Pekalongan, sebagai salah satu Kota di Jawa Tengah, merupakan salah satu kota yang membutuhkan kehadiran televisi lokal yang kuat dan independen. Sebagai pusat pemerintahan dan perekonomian di Kota tersebut. Oleh karena itu, kehadiran media lokal yang netral sangat dibutuhkan untuk menyampaikan informasi terkait perkembangan kota, baik dari segi ekonomi, sosial, politik, hingga budaya. Media lokal juga berperan dalam mengawasi kebijakan pemerintah kota, memastikan bahwa setiap program yang dilaksanakan benar-benar menguntungkan masyarakat. Amanat Undang-Undang No. 32 Tahun 2002 tentang Penyiaran adalah setiap media penyiaran diharuskan untuk diversity of content dan diversity of ownership, dengan memberlakukan kebijakan berupa sistem stasiun jaringan. Sebagai bentuk implementasi dari UU Penyiaran tersebut, dibentuklah Kompas TV Pekalongan yang merupakan televisi berjaringan dari salah satu anak jaringan dari Kompas TV di Jakarta. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mendeskripsikan proses prduksi siaran lokal televisi berjaringan Kompas TV Pekalongan.Metode pengumpulan data utama dalam penelitian ini adalah wawancara pendekatan kualitatif digunakan untuk menganalisis proses produksi program di Kompas TV Pekalongan. Informasi utama, Faikar Mujajadid, editor dan penanggung jawab Kompas TV Pekalongan, memberikan pengetahuan mendalam tentang dinamika produksi program televisi. Peneliti dapat mendapatkan informasi langsung tentang praktik dan masalah produksi melalui wawancara yang dilakukan pada 27 September 2024.Informan utama dalam penelitian ini adalah Faikar Mujajadid, Editor sekaligus penanggung jawab di Kompas TV Pekalongan. Berdasarkan wawancara yang dilakukan pada 27 September 2024, Faikar menjelaskan bahwa Kompas TV Pekalongan adalah salah satu contoh implementasi sistem jaringan televisi, di mana Kompas TV mengikuti regulasi dari Komisi Penyiaran Indonesia (KPI) yang mewajibkan televisi nasional bekerja sama dengan televisi lokal jika belum memiliki fasilitas siaran langsung di daerah. Namun, Kompas TV tidak sekadar ingin mengoperasikan transmisi di daerah, melainkan juga berkomitmen untuk mengangkat kearifan lokal. Oleh karena itu, Kompas TV menempatkan sumber daya manusia (SDM) di daerah untuk memproduksi konten lokal secara langsung, bukan hanya merelai siaran dari pusat.Proses produksi program televisi di Kompas TV Pekalongan menunjukkan bahwa dengan sumber daya manusia yang terbatas, tim produksi dapat menghasilkan konten berkualitas melalui perencanaan yang matang, fleksibilitas dalam pelaksanaan, dan penerapan prinsip dasar produksi yang efektif. Kompas TV Pekalongan berhasil memasukkan kearifan lokal ke dalam konten siarannya dan memanfaatkan media sosial dan teknologi untuk meningkatkan jumlah pemirsa. Namun, masalah seperti keterbatasan waktu dan kesulitan melakukan wawancara masih perlu ditangani agar pemberitaan lebih baik. Penelitian lebih lanjut disarankan untuk melakukan penelitian lebih lanjut tentang bagaimana konten lokal memengaruhi pemirsa dan bagaimana strategi pemasaran yang digunakan dapat menarik lebih banyak audiens. Mereka juga harus melihat penggunaan teknologi baru dalam produksi dan distribusi konten media, serta bagaimana kolaborasi dengan lembaga komunitas dapat dioptimalkan untuk meningkatkan posisi stasiun TV. Diharapkan temuan ini akan membantu perkembangan industri pertelevisian lokal di Indonesia.