Dermatofitosis atau infeksi jamur superfisial pada jaringan berkeratin masih menjadi masalah yang mendunia khususnya wilayah beriklim tropis seperti Indonesia. Kebersihan pejamu, imunogenitas dan lingkungan adalah faktor utama pada pathogenesis dermatofitosis dalam pembentukan kolonisasi dermatofita pada jaringan. Trichophyton rubrum merupakan dermatofita yang paling sering menyebabkan berbagai jenis dermatofitosis yang bersifat kronis dan menahun seperti tinea kapitis, tinea barbae, tinea korporis, tinea pedis, tinea unguium, dan tinea kruris. Daruju (Acanthus ilicifolius Linn.) merupakan tanaman jenis bakau yang tersebar liar di wilayah beriklim tropis, termasuk Indonesia. Daun daruju (Acanthus ilicifolius Linn.) sudah lama dimanfaatkan sebagai obat tradisional. Berdasarkan berbagai penelitian, daun daruju (Acanthus ilicifolius Linn.) memiliki senyawa metabolit sekunder yang berperan sebagai antimikroba. Mengetahui aktivitas antijamur ekstrak etanol daun Daruju (Acanthus ilicifolius Linn.) terhadap pertumbuhan Trichophyton rubrum dengan cara mengukur zona hambat yang dihasilkan oleh ekstrak tersebut. Skrining fitokimia dilakukan dengan metode analisa tabung menggunakan reagen untuk mengetahui keberadaan dan jens metabolit sekunder. Ekstrak uji dibuat dalam konsentrasi 1%, 1.5%, 2%, 2.5%, dan 3% dengan DMSO 10% sebagai pelarut. Pengujian aktivitas antijamur dilakukan dengan metode difusi cakram dan mengukur zona hambat pertumbuhan jamur. Ekstrak etanol daun daruju (Acanthus ilicifolius Linn.) mengandung senyawa metabolit sekunder: alkaloid, terpenoid, steroid, flavonoid dan fenol. Tidak terdapat zona hambat pertumbuhan Trichophyton rubrum pada semua konsentrasi ekstrak yang diuji. Ekstrak etanol daun daruju (Acanthus ilicifolius Linn.) tidak memiliki aktivitas antijamur terhadap pertumbuhan Trichophyton rubrum.