Pertemanan toxic di kalangan remaja SMA berdampak signifikan terhadap kesehatan mental dan prestasi akademik. Sekolah yang seharusnya mendukung perkembangan positif justru kerap menjadi tempat berkembangnya pertemanan yang merusak. onflik, manipulasi, dan pengucilan dalam pertemanan toksik menciptakan stres dan ketidaknyamanan, mengganggu konsentrasi dan motivasi belajar. Penelitian kualitatif ini, melalui wawancara mendalam dengan tiga siswa SMA dari dua sekolah berbeda, menyelidiki dampak pertemanan toksik dan dilema siswa dalam memutuskan untuk mempertahankan atau mengakhirinya. Analisis tematik menunjukkan bahwa pertemanan toksik mengganggu konsentrasi belajar siswa, ditandai dengan kesulitan fokus, penurunan motivasi, dan peningkatan stres. Siswa menghadapi dilema kompleks dalam memutuskan untuk mempertahankan atau mengakhiri pertemanan tersebut, dipengaruhi oleh loyalitas, rasa takut akan isolasi sosial, dan kurangnya dukungan. Mengakhiri pertemanan toksik seringkali diiringi tantangan emosional dan sosial. Oleh karena itu, temuan ini menyoroti perlunya intervensi sekolah yang komprehensif, meliputi edukasi tentang pertemanan sehat dan dukungan psikologis bagi siswa. Meskipun temuan ini signifikan, penelitian lebih lanjut dengan sampel yang lebih besar dan desain penelitian yang lebih kuat diperlukan untuk mengkonfirmasi temuan dan mengembangkan panduan intervensi yang dapat diimplementasikan secara luas di berbagai konteks sekolah. Penelitian ini penting untuk menciptakan lingkungan sekolah yang suportif bagi perkembangan siswa secara holistik.