Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Ekonomi Kreatif Dalam Upaya Pemberdayaan Masyarakat Kampung-Kampung Kota Di Kecamatan Gayungan Surabaya ismurdiyahwati, ika
Majalah Ekonomi Vol 17 No 2 (2013): Desember
Publisher : Fakultas Ekonomi Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (520.985 KB)

Abstract

Mengingat adanya program pemberdayaan (empowerment), yang dapat mengangkat persoalan yang ada di masyarakat perkampungan kota, dengan upaya pengadaan program ekonomi kreatif, maka kemudian dikembangkan dalam bentuk program-program kampung kreatif. Kampung-kampung kreatif yang digunakan sebagai acuan, adalah kampung-kampung yang berada di lingkungan kecamatan Gayungan Surabaya. Tema yang diusung adalah, Pengadaan Kampung-kampung Kreatif Sebagai Kampung Edukasi, Industri dan Wisata di Kelurahan Menanggal dan Dukuh Menanggal, Kecamatan Gayungan, Surabaya. Potensi unggulan pada Kelurahan Menanggal adalah keberadaan dari bank sampah non organik yang digunakan untuk membayar listrik dan disetorkan ke bank sampah pusat di daerah Kabupaten Gresik. Potensi unggulan dari kampung-kampung di kelurahan Dukuh Menanggal, adalah adanya usaha perpustakaan umum yang diselenggarakan warga kampung sebagai taman bacaan masyarakat. Tujuan dari program kampung kreatif adalah, untuk membangun kepercayaan diri individu dan masyarakat, beserta lingkungan secara umum, bahwa ada potensi yang dapat diolah sehingga menghasilkan karya, atau produk yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. Manfaatnya, adalah dengan adanya masyarakat kreatif yang humanis, yang menghasilkan produk-produk kreatif yang humanis dan sustainable. Metode yang digunakan adalah, metode advokasi (pendampingan), melalui pemetaan masalah: territorial (wilayah), pemerintahan daerah, pemetaan kependudukan, karakter (budaya) warga, ekonomi warga, politik warga, spiritual warga, infrastruktur, tata ruang, dan pendidikan. Sehubungan dengan itu, selain metode pendampingan sebagai metode utama, juga digunakan metode pelatihan, yang disebut ‘eksperimen kreatif’ (workshop eksperimen kreatif). Workshop tersebut, adalah workshop yang mengeksplorasi potensi diri dan lingkungan sekitar di kampung sasaran. Mulai dari mengidentifikasi ide sebagai bahan diskusi, lalu mengeksplorasi ide, mengembangkan desain, memproduksi, mengemas dan memasarkannya. Pada pengemasan, yakni pengemasan produk dan pengemasan dagang, melalui festival, media cetak dan elektronik, televisi, radio, situs web, penitipan barang di toko-toko, dan sejenisnya.
Ekonomi Kreatif Dalam Upaya Pemberdayaan Masyarakat Kampung-Kampung Kota Di Kecamatan Gayungan Surabaya ismurdiyahwati, ika
Majalah Ekonomi Vol 17 No 2 (2013): Desember
Publisher : Fakultas Ekonomi Universitas PGRI Adi Buana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Mengingat adanya program pemberdayaan (empowerment), yang dapat mengangkat persoalan yang ada di masyarakat perkampungan kota, dengan upaya pengadaan program ekonomi kreatif, maka kemudian dikembangkan dalam bentuk program-program kampung kreatif. Kampung-kampung kreatif yang digunakan sebagai acuan, adalah kampung-kampung yang berada di lingkungan kecamatan Gayungan Surabaya. Tema yang diusung adalah, Pengadaan Kampung-kampung Kreatif Sebagai Kampung Edukasi, Industri dan Wisata di Kelurahan Menanggal dan Dukuh Menanggal, Kecamatan Gayungan, Surabaya. Potensi unggulan pada Kelurahan Menanggal adalah keberadaan dari bank sampah non organik yang digunakan untuk membayar listrik dan disetorkan ke bank sampah pusat di daerah Kabupaten Gresik. Potensi unggulan dari kampung-kampung di kelurahan Dukuh Menanggal, adalah adanya usaha perpustakaan umum yang diselenggarakan warga kampung sebagai taman bacaan masyarakat. Tujuan dari program kampung kreatif adalah, untuk membangun kepercayaan diri individu dan masyarakat, beserta lingkungan secara umum, bahwa ada potensi yang dapat diolah sehingga menghasilkan karya, atau produk yang dapat digunakan untuk meningkatkan kesejahteraan bersama. Manfaatnya, adalah dengan adanya masyarakat kreatif yang humanis, yang menghasilkan produk-produk kreatif yang humanis dan sustainable. Metode yang digunakan adalah, metode advokasi (pendampingan), melalui pemetaan masalah: territorial (wilayah), pemerintahan daerah, pemetaan kependudukan, karakter (budaya) warga, ekonomi warga, politik warga, spiritual warga, infrastruktur, tata ruang, dan pendidikan. Sehubungan dengan itu, selain metode pendampingan sebagai metode utama, juga digunakan metode pelatihan, yang disebut ‘eksperimen kreatif’ (workshop eksperimen kreatif). Workshop tersebut, adalah workshop yang mengeksplorasi potensi diri dan lingkungan sekitar di kampung sasaran. Mulai dari mengidentifikasi ide sebagai bahan diskusi, lalu mengeksplorasi ide, mengembangkan desain, memproduksi, mengemas dan memasarkannya. Pada pengemasan, yakni pengemasan produk dan pengemasan dagang, melalui festival, media cetak dan elektronik, televisi, radio, situs web, penitipan barang di toko-toko, dan sejenisnya.
penggunaan penggunaan teori clive bell pada gambar khas spanduk pecel lele, asal kabupaten Lamongan, Jawa Timur Billah, Daniyatu; Ismurdiyahwati, Ika
IMAGIONARY Vol 3 No 1 (2024): OKTOBER
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Universitas Paramadina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51353/jim.v3i1.913

Abstract

Clive Bell is a philosopher of modern classical art who is famous for his idea of ​​significant form. Bell is a philosopher who was influenced by Plato's line of thought about beautiful forms that seem to be outside the form of the work itself. According to him, all aesthetic systems start from the subject's personal experience of the occurrence of typical emotions. There are three theories of Clive Bell, namely aesthetic emotion, meaningful form, and essentialism. This research uses a qualitative research approach with data collection stages as the completion material for this research, because qualitative methods generally emphasize analysis or descriptiveness. Data can be obtained from data collection techniques in the form of in-depth interviews and observation. Based on the analysis carried out, a new meaning emerged in the typical image from pecel lele’s banner. The typical image pecel lele’s banner is not just an ordinary banner without any artistic value in it. After carrying out this research, it was found that in the typical image pecel lele’s banner there are Clive Bell's principles, namely aesthetic emotions; as sales identity, meaningful forms; as a memorable image, and essentialism; the typical image as identification and there are also principles of painting such as color lines, shapes, planes, and textures.
Fenomenologi Estetika pada Bahasa Rupa Anak Ismurdiyahwati, Ika
Dekonstruksi Vol. 10 No. 03 (2024): Jurnal Dekonstruksi Volume 10.3
Publisher : Gerakan Indonesia Kita

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54154/dekonstruksi.v10i03.254

Abstract

Pada kajian Fenomenologi Estetika saat ini, sudah dapat mempergunakan pendekatan keilmuan lain yang berhubungan dengan analisa gambar, termasuk gambar-gambar tunggal yang dirangkai, seperti slide video, komik dan gambar-gambar seri yang menampilkan unsur ‘gerak’ pada aspek bercerita. Awal dari keberadan bahasa rupa bercerita ini, oleh penulis, dengan mengujinya pada pembacaan relief candi Plaosan Lor, Gambar motif Lampion Damar Kurung, gambar Anak-anak. Kemudian pada perkembangan selanjutnya pada gambar-gambar bayangan hasil dari aspek gerak/‘sabetan’ wayang kulit yang dimainkan dalang, lalu pada aspek gerak kegiatan anak-anak yang berada di kampung-kampung kota. Sebelumnya pada penemuannya oleh Primadi Tabrani, bahasa rupa diujikan pada relief candi Borobudur dan gambar-gambar pada kain kulit kayu Wayang beber, dan juga pada gambar anak-anak di era yang berbeda. Uji analisis menggunakan metoda kualitatif deskripsi dan bermula dari grammar of television’s picture (Zoom out/In), yang dikembangkan menjadi bahasa rupa bercerita. Kemudian, dari aspek ‘gerak’ tersebut dapat dipelajari lebih lanjut, bahwa ternyata terdapat aspek fenomena estetik pada karya anak-anak, karena gambar-gambar anak sebenarnya/aslinya merupakan gambar-gambar naratif yang dapat dideskripsikan. Menggunakan struktur artistik yang dibangun melalui persepsi imajinasinya, dan semuanya membawa aspek “gerak” agar dapat diceritakan.