Radja, Nikolaus Tabe
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

Kebebasan Beragama sebagai Hak Minoritas Menurut Multikulturalisme Will Kymlicka (Pengalaman Gereja Stasi St. Yosep Maluk): Freedom of Religion as a Minority Right According to Will Kymlicka's Multiculturalism (Experience of the St. Joseph Maluk Church) Radja, Nikolaus Tabe
Jurnal Filsafat Indonesia Vol. 8 No. 2 (2025)
Publisher : Undiksha

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23887/jfi.v8i2.86408

Abstract

The focus of this study is to elaborate and criticize the church life of St. Yosep Maluk Church in fighting for its faith. The effort of the people in fighting for faith in Christ is a challenging journey. The presence of the Gold Mining Industry there since 30 years ago invited many people to come to work, including those who were Catholic. The church was first formed because the miners longed for spiritual nourishment through the Eucharist. However, their efforts to fight for their rights as religious people have encountered obstacles because until now they do not have a church to worship. Church life at St. Yosep Maluk Church is a form of minority rights that must be guaranteed by the state and society. The purpose of this study is to analyze the presence of people in St. Yosep Maluk Church as a minority that must be considered in the system of living together. The methodology used in this study is an interpretative methodology by conducting depth interviews and studying related literature. The findings of this study are that minority groups are first recognized and their rights are protected in order to create a tolerant and multicultural society.
Menjadi Manusia Berhikmat di Tengah Bayang-Bayang Kecerdasan Buatan (AI) Menurut Amsal 4:1-9 Radja, Nikolaus Tabe; Budiono , Ignasius
Seri Filsafat Teologi Vol. 35 No. 34 (2025)
Publisher : Sekolah Tinggi Widya Sasana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35312/serifilsafat.v35i34.282

Abstract

Fokus penelitian ini adalah menelusuri bagaimana manusia memperoleh hikmat di tengah arus besar perkembangan Kecerdasan Buatan atau Artificial Intelligence (AI). Akhir-akhir ini AI tidak hanya menjadi penemuan, melainkan gaya hidup. Bahkan AI menjadi bagian dari hidup manusia itu sendiri. Pengaruh AI yang mendominasi berbagai aspek kehidupan membuat manusia sangat bergantung padanya. Situasi demikian membuat manusia berpikir apa yang menjadi bagian khas dalam dirinya, sebab semuanya sudah diambil alih oleh AI. Manusia berada fase krisis karena tidak berdaya dengan AI dan segala kecanggihannya. Menurut Amsal 4:1-9 nilai yang khas dalam diri manusia sekaligus tidak ada dalam AI adalah hikmat. Hikmat adalah nilai yang harus dikejar dan dipelihara dengan sungguh oleh manusia. Tujuan dari penelitian ini adalah memberikan penegasan bahwa hikmat adalah hal yang perlu diperjuangkan manusia untuk memperoleh kepenuhannya. Metode yang digunakan adalah analisis sintaksis dan semantik tentang hikmat lalu dihubungkan dengan AI sebagai produk kecerdasan manusia. Penulis menemukan bahwa hikmat tidak dapat ditemukan dalam AI atau produk kecerdasan lainnya, melainkan dalam diri manusia. Hikmat membuat manusia untuk hidup dalam kebenaran, dan tidak dikendalikan oleh situasi atau kemajuan dunia. Manusia harus sampai pada pengenalan akan dirinya melalui hikmat, sekalipun berada di bawah bayang-bayang AI.
SEMANGAT PERSAUDARAAN TAREKAT HIDUP BAKTI DALAM KESATUAN DENGAN YESUS Radja, Nikolaus Tabe; Endi , Yohanes
SAPA - Jurnal Kateketik dan Pastoral Vol 7 No 1 (2022)
Publisher : Sekolah Tinggi Pastoral IPI Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53544/sapa.v7i1.351

Abstract

Fokus dari tulisan ini adalah merefleksikan persatuan dengan Kristus melalui semangat persaudaraan tarekat hidup bakti. Metodologi yang dilakukan adalah refleksi kritis atas dokumen Vita Concecrata dan menghubungkannya dengan ajaran Hukum Gereja mengenai Tarekat Hidup Bakti (Kan. 662-672). Dokumen Vita Concecrata dengan sangat rinci menjelaskan dinamika hidup membiara serta semangat yang menjiwai tarekat hidup bakti. Persekutuan merupakan hal yang sangat vital dalam hidup religius karena berakar dari dari semangat Kristus dan ajaran-ajaran tradisional Gereja. Semangat persaudaraan sangat berpengaruh bagi panggilan hidup religius. Temuan tulisan ini adalah semangat persaudaraan merupakan jalan penting dalam mencintai Kristus melalui tiga nasihati Injil. Dalam perjuangannya mencintai Kristus, religius membutuhkan yang lain dari rekan seperjalanan dalam semangat kebersamaan serta persaudaraan. Para religius diajak untuk membangun suatu persekutuan kasih, di mana tidak ada yang lebih mendominasi, hidup dalam persatuan, namun tetap teguh pada otonomi masing-masing. Religius diajak hidup dalam pembebasan sejati, yakni kembali merasakan kasih dan mewujudkan persekutuan sebagaimana diteladankan Trinitas dalam keabadian.