Tradisi dan nilai-nilai lokal yang terus dijaga menjadi identitas khas masyarakat Bonokeling di tengah gempuran modernisasi dan budaya luar. Penelitian ini dilakukan untuk memahami bentuk kearifan lokal dalam komunitas adat Kejawen Bonokeling dan bagaimana strategi pelestariannya dijalankan secara turun-temurun. Pendekatan kualitatif deskriptif digunakan dalam konteks komunikasi budaya, melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi aktivitas adat. Hasilnya menunjukkan bahwa pelestarian budaya dilakukan lewat proses enkulturasi sejak anak-anak mengenal simbol dan tindakan adat dari keluarga mereka, serta sosialisasi yang berlangsung dalam kelompok sosial seperti kasepuhan dan forum interaksi seperti gendhu-gendhu rasa dan ngendong. Pengetahuan diwariskan melalui titen, ngucing, dan praktik komunikasi lisan. Tradisi bukan sekadar ritual, tapi ruang belajar, membentuk karakter dan solidaritas sosial. Komunitas ini berhasil mempertahankan nilai religius, etika, dan spiritualitas melalui keseharian mereka yang penuh makna simbolik. Budaya bukan lagi warisan pasif, melainkan alat adaptasi aktif di tengah zaman yang terus bergerak. Pelestarian budaya Bonokeling tidak hanya bicara soal mempertahankan, tetapi juga tentang bagaimana komunitas berdaya menghadapi perubahan dengan akar budaya yang kuat.