Kraniotomi adalah suatu tindakan bedah yang dilakukan dengan cara membedah sebagian dari tulang tengkorak, agar bisa memperoleh akses ke dalam area kepala. Meskipun prosedur ini memiliki manfaat signifikan dalam mengatasi kondisi medis yang serius, pasien yang menjalani kraniotomi sering mengalami nyeri yang intens dan berkepanjangan pasca operasi. Oleh karena itu, penanganan nyeri pasca operasi perlu segera ditangani baik penggunaan analgesik farmakologis sering kali disertai dengan risiko efek samping toleransi, dan ketergantungan. Sehingga penggunaan non farmakologis seperti terapi musik klasik dan aromaterapi peppermint bisa digunakan agar tidak menimbulkan efek nyeri dan efek samping yang berkepanjangan. Terapi musik klasik telah dikenal sebagai salah satu bentuk terapi komplementer yang mungkin dapat membantu mengurangi tingkat nyeri pasca operasi. Tujuan penelitian ini menerapkan terapi musik klasik dan aromaterapi peppermint untuk menurunkan tingkat nyeri pada pasien post kraniotomi. Metode penelitian yang digunakan yaitu quasy exsperimental pre-test post-test dengan kelompok kontrol. Instrumen pengumpulan data menggunakan kuesioner nyeri Critical-Care Pain Observation Tool(CPOT), analisa data menggunakan uji Mann whitney test. Hasil penelitian menujukkan pada kelompok kontrol terjadi penurunan rerata nyeri pasien post-kraniotomi dari 6,28 menjadi 5,93 dengan p-value 0,101 (>0,05), pada kelompok intervensi, rerata nyeri pasien menurun signifikan dari 6,14 menjadi 2,42 dengan p-value 0,001 (<0,05). Terdapat perbedaan tingkat nyeri pasien sebelum dan sesudah intervensi pada kelompok intervensi dibandingkan dengan kelompok kontrol dengan nilai Z= -7.283 dan p-value < 0.001. Pemberian terapi musik klasik dan aromaterapi peppermint dapat diintegrasikan ke dalam protokol perawatan standar bagi pasien post kraniotomi untuk manajemen nyeri bagi pasien post kraniotomi.