Bondan Ade Prasetya
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Faktor Penentu Innovative Behavior: Bukti Dari Mahasiswa/I Stab Maha Prajna Jakarta Mahardika, Ghana Yoga; Bondan Ade Prasetya
Jurnal Pendidikan, Sains, Sosial dan Agama (Dharma Edukasi) Vol. 1 No. 1 (2025): Dharma Edukasi - Jurnal Pendidikan, Sains, Sosial dan Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Maha Prajna Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66791/dharmaed.v1i1.2502

Abstract

Innovative behavior sebagai perilaku individu yang bertujuan untuk mencapai inisiasi dan pengenalan yang disengaja (dalam peran kerja, kelompok atau organisasi) dan ide, proses, produk, atau prosedur yang baru dan berguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor Innovative Behavior Mahasiswa/i STAB Maha Prajna, Jakarta. Penelitian ini menggunakan 129 sampel yang dikumpulkan dengan teknik convenience sampling. Data primer dikumpulkan melalui survei langsung terhadap mahasiswa dan mahasiswi. Pengukuran Innovative Behavior terdiri dari 10 indikator. Berdasarkan analisis faktor, terbentuk 3 faktor Innovative Behavior. Faktor pertama adalah Eksplorasi peluang (opportunity exploration), faktor kedua generativitas (generativity), dan faktor ketiga sugesti formatif (formative suggestion).
Analisis Pendekatan Model Kurikulum Humanistik Pada Pengembangan Kurikulum Sekolah Minggu Buddha (SMB) bondan ade prasetya; Suparman
Jurnal Pendidikan, Sains, Sosial dan Agama (Dharma Edukasi) Vol. 1 No. 1 (2025): Dharma Edukasi - Jurnal Pendidikan, Sains, Sosial dan Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Maha Prajna Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66791/dharmaed.v1i1.2505

Abstract

Tulisan ini bermaksud untuk memberikan gambaran tentang analisis pendekatan model kurikulum humanistik pada pengembangan kurikulum sekolah minggu Buddha (SMB). Rumusan masalah dalam tulisan ini difokuskan pada bagaimana tinjauan terhadap kurikulum pendekatan model humanistik. Tulisan ini merupakan hasil kajian pustaka yang dikumpulkan penulis dari berbagai sumber jurnal dan artikel yang sesuai dengan tujuan penelitian. Dari hasil penelitian terlihat bahwa terdapat banyak persamaan antara model pengembangan kurikulum humanistik dan isi dari prinsip-prinsip kurikulum Sekolah Minggu Buddha (SMB).
Ajaran Agama Buddha Mahayana Dalam Kakawin Kuñjarakarna Bondan Ade Prasetya
Jurnal Pendidikan, Sains, Sosial dan Agama (Dharma Edukasi) Vol. 1 No. 2 (2025): Dharma Edukasi - Jurnal Pendidikan, Sains, Sosial dan Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Maha Prajna Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66791/dharmaed.v1i2.2511

Abstract

Penelitian ini mengkaji bagaimana ajaran Agama Buddha Mahayana disampaikan secara praktis melalui Kakawin Kunjarakarna, sebuah karya sastra Jawa Kuna dari lingkungan budaya Majapahit. Kakawin tersebut mengisahkan perjalanan spiritual seorang yaksa bernama Kunjarakarna yang takut mengalami kelahiran kembali yang buruk. Ia mencari bimbingan Buddha Wairocana dan diperlihatkan gambaran neraka serta akibat moral dari perbuatan bajik dan tidak bajik. Dengan demikian, teks ini berfungsi sebagai media pengajaran moral yang langsung. Penelitian ini bertujuan: (1) mengidentifikasi nilai-nilai utama ajaran Mahayana dalam Kakawin Kunjarakarna termasuk welas asih (karuṇā), cita-cita bodhisattva, hukum karma, dan transformasi batin serta (2) menjelaskan relevansi nilai-nilai tersebut bagi pendidikan karakter Buddhis di Indonesia masa kini. Metode yang digunakan adalah kualitatif-deskriptif dengan analisis isi (content analysis), membandingkan isi kakawin dengan kajian Buddhisme Mahayana dan studi sastra Jawa Kuna. Hasil penelitian menunjukkan tiga hal utama. Pertama, Kunjarakarna digambarkan sebagai sosok yang berupaya memperbaiki diri secara moral dan menumbuhkan belas kasih, sejalan dengan jalan bodhisattva. Kedua, gambaran neraka dan konsekuensi karma digunakan sebagai strategi pendidikan etika sosial, bukan sekadar ancaman religius. Ketiga, kakawin ini menyampaikan pedoman etika sosial-politik perilaku moral individu dilihat sebagai dasar harmoni masyarakat. Dengan demikian, Kakawin Kunjarakarna dapat dibaca sebagai model pendidikan karakter Buddhis berbasis budaya Nusantara yang relevan untuk pembelajaran Agama Buddha di sekolah.
Vasala Sutta Sebagai Kritik Sosial: Landasan Etika Humanistik Dalam Buddhisme Bondan Ade Prasetya
Jurnal Pendidikan, Sains, Sosial dan Agama (Dharma Edukasi) Vol. 2 No. 1 (2026): Dharma Edukasi - Jurnal Pendidikan, Sains, Sosial dan Agama
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Buddha Maha Prajna Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.66791/dharmaed.v2i1.2606

Abstract

This study aims to analyze the Vasala Sutta as a form of social criticism and to identify the foundations of humanistic ethics within Buddhist teachings that are relevant to the phenomenon of social discrimination based on status and identity. This research employs a descriptive qualitative approach using a library research method, utilizing primary data in the form of the Vasala Sutta text and secondary data derived from indexed scientific journal articles. Data collection techniques are conducted through documentation and systematic literature review, with sources selected using purposive sampling based on relevance and academic credibility. The results indicate several key themes, namely the deconstruction of socially constructed identity based on birth, the affirmation of morality as the primary indicator of human value, criticism of discriminatory social structures, the internalization of humanistic values, and the relevance of these teachings in the context of modern society. These findings demonstrate that the Vasala Sutta embodies principles of moral equality and a critique of the caste system, which can be understood as the foundation of humanistic ethics in Buddhism. In conclusion, this study contributes theoretically to enriching the study of Buddhist ethics through a socio-humanistic perspective, as well as providing practical implications for the development of inclusive values in education and multicultural societies. This study also recommends further research using empirical approaches to explore the implementation of these values in contemporary social contexts.