Tuberkulosis disebabkan oleh oleh basil Mycobacterium tuberculosis, yang menyebar ketika penderita TBC mengeluarkan bakteri ke udara (misalnya melalui batuk). pengobatan tuberculosis diberikan dalam bentuk paket berupa obat anti tuberkulosis kombinasi dasar tetap Obat Anti Tuberkulosis (OAT) secara umum yaitu rifampisin, isoniazid, etambutol, dan pyrazinamide, pengobatan biasanya dibagi menjadi 2 yaitu fase intensif dan fase lanjutan, memiliki efek samping hepatotoksisitas, pemeriksaan fungsi hati yang dapat dilakukan yaitu pemeriksaan SGOT (Serum Glutamic Oxaloacetic Transaminase), SGPT (Serum Glutamic-pyruvic Transaminase). Enzim ini sering dihubungkan dengan kerusakan sel hati. Menganalisis perbedaan kadar enzim SGOT dan SGPT pada pasien Tuberkulosis Paru yang sedang mengonsumsi Obat Anti Tuberkulosis (OAT) dalam fase intensif dan fase lanjutan. Observasional analitik dengan pendekatan cross sectional. Keseluruhan objek yang penderita Tuberkulosis di bulan 26 Maret sampai 4 Mei 2024 dengan kasus aktif yang tercatat pada rekam medis penderita Tuberculosis di UPTD Puskesmas Oepoi Kota Kupang, dipilih menjadi 28 sampel yang terbagi 14 Fase Intensif dan 14 Fase Lanjutan. Uji Mann-Whitney U didapatkan tidak ada perbedaan signifikansi uji beda Mann Whitney sebesar 0.695 untuk kadar SGOT dan untuk kadar SGPT sebesar 0,765 dan kedua nilai tersebut lebih besar dari (>0,05). Oleh karena itu, dapat disimpulkan bahwa “H0 diterima”. Maka dari itu dapat dikatakan bahwa tidak terdapat perbedaan signifikan peningkatan kadar enzim SGOT dan SGPT pada pasien fase Lanjutan dan fase Intensif.