Utami, Nuraniki Afif
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Awal Mula Jayengan Kampung Permata ditetapkan menjadi Kampung Wisata Tahun 2015-2024 Utami, Nuraniki Afif; Utami, Nurul Huda; Kaafi, Surya Syaukaany
Jurnal Pattingalloang Vol 11, No. 3, Desember 2024
Publisher : Universitas Negeri Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26858/pattingalloang.v11i3.61087

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui bagaimana awal mula Jayengan kampung permata ditetapkan menjadi kampung wisata. Pertanyaan penelitian yang diajukan berupa hal istimewa apa saja yang menjadikan Jayengan kampung ditetapkan menjadi kampung wisata serta Hambatan apa saja yang menghalangi dalam proses perkembangan Jayengan kampung permata. Penelitian ini menggunakan metode penelitian sejarah mulai dari pengumpulan data, kritik dan seleksi sumber hingga dengan interpretasi dan historiografi. Analisis data yang dilakukan menggunakan pendekatan deskriptif untuk menggambarkan fenomena tersebut secara rinci. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pada Jayengan kampung permata memiliki beberapa hal menarik seperti adanya bubur Samin khas Banjar, penghasil permata, bangunan Masjid Darussalam, sebagai pusat kuliner yang kemudian hal tersebut mendorong Jayengan kampung permata menjadi kampung wisata. Pada pengembangannya sendiri, pemerintah Kota Solo ikut berperan dalam pengembangannya. karena di JKP memiliki hambatan berupa kurang kompaknya pengusaha besar dan rendahnya semangat masyarakat dalam mengembangkan JKP. Bahkan dari hasil wawancara yang telah dilaksanakan, Jayengan telah berusaha untuk membangun museum yang hingga saat ini telah mencapai 50% dari tahap penyelesaian.Kata Kunci : Jayengan, Kampung Wisata, Permata, Perkembangan AbstrakThis research aims to find out how the beginning of Jayengan gem village was determined to be a tourist village. The research questions asked were what special things made Jayengan village become a tourist village and what obstacles hindered the development process of Jayengan gem village. This research uses historical research methods ranging from data collection, criticism and selection of sources to interpretation and historiography. The data analysis used a descriptive approach to describe the phenomenon in detail. The results showed that Jayengan gem village has several interesting things such as the existence of Banjar's special Samin porridge, gem producers, the Darussalam Mosque building, as a culinary center which then encouraged Jayengan gem village to become a tourist village. In its own development, the Solo City government played a role in its development. because JKP has obstacles in the form of lack of cooperation from large entrepreneurs and low community enthusiasm in developing JKP. Even from the results of interviews that have been carried out, Jayengan has tried to build a museum which has reached 50% of the completion stage.Keywords: Jayengan, tourist village, Permata, development
Values of Struggle in The Novel Bunga Di Hari Lalu by Galih Pranata Utami, Nuraniki Afif
Yupa: Historical Studies Journal Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : Program Studi Pendidikan Sejarah FKIP Universitas Mulawarman

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30872/yupa.v10i1.5705

Abstract

This study examines the values of struggle in Galih Pranata’s novel Bunga di Hari Lalu through a sociological approach to literature. The novel not only presents the love story of Soediro and Prillie, but also portrays the social realities experienced by indigenous people in the Dutch East Indies in the early twentieth century. Soediro is depicted as an intellectual who struggles through education, literacy, and social awareness. The findings show values of resistance to discrimination, perseverance, nationalism, education as a means of struggle, and morality. These values remain relevant beyond the colonial context and may inspire the present generation in facing social and educational challenges. Bunga di Hari Lalu therefore functions not only as a literary work, but also as a historical reflection and a source of inspiration for intellectual struggle.