Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Wawasan Nusantara Sebagai Tameng Pengaruh Asing Dalam Era Globalisasi Sabela, Yesi; Fatma Ufatun Najicha
Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha Vol. 12 No. 2 (2024): Mei, Jurnal Pendidikan Kewarganegaraan Undiksha
Publisher : Universitas Pendidikan Ganesha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jpku.v12i2.55294

Abstract

Anthony Giddens melihat globalisasi merupakan suatu proses peningkatan hubungan social ke tahap dunia yang lebih luas dari suatu tempat local ke tempat yang lain yang lebih jauh atau lebih dekat. Globalisasi sendiri berasal dari kata “global” yang artinya meliputi seluruh dunia atau secara keseluruhan. Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) globalisasi adalah proses masuknya ke ruang lingkup dunia. Tanpa kita sadari proses globalisasi ini membawa dampak serta pengaruh ke masyarakat termasuk di Negara Indonesia hal tersebut dapat kita lihat dari pola pikir dan perilaku masyarakat Indonesia yang semakin berkembang serta adanya kemajuan teknologi yang dapat mempermudah kita dalam mengakses segala informasi, ataupun suatu fenomena dari berbagai negara dengan mudah. Dalam era globalisasi ini tentunya memiliki dampak yang mempengaruhi pola hidup bermasyarakat baik dampak positif maupun dampak negatif yang kita hadapi. Tak bisa hal tersebut membuat masyarakat memiliki habbit atau kebiasaan baru yang terkadang melenceng dari nilai-nilai yang terkandung di dalam pancasila dimana pancasila tersebut merupakan pedoman struktur, pola, dan bentuk ketatanegaraan di Negara indonesia.  Tujuan ditulisnya artikel ini adalah untuk mengetahui pengaruh globalisasi terhadap nasionalisme dan religius di Negara Indonesia. Serta upaya untuk menanggulangi pengaruh asing yaitu salah satunya dengan wawasan Nusantara bagi setiap lapisan masyarakat indonesia yang dijadikan sebagai pedoman dalam kehidupan berbangsa dan bernegara agar tidak salah atau bahkan terjerumus ke dalam suatu problematika.
Pelatihan Pembuatan Fodder Jagung Bagi KTT Andini Lestari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Karanganyar Yanti, Yuli; Muna Ramdani, Muhammad; Hilmi Nugroho, Rafif; Naufal Rakhman, Rhifdhi; Nur Laila, Rika; Akbar Muhamad, Rizvanda; Firdaus, Saddam; Dwitasari, Sastiya; Amalia Saputri, Shipa; Nur Azizah, Syafira; Sabela, Yesi
PRIMA: Journal of Community Empowering and Services Vol 10, No 1 (2026): June
Publisher : Universitas Sebelas Maret

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20961/prima.v10i1.103783

Abstract

Training on Corn Fodder Production for the KTT Andini Lestari, Karanganyar District, Karanganyar Regency. The availability of land for growing green fodder is currently still a challenge in meeting the need for green fodder, especially for beef cattle farmers. Some members of the Andini Lestari Livestock Farmers Group (KTT) have experienced this. The purpose of this activity was to provide technology transfer and training in making corn fodder at KTT Andini Lestari, Karanganyar, Central Java. The method used by MBKM (Merdeka Belajar Kampus Merdeka) students of the Universitas Sebelas Maret Animal Husbandry Study Program, Faculty of Animal Husbandry, was to provide counseling and training on planting corn fodder hydroponically using stacked racks. This training used a participatory methodology. The community service activity was divided into three stages: preparation, implementation, and monitoring and evaluation. Respondents' knowledge was measured with a pre-test and post-test with five questions. Corn fodder is a sprout from a corn plant that can be harvested at least 7 days to be used as green fodder for livestock. Hydroponic corn fodder harvested at 14 days old has a height of 15 cm. After the outreach and training, the 30 participants gained an average of 94.6% more knowledge about alternative feed, hydroponic corn fodder. Corn odder can be a solution to meet livestock feed needs with limited land availability, thus supporting the sustainability of the beef cattle business at the Andini Lestari Livestock Farmers Group (KTT) in Lalung Village, Karanganyar.