Masyeni, Dewa Ayu Putri Sri Masyeni
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

DETEKSI SEROKONVERSI DENGAN RAPID ANTIBODY TEST PASKA VAKSINASI COVID-19: Vaksinasi COVID-19 Masyeni, Dewa Ayu Putri Sri Masyeni; Permana Lestari, SP; Rai Tirta, IG; Ratna Kartika; Maheraditya, Ananda
Surabaya Biomedical Journal Vol. 1 No. 2 (2022): Januari
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v1i2.24

Abstract

Imunisasi COVID-19 bertujuan untuk untuk membangun herd immunity dengan cepat guna mengurangi penyebaran serta jumlah kasus COVID-19. Tujuan penelitian saat ini adalah untuk mengevaluasi serokonversi setelah vaksinasi COVID-19. Studi cross-sectional prospektif dilakukan di Bali pada mahasiswa kedokteran yang menerima vaksin COVID-19 (CoronaVac), suatu inactivated vaccine. Mahasiswa telah dilakukan pemeriksaan serial dengan test cepat antibodi COVID-19 setiap 2 minggu sekali dalam rangka pembelajaran mahasiswa selama menjalani masa kepaniteraan. Serokonversi diperiksa dengan menggunakan tes antibodi cepat yang dimulai dua minggu setelah imunisasi dan dilanjutkan setiap dua minggu selama 12 minggu berikutnya. Analisis deskriptif digunakan untuk menganalisis data hasil penelitian ini. Kriteria inklusi adalah mahasiswa dengan hasil uji test cepat antibodi COVID-19 negatif sebelum dilakukan vaksinasi COVID-19. Sebanyak 106 siswa yang serial seronegatif COVID-19 sebelum vaksinasi secara prospektif dipantau menggunakan tes antibodi cepat. Rata-rata usia sampel adalah 22,9 tahun (23). Mayoritas peserta adalah laki-laki, terhitung 33,01 persen dari total. Serokonversi mulai terdeteksi pada minggu ke 8 dari jadwal pemantauan, dengan tingkat setinggi 1,9 persen, 7,5 persen pada minggu 18, dan 41,5 persen pada minggu 12 dan 13. Nyeri di tempat suntikan (12,3%), kelemahan (23,3%), dan demam (7%) adalah efek samping yang paling umum ditemukan di antara para peserta. Kesimpulan penelitian adalah tes cepat antibodi COVID-19 dapat mendeteksi serokonversi paska vaksinasi COVID-19 dengan deteksi yang sedikit terlambat dibandingkan dengan pemeriksaan antibodi metode lain
PERBEDAAN KARAKTERISTIK PASIEN SUSPEK NEGATIF COVID-19 DAN TERKONFIRMASI POSITIF COVID-19 DI RSUD SANJIWANI TAHUN 2020: Infeksi COVID-19 Masyeni, Dewa Ayu Putri Sri Masyeni
Surabaya Biomedical Journal Vol. 1 No. 3 (2022): Mei
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Hang Tuah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30649/sbj.v1i3.32

Abstract

Pandemi COVID-19 kini telah menjadi masalah di seluruh belahan dunia. Karakteristik kasus COVID-19 harus diketahui dengan jelas untuk penanganan yang efektif sehingga luaran pasien lebih baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan karakteristik pasien suspek negatif COVID-19 dan terkonfirmasi positif COVID-19 di RSUD Sanjiwani Gianyar pada tahun 2020. Penelitian ini merupakan penelitian analitik dengan pendekatan cross-sectional pada rekam medik pasien yang dirawat dengan gejala infeksi saluran nafas. Data dianalisis dengan uji Chi-Square digunakan untuk data variabel nominal, uji paired t-test digunakan untuk variabel numerik yang terdistribusi normal sedangkan Mann-Whitney digunakan untuk variabel numerik yang terdistribusi tidak normal. Hasil penelitan ini terdapat 101 (67,3%) pasien suspek tidak terkonfirmasi COVID-19 dan 49 (32,7%) pasien terkonfirmasi positif COVID-19. Hasil analisis bivariat menunjukan tidak ada perbedaan yang bermakna antara variabel jenis kelamin, gambaran klinik, penyakit komorbid, hasil laboratorium darah lengkap, rasio NLR, derajat, hasil foto rontgen dada, lama rawat dan luaran (p>0,05), sedangkan terdapat perbedaan bermakna antara variabel usia pasien pasien suspek negatif COVID-19 dan pasien terkonfirmasi positif COVID-19 dan (p<0.05). Kesimpulan: manifestasi klinis tidak dapat membedakan pasien COVID-19 atau non-COVID, sehingga pemeriksaan baku standar mutlak dibutuhkan dalam menegakkan diagnosis COVID-19.