Penelitian ini mengkaji peran pendampingan psikologis, spiritual, dan dukungan keluarga dalam pemulihan narapidana wanita di Lapas Kelas II A Banyuwangi yang mengalami isolasi sosial. Menggunakan pendekatan kualitatif terhadap dua subjek utama dengan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi. Analisis dilakukan dengan teknik tematik untuk mengidentifikasi pola psikososial yang relevan. Teknik purposive sampling digunakan untuk memilih partisipan yang memiliki pengalaman mendalam dan relevan terhadap topik penelitian. Hasil menunjukkan bahwa intervensi berbasis konseling psikologis dan spiritual secara nyata mengurangi kecemasan, rasa bersalah, dan depresi. Pola tematik dominan mencakup penerimaan diri melalui pendekatan spiritual dan dukungan emosional dari keluarga sebagai sumber kekuatan utama. Sebagian besar narasi partisipan menekankan pentingnya peran keluarga sebagai penyemangat utama dalam menjalani hukuman. Penelitian ini menggarisbawahi pentingnya rehabilitasi berbasis pendekatan multidimensional yang lebih empatik dan menyeluruh dibandingkan model lama yang bersifat korektif dan normatif semata. Temuan ini memberikan dasar kuat bagi pengembangan kebijakan pemasyarakatan yang lebih humanistik, serta menekankan pentingnya dukungan psikologis dan spiritual yang terintegrasi untuk meningkatkan kesiapan reintegrasi sosial dan mengurangi potensi residivisme pada narapidana perempuan. Dalam setiap keterpurukan, akan ada cahaya harapan yang dapat menuntun individu menuju pemulihan dan makna hidup yang baru. Karena pada akhirnya, setiap manusia berhak untuk bangkit dan menemukan kembali jati dirinya