Okta Falma, Fris
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Pembuatan Concept Art Dan Storyboard Dalam Animasi Pendek Rindu Tanah Asal Huwaidah Damanik, Najla; Okta Falma, Fris
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i1.26816

Abstract

Dalam era modern, fenomena merantau menjadi bagian penting dari kehidupan masyarakat Indonesia, terutama di kalangan generasi muda yang mencari peluang lebih baik di kota besar. Animasi pendek berjudul "Rindu Tanah Asal" dibuat untuk menggambarkan perjuangan emosional seorang perantau yang merindukan kampung halamannya. Laporan tugas akhir ini membahas proses perancangan concept art dan storyboard sebagai bagian dari tahap pra-produksi animasi. Metode yang digunakan adalah pipeline, yang memberikan alur kerja sistematis dan efisien, serta memungkinkan pengembangan visual secara bertahap dan terstruktur. Teknik thumbnail sketching diterapkan dalam pembuatan concept art maupun storyboard untuk mempercepat proses eksplorasi visual, memperjelas bentuk dan komposisi karakter, serta memudahkan revisi sebelum masuk ke tahap detail. Software Procreate dipilih karena kemampuannya dalam mendukung proses kreatif secara intuitif dan efisien. Hasil dari perancangan ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam menciptakan animasi yang memiliki kekuatan emosional dan daya tarik visual, serta memberikan gambaran utuh tentang pentingnya perencanaan visual dalam industri animasi.
Perancangan Layout Dan Animate Dalam Animasi Lala Dan Penjaga Hijau Nadya Ramadhani, Siti; Okta Falma, Fris
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i1.27152

Abstract

Banjir dan longsor telah menjadi fenomena yang semakin umum, terutama penggundulan hutan secara ilegal dan cuaca ekstrem. Peningkatan curah hujan sering menyebabkan air meluap dan kondisi tanah tergerus dapat memperbesar risiko longsor. Animasi “Lala dan Penjaga Hijau” diciptakan untuk menggunakan teknologi sebagai sarana pendidikan yang efektif dalam menumbuhkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya perlindungan dan pelestarian lingkungan. Laporan ini membahas tahapan perancangan layout dan animate dengan menerapkan metode pipeline dalam produksi animasi. Pada penyusunan layout dilakukan dengan teknik pengaturan komposisi, dan warna, sedangkan proses animasi menerapkan teknik pose-to-pose untuk menentukan pose kunci sebelum membuat gerakan. Perangkat lunak blender dipilih dalam laporan ini karena blender merupakan program open-source, yang memungkinkan siapa pun untuk menggunakannya tanpa harus membayar lisensi dan memiliki komunitas pengguna yang luas serta menawarkan berbagai tutorial. Hasil dari laporan akhir ini adalah sebuah animasi yang berjudul “Lala dan Penjaga Hijau” yang bertujuan untuk mendidik masyarakat mengenai pentingnya melestarikan lingkungan.
Perancangan Concept Art, Storyboard, dan Animate dalam serial animasi Si Dep Cayah “Hutang Amak” Nurin Qistina, Reza; Okta Falma, Fris
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v9i1.27173

Abstract

Animasi Si Dep Cayah merupakan karya yang berangkat dari realitas sosial dan budaya, dengan menampilkan tokoh-tokoh yang menghadapi konflik internal, tekanan psikologis, dan perjuangan hidup dalam lingkungan yang keras. Proses produksi animasi ini mengandalkan kolaborasi antara concept art, storyboard, dan animasi untuk menciptakan visual yang kohesif dan emosional. Concept art berperan penting dalam menetapkan identitas visual, mulai dari desain karakter hingga nuansa warna, sementara storyboard menyusun alur cerita secara sistematis serta mengarahkan sudut pandang dan dinamika adegan. Proses animasi kemudian menghidupkan elemen-elemen tersebut menjadi gerakan yang ekspresif. Sinergi antara ketiga komponen ini tidak hanya mendukung efisiensi produksi, tetapi juga memastikan kesinambungan visual dan kekuatan naratif, sehingga pesan cerita dapat tersampaikan secara kuat dan menyentuh penonton.