Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Pengaruh Kurang Tidur Terhadap Short Term Memory Pada Mahasiswa Kedokteran Universitas Malikussaleh Hasibuan, Imam Irawan Saputra; Nadira, Cut Sidrah; Novalia, Vera
Jurnal sosial dan sains Vol. 5 No. 4 (2025): Jurnal Sosial dan Sains
Publisher : Green Publisher Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59188/jurnalsosains.v5i4.32149

Abstract

Memori jangka pendek ialah sebuah sistem yang menyimpan informasi sementara dalam otak yang memiliki kapasitas terbatas dan berfungsi sebagai pengatur pemrosesan data tanpa melakukan pengolahan lebih lanjut. Peran utamanya adalah menyimpan informasi untuk sementara waktu agar dapat ditinjau dan diulang kembali. Sistem ini memiliki kontribusi penting dalam mekanisme pengolahan informasi otak. Namun, kondisi kurang tidur diketahui berdampak buruk terhadap berbagai aspek, termasuk kewaspadaan, kinerja, dan kesehatan secara keseluruhan. Ketika kurang tidur berlangsung dalam jangka panjang, hal ini dapat mengganggu fungsi tubuh, psikologis, kognitif, hingga perilaku saraf, termasuk kemampuan memori jangka pendek. Penelitian ini dilakukan agar dapat memahami keterkaitan antara durasi tidur dan memori jangka pendek pada mahasiswa kedokteran Universitas Malikussaleh. Studi ini menggunakan pendekatan analitik dengan desain potong lintang dan melibatkan 200 responden yang dipilih melalui metode stratified random sampling. Mahasiswa dikelompokkan berdasarkan pola tidurnya, yakni kelompok yang merasakan kurang tidur serta kelompok yang memiliki tidur cukup. Kemampuan memori jangka pendek dievaluasi melalui uji kinerja memori. Hasil menunjukkan bahwa 79,5% responden mengalami kurang tidur, sementara 20,5% mempunyai durasi tidur yang cukup. Dalam hal kemampuan memori jangka pendek, 59,5% mahasiswa menunjukkan performa yang rendah, dan 40,5% menunjukkan performa yang baik. Hasil analisis statistik yang didapatkan nilai p sebesar 0,008, yang menunjukkan kaitan yang signifikan secara statistik (p < 0,05) antara kurang tidur serta kemampuan memori jangka pendek. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa mahasiswa yang mengalami kurang tidur memiliki risiko lebih tinggi terhadap penurunan memori jangka pendek, yang menekankan pentingnya menjaga kualitas tidur demi mendukung fungsi kognitif secara optimal.
Vaginismus as a Genito-Pelvic Pain/Penetration Disorder (GPPPD): Etiology, Pathophysiology, Diagnosis, and Multimodal Therapeutic Approach Hasibuan, Imam Irawan Saputra; Iqbal, Teuku Yudhi
Madani: Jurnal Ilmiah Multidisiplin Vol 4, No 3 (2026): April 2026
Publisher : Penerbit Yayasan Daarul Huda Kruengmane

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Vaginismus is a sexual dysfunction disorder in women characterized by the inability or difficulty to achieve penetration due to involuntary contraction of the pelvic floor muscles, often accompanied by pain as well as anxiety and avoidance responses. In the latest classification, this condition is included in genito-pelvic pain/penetration disorder (GPPPD). The prevalence of vaginismus varies and tends to be underdiagnosed due to stigma, embarrassment, and limitations in reporting and clinical examination. The etiology of vaginismus is multifactorial, involving the interaction of biological, psychological, and sociocultural factors. Its pathophysiology is related to a recurring pain–fear–muscle contraction cycle, which exacerbates symptoms and perpetuates the disorder. Diagnosis is established through targeted history taking, assessment of pain and anxiety related to penetration, and evaluation of the patient’s response to gradual examination. Management is carried out using a multimodal and stepwise approach, including education, progressive dilator therapy, pelvic floor physiotherapy, and psychological interventions such as sexual counseling and cognitive behavioral therapy. In severe or refractory cases, additional therapies such as botulinum toxin may be considered. A comprehensive and integrated approach is expected to improve treatment outcomes and patients’ quality of life.