Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search

Musical Language as Humanities Discourse: Ecological Criticism in Navicula’s Songs Sofyaningrun, Rosita
Metafora: Education, Social Sciences and Humanities Journal Vol. 9 No. 1 (2025): Social Academic
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/metafora.v9n1.p56-69

Abstract

Abstract Song lyrics play an important role in conveying social and environmental messages to the public. This study analyzes the lyrics of Navicula’s songs as a reflection and influence on social discourse regarding the environmental crisis. Using a critical discourse analysis method, this research examines how Navicula's lyrics depict ecological issues such as deforestation, wildlife exploitation, urban pollution, and environmental degradation. The findings reveal that Navicula's lyrics not only represent the reality of the environmental crisis but also serve as an advocacy tool that fosters collective awareness and promotes social action. Through the use of straightforward, metaphorical, and ironic language, Navicula’s songs effectively critique unsustainable environmental policies and challenge the concept of green capitalism. These findings contribute to the advancement of knowledge in the field of education, particularly in utilizing music as a critical learning medium for environmental awareness. By understanding how song lyrics can build ecological consciousness, this study provides new insights for educators in developing art-based teaching methods to enhance students' understanding of environmental issues. Keywords: Song lyrics, Navicula, Environmental Crisis, Social Discourse, Ecological Awareness Abstrak Lirik lagu memiliki peran penting dalam menyampaikan pesan sosial dan lingkungan kepada masyarakat. Penelitian ini menganalisis lirik lagu-lagu Navicula sebagai refleksi dan pengaruh terhadap wacana sosial tentang krisis lingkungan. Dengan menggunakan metode analisis wacana kritis, penelitian ini mengkaji bagaimana lirik lagu-lagu Navicula menggambarkan isu-isu ekologis seperti deforestasi, eksploitasi satwa liar, polusi urban, dan pencemaran lingkungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lirik lagu Navicula tidak hanya merepresentasikan realitas krisis lingkungan tetapi juga berfungsi sebagai alat advokasi yang mampu membentuk kesadaran kolektif dan mendorong aksi sosial. Melalui penggunaan bahasa yang lugas, metaforis, dan penuh ironi, lagu-lagu Navicula berhasil mengkritisi kebijakan lingkungan yang tidak berkelanjutan serta menantang konsep kapitalisme hijau. Temuan ini berkontribusi terhadap perkembangan ilmu pengetahuan di bidang pendidikan, khususnya dalam pemanfaatan musik sebagai media pembelajaran kritis tentang lingkungan. Dengan memahami bagaimana lirik lagu dapat membangun kesadaran ekologi, penelitian ini memberikan wawasan baru bagi pendidik dalam mengembangkan metode pengajaran berbasis seni untuk meningkatkan pemahaman siswa tentang isu lingkungan. Kata Kunci: Lirik lagu, Navicula, Krisis Lingkungan, Wacana Sosial, Kesadaran Ekologi
The Dynamics of Power in the Political Discourse of Najwa Shihab and Prabowo Subianto on the Police Bill (RUU Polri) Radianti, Ruly Aprilia; Sofyaningrun, Rosita
The Future of Education Journal Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v5i1.1629

Abstract

This study examines the dynamics of power in political discourse through a critical discourse analysis of the dialogue between Najwa Shihab and Prabowo Subianto concerning the Draft Law on the Indonesian National Police. The research aims to reveal how power relations between media and the state are constructed, negotiated, and maintained through language. Employing a qualitative approach, this study applies Norman Fairclough’s three dimensional model of Critical Discourse Analysis, encompassing textual analysis, discursive practice, and social practice. The data consist of fifteen selected excerpts from the televised dialogue, which are analyzed as complete discursive events. The findings indicate that at the textual level, Najwa Shihab employs evaluative diction, oppositional structures, and critical interrogative forms to problematize the draft law and challenge state authority, while Prabowo Subianto utilizes declarative, normative, and imperative expressions to assert legitimacy and institutional power. At the level of discursive practice, the media exercises discursive control by framing issues around public concerns and directing the flow of interaction, whereas the state adopts defensive and justificatory strategies to normalize policy decisions and limit criticism. At the level of social practice, the discourse reflects broader democratic tensions in Indonesia related to transparency, public participation, and the centralization of state power. The study concludes that the dialogue functions not merely as an informative interview but as a political arena where media and state actors compete discursively to shape meaning, legitimacy, and public opinion.
JEJAK LUKA DALAM RELASI SOSIAL MANUSIA DALAM NOVEL CANTIK ITU LUKA BERDASARKAN PERSPEKTIF SOSIOLOGI SASTRA Sofyaningrun, Rosita; Rofiudin, Agus
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i2.2116

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan representasi relasi sosial dalam novel Cantik Itu Luka karya Eka Kurniawan dengan menelaah interaksi antartokoh sebagai cerminan masyarakat Indonesia pada masa kolonial dan pascakolonial. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan sosiologi sastra. Data diperoleh melalui teknik pembacaan intensif (close reading) dan dianalisis secara interpretatif dengan memfokuskan pada interaksi sosial, relasi kuasa, dinamika gender, serta struktur kelas yang tergambar dalam narasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa relasi sosial dalam novel tersebut dibentuk oleh persilangan ketimpangan kelas, dominasi patriarki, dan kekuasaan kolonial yang secara kolektif melahirkan luka sosial, baik pada tingkat individu maupun komunitas. Tokoh-tokoh perempuan diposisikan sebagai subjek yang termarginalkan dan mengalami penindasan berlapis, sedangkan otoritas laki-laki dan kolonial berperan sebagai agen yang mempertahankan struktur sosial yang hierarkis dan timpang. Penelitian ini mengungkap bahwa relasi kuasa, gender, dan kelas tidak bekerja secara terpisah, melainkan berlangsung secara simultan sehingga menghasilkan kekerasan sosial yang bersifat sistemik, bukan sekadar bentuk penindasan yang terisolasi. Kebaruan penelitian ini terletak pada analisis integratif mengenai luka sosial sebagai akumulasi dari relasi kuasa yang saling berkelindan, sehingga menawarkan pembacaan sosiologis yang lebih komprehensif terhadap novel tersebut. Penelitian ini berkontribusi pada kajian sosiologi sastra dengan memperdalam pemahaman tentang kritik sosial dan ketimpangan struktural dalam sastra Indonesia modern.
Symbolism of Identity and Death in the Short Story Kayu Nisan Terakhir: A Structural and Interpretative Study Sofyaningrun, Rosita; Mustofa, Akhmad Sulton Ali
The Future of Education Journal Vol 5 No 1 (2026)
Publisher : Lembaga Penerbitan dan Publikasi Ilmiah Yayasan Pendidikan Tumpuan Bangsa

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61445/tofedu.v5i1.1671

Abstract

This study aims to examine the reflection of identity and death through symbolism in the short story Kayu Nisan Terakhir. The research employs a qualitative approach using a descriptive-analytical method, through structural and semiotic readings of narrative elements and the network of symbols within the text. The findings reveal that the themes of identity and death form the central framework of meaning, which is integratively expressed through symbols such as the gravestone, burial space, and silence. These symbols do not stand independently but are interconnected in constructing an existential reflection on human mortality and the limitations of social identity. Death is represented as a universal inevitability that dissolves the boundaries of worldly identity while simultaneously evoking both tranquility and emptiness. The structural relationship between theme and symbolism produces a unified, profound, and reflective meaning. Thus, the short story demonstrates how symbolism functions as both an aesthetic and philosophical device in constructing meanings about life and death.
PERJUANGAN IDENTITAS PEREMPUAN BALI DALAM NOVEL TARIAN BUMI KARYA OKA RUSMINI KAJIAN FEMINISME EKSISTENSIALISME SIMONE DE BEAUVOIR Sofyaningrun, Rosita; Pangestuti, Tri
Jurnal Bastra (Bahasa dan Sastra) Vol. 11 No. 2 (2026): JURNAL BASTRA EDISI APRIL 2026
Publisher : Program Studi Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia, FKIP, Universitas Halu Oleo Kampus Bumi Tridharma Andounohu Kendari, Provinsi Sulawesi Tenggara – Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36709/bastra.v11i2.2585

Abstract

Penelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk penindasan dan perjuangan tokoh perempuan dalam memperoleh eksistensinya sebagai subjek dalam novel Tarian Bumi karya Oka Rusmini. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan perspektif feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir. Data berupa kutipan narasi dan dialog yang menunjukkan pengalaman tokoh perempuan. Data dikumpulkan melalui teknik baca dan catat, kemudian dianalisis dengan mengelompokkan bentuk penindasan dan bentuk perjuangan eksistensial tokoh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa tokoh perempuan mengalami subordinasi, marginalisasi, stereotip, dan kontrol patriarkal akibat sistem kasta dan budaya patriarki. Namun, tokoh perempuan juga menunjukkan perjuangan melalui kesadaran diri, keberanian memilih, keteguhan identitas, dan transendensi diri. Penelitian ini menyimpulkan bahwa meskipun tokoh perempuan mengalami berbagai bentuk penindasan, ia mampu memperoleh eksistensinya sebagai subjek melalui pilihan sadar dan tanggung jawab atas hidupnya sendiri.
Crisis of Humanity in Human–Nature Relations in Seno Gumira Ajidarma’s Macan Sofyaningrun, Rosita; Rudi, Rudi
Metafora: Education, Social Sciences and Humanities Journal Vol. 10 No. 1 (2026): Social Humaniora Research
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Politik, Universitas Negeri Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26740/metafora.v10n1.p1-14

Abstract

Abstract The short story Macan by Seno Gumira Ajidarma presents a sharp critique of human behavior that often disrupts environmental balance and disregards harmonious relationships with nature. This study aims to analyze the conflict between humans and nature depicted in the short story through an ecocritical approach. The primary focus of the research is on human dominance over nature, criticism of environmentally destructive behavior, and its impact on raising awareness and changing societal attitudes toward human-environment relationships. A descriptive-qualitative method is employed to explore representations of human-nature conflict, human dominance, and the symbolism contained in the story. Text analysis and literature review reveal how Macan portrays injustice, indifference, and human domination over the environment, both through physical conflicts such as wildlife hunting and symbolic elements reflecting nature’s attempts to maintain balance. The ecocritical critique in this short story highlights the negative impacts of human activities on the environment, the importance of moral reflection, and the need for ecological responsibility. This study not only enriches ecocritical literary studies in Indonesia but also encourages societal behavioral change toward more environmentally friendly practices through the reflections presented in this literary work. Keywords: Macan, Ecocritics, Human, Nature, Crisis Abstrak Cerita pendek Macan karya Seno Gumira Ajidarma menyajikan kritik tajam terhadap perilaku manusia yang kerap merusak keseimbangan lingkungan dan mengabaikan hubungan harmonis dengan alam. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konflik antara manusia dan alam yang digambarkan dalam cerita pendek tersebut melalui pendekatan ekokritik. Fokus utama penelitian ini adalah pada dominasi manusia terhadap alam, kritik terhadap perilaku perusakan lingkungan, serta dampaknya dalam meningkatkan kesadaran dan mengubah sikap masyarakat terhadap hubungan manusia–lingkungan. Metode deskriptif kualitatif digunakan untuk menggali representasi konflik manusia–alam, dominasi manusia, dan simbolisme yang terkandung dalam cerita. Analisis teks dan kajian pustaka menunjukkan bagaimana Macan menggambarkan ketidakadilan, ketidakpedulian, dan dominasi manusia atas lingkungan, baik melalui konflik fisik seperti perburuan satwa liar maupun unsur simbolik yang mencerminkan upaya alam mempertahankan keseimbangan. Kritik ekokritik dalam cerita pendek ini menyoroti dampak negatif aktivitas manusia terhadap lingkungan, pentingnya refleksi moral, dan perlunya tanggung jawab ekologis. Penelitian ini tidak hanya memperkaya kajian sastra ekokritik di Indonesia, tetapi juga mendorong perubahan perilaku masyarakat menuju praktik yang lebih ramah lingkungan melalui refleksi yang disampaikan dalam karya sastra tersebut. Kata Kunci: Macan, Ekokritik, Manusia, Alam, Krisis