Penelitian ini bertujuan untuk menguji dampak toxic leadership terhadap intensi keluar kerja melalui peran mediasi stres kerja, serta menguji peran dukungan rekan kerja sebagai moderator pada hubungan toxic leadership dan stres kerja. Toxic leadership dapat meningkatkan stres kerja, sehingga menambah peluang individu untuk meninggalkan organisasi. Dalam hal ini, dukungan rekan kerja diharapkan dapat membantu mengurangi efek negatif toxic leadership terhadap stres kerja. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif non eksperimental dengan menggunakan kuesioner. Survei dilakukan dengan melibatkan 417 karyawan Generasi Z di Jakarta yang diperoleh melalui teknik convenience sampling. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah Toxic Leadership Scale, Intention to Leave Scale, Job Stress Scale dan Coworker Support Scale. Analisis data menggunakan tes sobel dan structural equation model (SEM) menggunakan AMOS. Hasil penelitian menunjukkan bahwa toxic leadership berpengaruh terhadap stres kerja, yang pada gilirannya memicu niat karyawan Gen Z untuk meninggalkan pekerjaan. Dalam hal ini, dukungan rekan kerja menunjukkan pengaruh signifikan dalam meredakan stres yang disebabkan oleh toxic leadership. Temuan ini menggarisbawahi pentingnya organisasi untuk mengatasi fenomena toxic leadership demi kesejahteraan karyawan dan keberlanjutan organisasi. Hasil penelitian ini diharapkan memberikan wawasan bagi organisasi dalam mengembangkan intervensi yang lebih efektif untuk menciptakan lingkungan kerja yang positif, serta mengurangi tingkat turnover dalam organisasi. This study aims to examine the impact of toxic leadership on turnover intention through the mediating role of work stress, as well as examine the role of coworker support as a moderator in the relationship between toxic leadership and work stress. Toxic leadership can increase work stress, thus increasing the chances of individuals leaving the organization. In this case, coworker support is expected to help reduce the negative effects of toxic leadership on work stress. This study uses a quantitative research method using a questionnaire. The survey was conducted involving 417 Generation Z employees in Jakarta obtained through convenience sampling technique. The measuring instruments used in this study are Toxic Leadership Scale, Intention to Leave Scale, Job Stress Scale and Coworker Support Scale. Data analysis used sobel test and structural equation model (SEM) by AMOS. This study found that toxic leadership affects work stress, which in turn triggers Gen Z employees' intention to leave work. In this study, coworker support show a significant effect in relieving stress caused by toxic leadership. These findings underscore the importance of organizations to address the phenomenon of toxic leadership for employee well-being and organizational sustainability. The results of this study are expected to provide insights for organizations in developing more effective interventions to create a positive work environment, as well as reducing turnover rates in organizations.