan headloss sebesar berturut-turut 15,89 m – 41,60 m,  0,33 m/dtk – 2,08 m/dtk dan  9,88 m/km. Pipa yang digunakan adalah jenis High Density Polyethylene (HDPE) SDR 17 PN 10. Kata Kunci: Air Minum, Analisis Hidrolis, Jaringan Distribusi.AbstractBatununggal and Mengger Sub-Districts are areas that meet the services of the Tirtawening PDAM, with a total population in 2016 of 29,190 people. Although the service level of the drinking water distribution network is 24%, the existing pipes are old asbestos pipes. Therefore, new planning needs to be done so that it can be served by PDAMs using sources from the Cikalong WTP. The planning period is 20 years, until 2039. The projected total average air demand for 2039 is 80.13 l / sec. Distribution network planning is done by making 3 alternative networks. From one of these alternatives Choose one of the best alternatives using the Weight Ranking Technique (WRT) method. Hydraulic analysis is carried out using the Epanet 2.0 application, which refers to criteria in accordance with Permen PU No.18 of 2007. The alternative chosen for regional planning is the 3rd alternative, which uses a pattern combination (branch and loop). From the results of the hydraulic analysis the remaining compressive pressures, flow velocity, and headloss were agreed at 15.89 m - 41.60 m, 0.33 m / sec - 2.08 m / sec and 9.88 m / km. The pipe used is the type of High Density Polyethylene (HDPE) SDR 17 PN 10. Keywords: Drinking Water, Hydraulic Analysis, Distribution Networks.
Evaluasi Pelaksanaan dan Manfaat Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) Operator di PDAM Kota Payakumbuh PRAGA, BELINDA; S DJ, RACHMAWATI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (883.248 KB) | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v8i2.101-111

Abstract

AbstrakPDAM Kota Payakumbuh diharapkan dapat mengalirkan air minum yang aman bagi masyarakat. Hal tersebut mengacu pada target RPJMN 2015-2019; dimana pada tahun 2019 harus tercapai 100% akses air minum yang aman dilihat dari aspek 4K. Diperlukan suatu upaya untuk dapat mengamankan air minum, mulai dari sumber air baku hingga pelanggan. Program Kementerian PUPR, yakni RPAM dapat menjadi solusi untuk mengamankan air minum dari sumber hingga pelanggan melalui pendekatan analisis dan manajemen risiko. Evaluasi RPAM dilakukan untuk mengetahui capaian pemenuhan aspek 4K; sehingga dapat diketahui apakah upaya tindakan pengendalian yang dilakukan telah berjalan efektif atau belum; dengan begitu selanjutnya dapat dilakukan rekomendasi terkait upaya yang dapat diterapkan untuk meningkatkan capaian pemenuhan aspek 4K. Capaian pemenuhan aspek 4K tahun 2013- 2016 belum terpenuhi. Hal tersebut dikarenakan masih terdapat tindakan pengendalian yang belum berjalan  efektif dalam menangani kejadian bahaya dan risiko yang terjadi.Kata kunci: RPAM, PDAM Kota Payakumbuh, Aspek 4KAbstractPDAM Payakumbuh expected to deliver safe drinking water for the community. This refers to the target RPJMN 2015-2019; where in 2019 must reach 100% access to safe drinking water viewed from 4K aspect. Therefore, an effort is needed to secure drinking water, from raw water sources to customers. Government programs issued through the PUPR Ministry, namely RPAM can be a solution to secure drinking water from source to customer through a risk analysis and management approach. Evaluation of RPAM implementation is done to know the achievement of 4K aspect; so it can be seen whether the efforts of the control measures carried out have been effective or not; with subsequent recommendations can be made related to what efforts can be applied to improve the achievement of 4K aspects. The achievement of 4K aspect in 2013-2015 has not been fulfilled. This is because there are still control measures that have not been effective in dealing with hazard events and risks that occur. Keywords: RPAM, PDAM Payakumbuh, Aspects 4K
Karakteristik Kualitas Air Baku & Lumpur sebagai Dasar Perencanaan Instalasi Pengolahan Lumpur IPA Badak Singa PDAM Tirtawening Kota Bandung Sarah Az Zahra; Rachmawati S.Dj; Eka Wardhani
Jurnal Reka Lingkungan Vol 2, No 2 (2014)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v2i2.%p

Abstract

AbstrakDengan dibuangnya lumpur IPA Badak Singa ke Sungai Cikapundung, maka diperlukan Instalasi Pengolahan Lumpur (IPL) agar mengurangi resiko terjadinya pencemaran dan pendangkalan sungai. Untuk dasar perencanaan IPL, diperlukan pengukuran kekeruhan air baku, dosis optimum PAC pada pencampuran air baku & backwash, Total Suspended Solid (TSS) air baku, %Total Solid (TS) lumpur, %Volatile Solid (VS) lumpur, berat jenis lumpur, dan alumunium total lumpur. Pengukuran tersebut menggunakan metode nefelometri, jar-test, gravimetri, piknometri, dan Spektrofotometer Serapan Atom (SSA). Hasil pengukuran menunjukkan kekeruhan air baku 17,2 NTU, dosis optimum PAC 20 mg/L, TSS air baku 40 mg/L, %TS, berat jenis, dan kadar alumunium lumpur accelator, lumpur sedimentasi, lumpur gabungan masing-masing sebesar 2,5412%, 6,9166%, 1,8104%; 1,0187 g/mL, 1,0355 g/mL, 1,0084 g/mL; dan 4.794 mg/L, 8.300 mg/L, 2.738 mg/L. Perbandingan antara kekeruhan terhadap TSS air baku, berat jenis lumpur, dan %TS lumpur, ketiganya sudah memenuhi range karakteristik lumpur berdasarkan literatur. Kadar alumunium yang cukup tinggi menunjukkan diperlukannya peraturan mengenai effluent lumpur IPA. Dosis optimum PAC sebesar 20 mg/L menunjukkan bahwa air backwash dapat di-reuse ke dalam air baku.  Kata kunci: air baku, lumpur, dasar perencanaan IPL
Evaluasi Pelaksanaan dan Manfaat Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) Operator di PDAM Kota Payakumbuh BELINDA PRAGA; RACHMAWATI S DJ
Jurnal Reka Lingkungan Vol 8, No 2 (2020)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v8i2.101-111

Abstract

AbstrakPDAM Kota Payakumbuh diharapkan dapat mengalirkan air minum yang aman bagi masyarakat. Hal tersebut mengacu pada target RPJMN 2015-2019; dimana pada tahun 2019 harus tercapai 100% akses air minum yang aman dilihat dari aspek 4K. Diperlukan suatu upaya untuk dapat mengamankan air minum, mulai dari sumber air baku hingga pelanggan. Program Kementerian PUPR, yakni RPAM dapat menjadi solusi untuk mengamankan air minum dari sumber hingga pelanggan melalui pendekatan analisis dan manajemen risiko. Evaluasi RPAM dilakukan untuk mengetahui capaian pemenuhan aspek 4K; sehingga dapat diketahui apakah upaya tindakan pengendalian yang dilakukan telah berjalan efektif atau belum; dengan begitu selanjutnya dapat dilakukan rekomendasi terkait upaya yang dapat diterapkan untuk meningkatkan capaian pemenuhan aspek 4K. Capaian pemenuhan aspek 4K tahun 2013- 2016 belum terpenuhi. Hal tersebut dikarenakan masih terdapat tindakan pengendalian yang belum berjalan  efektif dalam menangani kejadian bahaya dan risiko yang terjadi.Kata kunci: RPAM, PDAM Kota Payakumbuh, Aspek 4KAbstractPDAM Payakumbuh expected to deliver safe drinking water for the community. This refers to the target RPJMN 2015-2019; where in 2019 must reach 100% access to safe drinking water viewed from 4K aspect. Therefore, an effort is needed to secure drinking water, from raw water sources to customers. Government programs issued through the PUPR Ministry, namely RPAM can be a solution to secure drinking water from source to customer through a risk analysis and management approach. Evaluation of RPAM implementation is done to know the achievement of 4K aspect; so it can be seen whether the efforts of the control measures carried out have been effective or not; with subsequent recommendations can be made related to what efforts can be applied to improve the achievement of 4K aspects. The achievement of 4K aspect in 2013-2015 has not been fulfilled. This is because there are still control measures that have not been effective in dealing with hazard events and risks that occur. Keywords: RPAM, PDAM Payakumbuh, Aspects 4K
Tipikal Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) Operator Untuk Sumber Air Baku Dari Mata Air VADEL AVICENA IQBAL; RACHMAWATI S.DJ
Jurnal Reka Lingkungan Vol 7, No 1 (2019)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v7i1.35-46

Abstract

AbstrakPada Tahun 2015, pemerintah membuat Rencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN), dengan target 100% akses air minum untuk semua penduduk indonesia hingga pada tahun 2019, dengan menggunakan salah satu strategi yaitu meningkatkan efisiensi pelayanan air minum melalui RPAM yang memenuhi prinsip 4K (kualitas, kuantitas, kontinuitas dan keterjangkauan). Tahun 2012 Kementerian PUPR mengeluarkan manual RPAM-Operator untuk menyusun RPAM dan dapat digunakan untuk semua jenis sumber air baku. Manual RPAM-Operator yang dikeluarkan oleh kementerian PUPR yang ada pada saat ini masih bersifat umum karena sumber air baku yang digunakan lebih dari satu, maka dengan adanya bentuk tipikal RPAM-Operator untuk sumber air baku dari mata air, diharapkan dapat mempermudah PDAM dalam menyusun dokumen RPAM sehingga target RPJMN tahun 2019 dapat tercapai. Penyusunan dokumen tipikal RPAM ini dilakukan dengan mengkompilasi dokumen RPAM-Operator PDAM Kota Payakumbuh, Kota Bandung, Kota Salatiga, Kota Malang serta Kabupaten Bandung. Dari hasil penyusunan bentuk tipikal RPAM Operator untuk sumber air baku dari mata air, didapat 48 kejadian bahaya dan 44 rencana perbaikan yang dapat digunakan PDAM penyelenggara sebagai acuan dalam penyusunan RPAM di perusahaannya. Kata kunci: RPAM, PDAM, Mata Air, Water Safety Plan.
Penyusunan Rantai Pasok pada Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM) Operator untuk Sumber Mata Air di PDAM Tirta Raharja Kabupaten Bandung ARINA NUR AZIZAH; RACHMAWATI S.DJ; DYAH ASRI HANDAYANI
Jurnal Reka Lingkungan Vol 6, No 1 (2018)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v6i1.%p

Abstract

AbstrakRencana Pembangunan Jangka Menengah Nasional (RPJMN) 2015-2019 menetapkan target 100% akses sumber air bersih dengan tujuan terpenuhinya penyediaan air minum untuk memenuhi kebutuhan masyarakat.Seiring dengan target RPJMN, PP No. 122 tahun 2015 menyatakan bahwa pemerintah wajib menjamin ketersediaan air baku yang memenuhi baku mutu yang ditetapkan untuk penyediaan air minum sesuai dengan peraturan. PDAM Tirta Raharja Kab. Bandung sebagai objek kajian, memiliki 9 Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM) dengan 12 titik sumber air baku mata air  yang menghasilkan debit produksi total sebesar 118 L/detik yang berpotensi dan selain itu memiliki beberapa kejadian bahaya yang berkaitan dengan aspek penyediaan air minum.Dokumen Rencana Pengamanan Air Minum (RPAM)adalah adaptasi dari program Water Safety Plan (WSP) WHOsebagai upaya mitigasi kejadian bahaya yang digagas oleh pemerintah. Komponen awal RPAM adalah pembuatan rantai pasok.Rantai pasoksebagai pokok kajian memiliki tujuan untuk mendeskripsikan setiap komponenunit Sistem Penyediaan Air Minum (SPAM). Penyusunan dilakukan dengan cara inventarisasi dari dokumen PDAM terkait, observasi lapangan, dan wawancara dengan pihak PDAM. Kajian ini menghasilkan 9 buah rantai pasok yang terbagi berdasarkan tingkat kompleksitas SPAM, merujuk pada jumlah dan jenis unit SPAM serta wilayah pelayanan SPAM. Adapun klasifikasi yang diperoleh adalah satu buah rantai pasok kompleks, lima buah rantai pasok menengah, dan tiga buah rantai pasok sederhana. Rantai pasok dapat menjadi referensi bagi PDAM untukmelakukan identifikasi kejadian bahaya dan risiko yang dapat ditimbulkan.Kata kunci: Rantai Pasok, SPAM, RPAM, Mata Air, PDAM Tirta Raharja Kab. Bandung.
Perbandingan Potensi Berat dan Volume Lumpur yang Dihasilkan oleh IPA Badak Singa PDAM Tirtawening Kota Bandung Menggunakan Data Sekunder dan Primer Riska Pratiwi; Rachmawati S.DJ; Kancitra P
Jurnal Reka Lingkungan Vol 3, No 1 (2015)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v3i1.%p

Abstract

AbstrakMerencanakan sistem pengolahan lumpur, memerlukan kuantitas lumpur sebagai dasar perencanaan. Kuantitas lumpur dapat dihitung menggunakan data sekunder maupun primer. Perbandingan hasil perhitungan dengan menggunakan kedua data tersebut, diharapkan dapat diperoleh potensi berat dan volume lumpur yang mempresentasikan kondisi sebenarnya, sehingga dapat dijadikan sebagai dasar perencanaan sistem pengolahan lumpur yang efektif. Kedua jenis data tersebut memiliki kelebihan. Kelebihan data sekunder, informasi yang diperoleh merupakan data deret waktu sehingga lebih representatif, sedangkan data primer merupakan gambaran karakteristik sebenarnya di lapangan. Sehingga kedua data tersebut akan digunakan untuk perhitungan kuantitas lumpur. Data sekunder yang digunakan terdiri dari kapasitas air baku yang diolah, kekeruhan air baku, serta dosis PAC yang ditambahkan, sedangkan data primer yang akan digunakan adalah besarnya persen padatan solid dan specific gravity pada lumpur. Potensi berat lumpur pada kondisi rata-rata sebesar 19.602,12 kg/hari dengan volume sebesar 515,41 m3/hari, sedangkan pada kondisi maksimum berat lumpur sebesar 46.306,03 kg/hari dengan volume 1.217,56 m3/hari. Kata kunci: Berat Lumpur, Volume Lumpur, Data Sekunder, Data Primer.
Perencanaan Unit Pengolahan Air Bersih di Kecamatan Sumedang Selatan Dita Andini; Rachmawati S.DJ; Siti A
Jurnal Reka Lingkungan Vol 5, No 2 (2017)
Publisher : Institut Teknologi Nasional, Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26760/rekalingkungan.v5i2.%p

Abstract

ABSTRAKPasokan air minum berkualitas di Kecamatan Sumedang Selatan hingga saat ini masih kurang. Hal ini berbanding terbalik dengan semakin meningkatnya pertumbuhan penduduk pertahunnya. Sehingga perlu adanya pemenuhan air minum baik kualitas maupun kuantitasnya. Pemenuhan kualitas yang dimaksud dilakukan dengan membangun unit pengolahan air minum yang baru dengan periode perencanaan selama 20 tahun (2015–2035). Sedangkan pemenuhan kuantitas yaitu dengan memanfaatkan dua sumber yang dapat digunakan yaitu Mata Air Ciguling (40 Lt/det) sebagai sumber eksisting dan Sungai Citekin (195,97 Lt/det) sebagai sumber perencanaan. Dari hasil proyeksi, jumlah penduduk pada tahun 2035 sebanyak 117.758 penduduk, dengan kebutuhan maksimum per hari 177,11 Lt/det. Debit yang akan diolah pada perencanaan ini sebanyak 137,11 Lt/det dari Sungai Citekin karena adanya pengurangan dari Qmin 40 Lt/det di Mata Air Ciguling. Kualitas air Sungai Citekin terdapat 5 parameter yang melebihi standar baku mutu yaitu Total Suspended Solid (TSS), kekeruhan, besi, mangan dan fecal coli. Hasil analisis ditentukan unit pengolahan pada alternatif 1 dengan menggunakan metode Weight Rating Technique (WRT) yaitu intake, koagulasi, flokulasi dengan dosis PAC 40 mg/lt, sedimentasi, filtrasi dan desinfeksi dengan RAB yang diperlukan sebesar Rp 4.500.000.000.Kata kunci: proyeksi penduduk, proyeksi kebutuhan air, desain unit pengolahan