Kebun Binatang A merupakan salah satu destinasi wisata edukatif, konservasi, serta rekreasi di Kota Bandung yang diresmikan langsung oleh Gubernur Jenderal Hindia Belanda pada 12 April 1933. Dengan lebih dari 800 spesies satwa yang tersebar di area seluas 14 hektar kebun binatang ini menawarkan kesempatan bagi pengunjung untuk belajar tentang berbagai macam satwa, baik dari dalam negeri maupun luar negeri. Kebun Binatang A mengalami penurunan jumlah pengunjung setelah pandemi COVID-19 dari 4.000 pengunjung per hari menjadi 400 hingga 2.000 pengunjung. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis sejauh mana daya tarik wisata, termasuk atraksi, aksesibilitas dan jasa pendukung pariwisata lain, mempengaruhi keputusan berkunjung masyarakat, dalam rangka mengembangkan strategi efektif untuk meningkatkan jumlah kunjungan. Metode penelitian yang digunakan adalah deskriptif dengan pendekatan kuantitatif dan pengumpulan data melalui kuesioner yang dirancang berdasarkan daya tarik dan keputusan berkunjung. Jumlah sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah 104 responden, yang dipilih secara acak dari pengunjung yang pernah berkunjung ke Kebun Binatang A. Penelitian ini mencakup berbagai uji, yaitu uji validitas, uji reliabilitas, serta analisis statistik deskriptif dan model analisis data PLS-SEM untuk menilai hubungan daya tarik wisata terhadap keputusan berkunjung. Hasil penelitian menunjukkan bahwa daya tarik wisata berkontribusi dengan pengaruh sebesar 28,3% sedangkan sisanya 71,7% dipengaruhi oleh faktor lain yang bersifat positif, semakin besar daya tarik yang dirasakan pengunjung, semakin tinggi pula kemungkinan keputusan berkunjung masyarakat. Pengelola disarankan untuk mempertimbangkan layanan dan fasilitas guna menarik lebih banyak pengunjung serta memperkuat daya tarik kebun binatang sebagai tujuan wisata edukatif dan rekreatif.