Ayurinanda, Al Riza
Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

PELAKSANAAN KONSELING PERNIKAHAN YANG SENSITIF GENDER UNTUK MENCEGAH PERCERAIAN DI LEMBAGA REKSO DYAH UTAMI Ayurinanda, Al Riza
KONSELING RELIGI Vol 7, No 2 (2016): KONSELING RELIGI
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v7i2.1860

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pelaksanaan konseling pernikahan yang sensitif gender untuk mencegah perceraian di lembaga P2TPA KK Rekso Dyah Utami. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode deskriptif. Metode pengumpulan data dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi dan dokumentasi. Sedangkan teknik analisis data menggunakan analisis deskriptif kualitatif. Hasil penelitian ini menunjukkan terdapat empat tahap dalam proses konseling pernikahan dalam penanganan kasus perceraian yaitu: (1) mendengarkan (2) pemberian opsi; opsi renovasi atau memperbaiki hubungan, opsi terapi, menerima ketentuan dan takdir dan opsi perceraian (3) istirahat sejenak untuk mengambil keputusan (4) pemberian solusi yang terbaik sesuai keputusan konseli. Teknik konseling pernikahan yang sensitif gender yang dilakukan adalah dengan cara menghadirkan kedua belah pihak dalam sesi konseling atas dasar keutuhan dan keharmonisan rumah tangga adalah tanggung jawab bersama. Pelaksanaan konseling pernikahan yang sensitif gender yang dilakukan lembaga tersebut kurang lebih 80% berhasil mencegah perceraian dengan catatan kedua bilang pihak antara suami dan istri bersedia mengikuti proses konseling pernikahan yang diberikan.Kata Kunci: Pelaksanaan Konseling Pernikahan, Sensitif Gender, Pencegahan Perceraian THE IMPLEMENTATION OF MARRIAGE COUNSELLING BASED ON SENSITIVE GENDER TO PREVENT DIVORCE AT REKSO DYAH UTAMI. This research aims to investigate the implementation of gender-sensitive marriage counseling to prevent divorce in P2TPA institution of KK Rekso Dyah Utami. It used qualitative approaches with descriptive methods. The data were collected through interview, observation and documentation. The techniques of data analysis used qualitative descriptive analysis. The results of this research confirmed that there are four stages in the process of marriage counseling in handling divorce cases: (1) listening both sides (husband-wife) (2) giving some options; an option for remodeling or improving the relationship, an option for doing therapy, accepting the terms and destiny or the option for committing divorce (3) giving short break to make a decision (4) giving the best solution according to the decision of the counselees. The techniques of gender-sensitive marriage counseling was implemented by inviting both sides at a counseling session on the basis of the household unity and harmony which becomes their shared responsibility. The implementation of gender-sensitive counseling marriage conducted in the institution indicated that more than 80% was successful in preventing divorce in the note that both sides were willing to follow the process of marriage counseling.Key Words: The Implementation of Marriage Counseling, Gender-Sensitive, Divorce Prevention
OUTBOUND SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN MOTIVASI BELAJAR SISWA KELAS IX TAHUN AJARAN 2014/2015 SMP MUHAMMADIYAH 3 DEPOK Ayurinanda, Al Riza
Hisbah: Jurnal Bimbingan Konseling dan Dakwah Islam Vol 15, No 1 (2018): Juni
Publisher : UIN Sunan Kalijaga Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (725.078 KB) | DOI: 10.14421/hisbah.2018.%x

Abstract

 Latar belakang penelitian ini adalah melihat kondisi psikologis siswa dalam belajar dengan kebutuhan yang berbeda-beda. Setiap lembaga pendidikan mempunyai metode atau cara yang berbeda-beda juga dalam meningkatkan motivasi belajar siswa. Penelitian ini dilakukan karena salah satu lembaga pendidikan yaitu SMP Muhammadiyah 3 Depok menggunakan permainan outbound sebagai upaya untuk meningkatkan motivasi belajar siswa. Melalui kegiatan outbound yang dilakukan di alam terbuka fasilitator outbound dan guru pendamping memberikan dorongan motivasi terhadap siswa untuk lebih giat dalam belajar. Sehingga pemberian motivasi yang dilakukan lebih menarik dan mudah diterima oleh siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui tentang metode, tujuan dan manfaat outbond yang digunakan sebagai upaya meningkatkan motivasi belajar siswa kelas IX tahun ajaran 2014/2015 SMP Muhammadiyah 3 Depok. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif. Subyek dari penelitian ini adalah 8 siswa kelas IX tahun ajaran 2014/2015 SMP Muhammadiyah 3 Depok, 1 Guru BK SMP Muhammadiyah 3 Depok, 1 Guru wali kelas IX SMP Muhammadiyah 3 Depok dan 1 Fasilitator Outbound. Metode pengumpulan data yang digunakan dalam penelitian ini adalah wawancara, observasi partisipan, dan dokumentasi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa metode outbound yang digunakan berbentuk permainan kelompok, petualangan individu dan pemberian pesan.  Tujuan outbound adalah: ice breaker (memecah kebekuan), membangun kerja sama kelompok, membantu siswa untuk lebih bersemangat, membantu siswa untuk mampu memperbaiki teknik pengembangan diri, dan membantu siswa mampu berfikir tentang cara menyelesaikan masalah dengan baik. Manfaat outbound yang dirasakan siswa: mampu melahirkan semangat kompetisi yang sehat dan membangun rasa percaya diri yang kuat. Kata kunci: Outbound, Motivasi Belajar.
Konseling Gestalt Sebagai Upaya Kuratif Pengaruh Paham Radikalisme Di kalangan Remaja Ayurinanda, Al Riza
KONSELING RELIGI Vol 9, No 1 (2018): June 2018
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Negeri (STAIN) Kudus

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21043/kr.v9i1.3465

Abstract

Penelitian ini dilatar belakangi oleh pengaruh radikalisme agama di Indonesia yang semakin meningkat khususnya di kalangan remaja. Secara psikologis, remaja memiliki keingintahuan yang tinggi dan senang mencoba pengalaman baru serta identik dengan masa pencarian identitas diri. Hal ini dimanfaatkan oleh kelompok radikal untuk mempengaruhi remaja dengan doktrin-doktrin ideologi radikalisme. Beberapa survei membuktikan bahwa remaja banyak yang membenarkan tindakan kelompok radikal dalam mengamalkan perintah agama. Berdasarkan survei tersebut perlu adanya peran konselor khususnya di sekolah dalam memberikan pendekatan konseling sebagai upaya penanganan kasus radikalisme agama di kalangan remaja. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan metode deskriptif. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara dan observasi. Penelitian ini menunjukkan pendekatan konseling gestalt sebagai upaya penanganan kasus radikalisme agama di kalangan remaja. Hasil penelitian menunjukkan tahapan-tahapan konseling gestalt dalam penanganan radikalisme di kalangan remaja, yaitu: (1) the begining phase, (2) clearing the ground, (3) the existential encounter, (4) integration, (5) ending. Terdapat dua teknik konseling gestalt yang digunakan, yaitu  (1) Teknik Topdog versus Underdog dan, (2) Teknik Reframing.