Batara, Frans Geril
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Tantangan dan Peluang Praktek Hospitalitas Kristen di Era Adaptasi Kebiasaan Baru (AKB) Maria, Heni; Salenda, Sari; Vivian, Ovio; Batara, Frans Geril; Pajan, Wandi Daniel
Kharisma: Jurnal Ilmiah Teologi Vol 4, No 1 (2023): JUNI
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Kharisma

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.54553/kharisma.v4i1.118

Abstract

Hospitality is a difficult thing to apply to accept and embrace foreigners who are around us after the Covid-19 pandemic. That is why through this article the author aims to describe the challenges and opportunities of Christian hospitality practice in the New Habit Adaptation Era. From the achievement of the objectives of this article, the author uses qualitative methods as an effort to collect existing data. So the purpose of this article results that under any circumstances, one of the policies that must be applied is the Christian faith and the right way of life, such as those based on Christian identity. Although it is now clear that love and friendship for all people especially for people who are different from us is not easy, but Christians have to do it, especially in the face of many problems and difficulties. Therefore, based on the meaning of love, Christians respond and understand the most beautiful form of relevant response to all the challenges and opportunities that sometimes arise, especially in dealing with all people during the pandemic to the new order. Hospitalitas merupakan hal yang sulit untuk kemudian diaplikasikan untuk menerima dan merangkul orang-orang asing yang ada disekitar pasca setelah pendemi covid-19. Itulah sebabnya melalui artikel ini penulis bertujuan untuk mendeskripsikan tantangan dan peluang dari praktek hospitalitas Kristen di masa Era Adaptasi Kebiasaan Baru. Dari tercapainya tujuan dari artikel ini maka penulis menggunakan metode kualitatif sebagai upaya untuk mengumpulan data-data yang telah ada. Sehingga tujuan dari artiekl ini menghasilkan bahwa dalam keadaan apa pun, salah satu kebijakan yang harus diterapkan adalah iman Kristen dan cara hidup yang benar, seperti keramahan yang berbasis identitas kekristenan. Meskipun sekarang jelas bahwa cinta dan persahabatan untuk semua orang terutama untuk orang yang berbeda dari kita tidak mudah, tetapi orang Kristen harus melakukannya itu, terutama dalam menghadapi banyak masalah dan kesulitan. Oleh karena itu, berdasarkan makna cinta kasih, orang Kristen menanggapi dan memahami keramahan sebagai bentuk paling indah dari respons relevan terhadap semua tantangan dan peluang yang kadang-kadang muncul, terutama dalam menyikapi semua orang selama sejak pendemi sampai pada tatanan baru.
KAJIAN TEOLOGIS MAKNA IBADAH RABU ABU DAN IMPLIKASIHNYA BAGI WARGA GEREJA TORAJA JEMAAT LIMBONG KLASIS PANGALA UTARA Batara, Frans Geril; -, Tresia Osa; Uranti, Uranti
Voice of HAMI: Jurnal Teologi dan Pendidikan Agama Kristen Vol 5, No 2 (2023): Februari 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Hagiasmos Mission

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59830/voh.v5i2.72

Abstract

Ibadah adalah tempat berhimpun jemaat kepada Tuhan yang menyatakan persekutuan dengan Tuhan dan sesama saudara seiman, tujuan dari penelitian ini adalah untuk menganalisis Makna Ibadah Rabu Abu di Jemaat Limbong Klasis Pangala’ Utara. Dalam penulisan ini, penulis meninjau bagaimana dasar dan tujuan penelitian sebagaimana penulis melihat sebuah metode yang lebih baik digunakan yaitu metode penelitian Kualitatif. Berdasarkan hasil penelitian dapat disimpulkan bahwa “kajian teologis makna ibadah rabu abu dan implikasinya bagi warga Gereja Toraja Jemaat Limbong Klasis Pangala’ Utara” adalah sebuah pertobatan dan penyerahan diri kepada Tuhan. sebagaimana yang terdapat dalam Kitab Mazmur 102:10 bahwa kata abu di pakai sebagai simbol kesedihan akan sebuah penyesalan dan pertobatan. Meskipun Jemaat Limbong suda memahami tentang makna ibadah rabu abu akan tetapi masih bayak anggota jemaat yang beranggapan bahwa ibadah rabu abu hanya sebagai formalitas saja.