Break Even Point (BEP) merupakan salah satu alat perencanaan laba yang umum digunakan oleh Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) karena konsepnya yang sederhana dan mudah diaplikasikan. Namun, dalam praktiknya, penerapan BEP sebagai alat perencanaan laba jangka pendek sering kali menghadapi berbagai keterbatasan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji keterbatasan Break Even Point (BEP) sebagai alat perencanaan laba jangka pendek pada UMKM. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi literatur (library research), melalui telaah terhadap jurnal ilmiah, buku, dan publikasi terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa keterbatasan BEP terutama disebabkan oleh asumsi-asumsi dasarnya yang bersifat statis, seperti biaya dan harga jual yang konstan, kesetaraan antara volume produksi dan volume penjualan, serta struktur biaya yang jelas antara biaya tetap dan biaya variabel. Asumsi-asumsi tersebut sulit diterapkan pada kondisi UMKM yang dinamis dan penuh ketidakpastian. Selain itu, BEP cenderung berfokus pada pencapaian titik impas tanpa mempertimbangkan tujuan laba yang optimal dan berkelanjutan. Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa BEP tidak sepenuhnya memadai jika digunakan sebagai satu-satunya alat perencanaan laba jangka pendek pada UMKM, sehingga diperlukan kombinasi dengan pendekatan perencanaan lain yang lebih fleksibel dan adaptif.