p-Index From 2021 - 2026
0.408
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Ngaji SAIBUMI
Al Qosam, Arvaddin Hamasy
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Imbalan Mengajar dalam Perspektif Islam: Studi Hadis Nabi Muhammad SAW dan Pandangan Ulama Al Qosam, Arvaddin Hamasy
Ngaji: Jurnal Pendidikan Islam Vol. 3 No. 1 (2023)
Publisher : Perkumpulan Sarjana Pendidikan Islam Indonesia (PSPII) Wilayah Kalimantan Barat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24260/ngaji.v3i1.48

Abstract

The writing of this article is to discuss the theory of receiving rewards or teaching wages for teachers or instructors from the hadith perspective. The purpose of this study is to explain how the concept of teaching rewards for an educator is related to Islamic religious theory. The research method used is library research and uses a qualitative approach. The data sources used in this study are divided into two, namely primary and secondary sources. The primary data source is in the form of the hadith of the prophet regarding teaching rewards, while the secondary sources are obtained from several data from scientific journals, papers, previous research results, and books related to this research. The article writing results are, (1) there is a hadith by Bukhari from Ibn Abbas which explains that it is permissible to receive wages for teaching results. (2) According to Al-Ghazali, receiving rewards from students is only permissible in the realm of teaching non-religious sciences, and it is permissible to receive rewards from educational institutions but only to meet needs, not to enrich oneself. (3) According to Al-Zarnuji, it is permissible to receive rewards from students, whether in religious or non-religious knowledge. (4) while Ibn Jama’ah argues that it is permissible to receive rewards from students, and suggests educational institutions to meet the necessary of teachers.   Abstrak: Penulisan artikel ini adalah membahas tentang teori menerima imbalan atau upah mengajar bagi para guru atau pengajar dalam sudut pandang hadis. Adapaun tujuan dari penelitian ini ialah untuk menjelaskan terkait bagaiamana konsep imbalan mengajar bagi seorang pendidik menurut teori agama Islam. Metode penelitian yang digunakan bersifat studi pustaka (library research) dan menggunakan pendekatan kualitatif. Sumber data yang digunakan pada penelitian terbagi menjadi dua, yakni sumber primer dan sekunder. Sumber data primer berupa hadis nabi tentang imbalan mengajar, sedangkan sumber sekunder diperoleh dari data beberapa jurnal ilmiah, karya tulis , hasil penelitian sebelumnya dan buku-buku yang terkait dengan penelitian ini. Hasil penulisan artikel ini adalah, (1) terdapat hadis oleh bukhari dari Ibnu Abbas yang menjelaskan terkait bolehnya menerima upah dari hasil mengajar. (2) Menurut Al-Ghazali, menerima imbalan dari murid hanya diperbolehkan pada ranah mengajar ilmu non keagamaan, dan diperbolehkan menerima dari lembaga pendidikan tetapi hanya sebatas untuk memenuhi kebutuhan, bukan untuk memperkaya diri. (3) Menurut Al-Zarnuji memperbolehkan menerima imbalan dari murid, baik dalam ilmu agama atau non agama. (4) sedangkan Ibn Jama’ah berpendapat memperbolehkan menerima imbalan dari murid, dan menyarankan kepada lembaga pendidikan untuk memenuhi kebutuhan guru. Kata Kunci: Imbalan, Islam, Mengajar
Peran Wahid Hasyim dalam Pendidikan Islam : Pembaharuan Pesantren sampai Kelahiran Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Al Qosam, Arvaddin Hamasy
Sinergi Aksi Inovasi Budaya Menulis Inspiratif Vol. 1 No. 2 (2023): Saibumi
Publisher : Loka Diklat Keagamaan Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Perkembangan pendidikan Islam di Indonesia tidak bisa terlepas dari peran Wahid Hasyim, semasa hidupnya beliau telah memberikan berbagai macam warna dalam pendidikan Islam, baik dalam ranah pesantren hingga perguruan tinggi. Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis  peran Wahid Hasyim dalam pendidikan Islam, yaitu pada ranah pembaharuan pesantren dan kelahiran PTAIN di Indonesia. Adapun metodologi penelitian yang digunakan pada penelitian ini adalah penelitian berbasis pustaka (Library Research) yang bersifat kualitatif. Adapun sumber data primer dari makalah ini adalah buku yang edit oleh Shofiyullah yang berjudul Abdul Wahid, Sejarah Pemikiran dan Baktinya bagi Agama dan Bangsa. Melalui analisis deksriptif penulis menemukan hasil berupa terdapat peran Wahid Hasyim dalam pendidikan Islam di Indonesia. Pertama, terdapat pembaharuan yang dilakukan oleh Wahid Hasyim pada pesantren, pembaharuan itu terjadi pada ranah tujuan pendidikan Islam, kurikulum pendidikan Islam dan metode pembelajaran. Kedua, Wahid Hasyim ketika menjadi menteri Agama Republik Indonesia berhasil mencetuskan lahirnya PTAIN (Perguruan Tinggi Agama Islam Negeri) yang dimana pada sekarang ini sudah berkembang baik menjadi Sekolah Tinggi, Institut maupun Universitas.   The development of Islamic education in Indonesia cannot be separated from the role of Wahid Hasyim, during his life he has provided various colors in Islamic education, both in the realm of Islamic boarding schools and universities. The aim of this research is to analyze Wahid Hasyim's role in Islamic education, namely in the realm of Islamic boarding school reform and the birth of PTAIN in Indonesia. The research methodology used in this research is library research which is qualitative in nature. The primary data source for this paper is a book edited by Shofiyullah entitled Abdul Wahid, History of Thought and Devotion to Religion and Nation. Through descriptive analysis the author found results in the form of Wahid Hasyim's role in Islamic education in Indonesia. First, there were reforms carried out by Wahid Hasyim at Islamic boarding schools, these reforms occurred in the realm of Islamic education goals, Islamic education curriculum and learning methods. Second, Wahid Hasyim, when he was Minister of Religion of the Republic of Indonesia, succeeded in sparking the birth of PTAIN (State Islamic Religious College) which has now developed into a College, Institute and University.