Holida, Siti Solihat
Unknown Affiliation

Published : 4 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 4 Documents
Search

Hubungan kecemasan dan kemandirian adl pada lansia hipertensi Holida, Siti Solihat; Amrulloh, Erik
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 2 (2025): July Edition 2025
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i2.1057

Abstract

Background: Anxiety is a psychological disorder in which individuals often experience recurring feelings of fear or worry, leading to loss of concentration and an inability to carry out daily activities effectively. As a result, elderly individuals may experience a decline in their level of independence in performing activities of daily living (ADL). Purpose: To determine the relationship between anxiety levels and the level of independence in ADL among elderly individuals with hypertension in Maruyung Village, Pacet District, Bandung Regency. Method: A quantitative study using a correlational design with a cross-sectional approach. The sample consisted of 65 respondents. Data were collected using a questionnaire and analyzed using the Spearman rank correlation test. Results: Nearly half of the respondents experienced minimal anxiety (30 respondents or 46.2%), while a small portion experienced severe anxiety (1 respondent or 1.5%). Regarding ADL independence, nearly half of the respondents were in the Independent category (29 respondents or 44.6%), and a small number were totally dependent (1 respondent or 1.5%). Conclusion: The Spearman rank test revealed a significant relationship between anxiety levels and ADL independence, with a p-value of 0.000 < α (0.05), indicating that the null hypothesis (H₀) was rejected. Therefore, it can be concluded that there is a very strong and statistically significant negative correlation between anxiety levels and ADL independence. This means that the higher the level of anxiety, the lower the level of independence among elderly individuals. Keywords: Activities of Daily Living; Anxiety; Elderly; Independence. Pendahuluan: Kecemasan (anxiety) merupakan suatu gangguan psikologis di mana individu yang mengalaminya sering kali merasakan ketakutan atau kekhawatiran yang berulang. Kondisi ini dapat menyebabkan hilangnya konsentrasi dan menghambat individu dalam menjalankan aktivitas sehari-hari secara optimal. Pada lansia, kecemasan dapat berdampak pada penurunan tingkat kemandirian dalam melakukan aktivitas kehidupan sehari-hari (Activity of Daily Living/ADL). Tujuan: Untuk mengetahui hubungan antara tingkat kecemasan dengan tingkat kemandirian aktivitas kehidupan sehari-hari (ADL) pada lansia hipertensi di Desa Maruyung, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Metode: Pendekatan kuantitatif dengan desain studi korelasional dan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 65 responden, dan instrumen yang digunakan adalah kuesioner. Data dianalisis menggunakan uji korelasi Spearman rank. Hasil: Hampir setengah dari responden memiliki tingkat kecemasan dalam kategori kecemasan minimal, yaitu sebanyak 30 orang (46.2%), dan sebagian kecil mengalami kecemasan berat, yaitu 1 orang (1.5%). Sementara itu, tingkat kemandirian ADL menunjukkan bahwa hampir setengah dari responden berada dalam kategori mandiri, yaitu 29 orang (44.6%), dan sebagian kecil berada dalam kategori ketergantungan total, yaitu 1 orang (1.5%). Simpulan: Hasil uji Spearman rank menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara tingkat kecemasan dan tingkat kemandirian ADL dengan nilai p-value (0.000) < α (0.05), sehingga H₀ ditolak. Dengan demikian, dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang sangat kuat antara tingkat kecemasan dengan tingkat kemandirian ADL, dengan arah korelasi negatif. Artinya, semakin tinggi tingkat kecemasan, maka semakin rendah tingkat kemandirian lansia. Kata Kunci: Aktivitas Kehidupan Sehari-Hari; Lansia; Tingkat Kecemasan; Tingkat Kemandirian.
Sosialisasi SADARI sebagai strategi efektif membangun ketahanan kesehatan reproduksi Holida, Siti Solihat; Yusdian, Yudi
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 5 (2025): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i5.1265

Abstract

Background: Pest control with pesticides effectively increases agricultural yields, but exposure to synthetic compounds such as organophosphates carries the risk of neurological damage, reproductive disorders, and carcinogenesis, including increased incidence of breast cancer. Students from the Faculty of Agriculture, Bale University, Bandung, are vulnerable to exposure during field practice, while their knowledge of early breast cancer detection remains low. The Breast Self-Examination (SADARI) education program is proposed as a low-cost and practical preventive measure to increase awareness and early detection skills. This initiative supports students' role as agents of change in strengthening the health of rural communities. Purpose: To increase knowledge and awareness among students from the Faculty of Agriculture, Bale University, Bandung, regarding reproductive health and SADARI as an early detection method for breast cancer. Method: The type of activity carried out was health education to the community with the theme "Socialization of BSE and Clinical Breast Examination: An Effective Strategy to Build Reproductive Health Resilience in Agricultural Students." The target of this activity was 23 third-semester students, who were of productive age and vulnerable to various reproductive health risks. The first activity was held on Saturday, March 23, 2024, from 08.00 WIB to 15.00 WIB. at the Faculty of Agriculture Experimental Garden, in the form of demonstrations and direct practice by participants, such as breast self-examination (BSE) simulations, which are an important part in developing participants' practical skills. The second activity was held on Monday, April 1, 2024, from 08.00 WIB to 15.00 WIB. in the classroom, participants were given educational materials regarding reproductive health, breast cancer risk factors, and steps to perform BSE correctly, which were delivered through presentations, educational videos, and interactive discussions to explore participants' understanding and provide a question and answer space. Results: The pre-test showed that 7 (30.4%) respondents' knowledge of early detection and breast cancer risk was in the good category, 12 (52.2%), and 4 (17.4%) were in the poor category. Meanwhile, the post-test respondents' knowledge of early detection and breast cancer risk was all in the good category, at 23 (100.0%). Conclusion: The community service activity themed Breast Self-Examination (SADARI) education and outreach for agricultural students was implemented smoothly and successfully increased participants' knowledge, awareness, and skills in maintaining reproductive health and conducting early breast cancer detection. Through a combination of theoretical counseling and direct practice, students gained conceptual understanding and practical experience as health education agents in the community, particularly in rural areas. Suggestion: It is hoped that this activity will be carried out continuously by participants, thereby encouraging independent SADARI practice and disseminating information and correct health practices in rural areas and the agricultural sector, which will be the participants' primary service areas, as a form of preventive behavior in maintaining reproductive health. Keywords: Breast cancer prevention; Pesticide exposure; Reproductive health; SADARI method Pendahuluan: Pengendalian hama dengan pestisida efektif meningkatkan hasil pertanian, namun paparan senyawa sintetik seperti organofosfat berisiko memicu kerusakan neurologis, gangguan reproduksi, dan karsinogenesis, termasuk meningkatnya insiden kanker payudara. Mahasiswa Fakultas Pertanian Universitas Bale Bandung rentan terpapar saat praktik lapangan, sementara pengetahuan deteksi dini kanker payudara di kalangan mereka masih rendah. Program edukasi mandiri SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) diusulkan sebagai langkah preventif murah dan praktis untuk meningkatkan kesadaran dan keterampilan deteksi dini. Inisiatif ini mendukung peran mahasiswa sebagai agen perubahan dalam memperkuat kesehatan masyarakat pedesaan. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan dan kesadaran Mahasiswa fakultas pertanian Universitas Bale Bandung  tentang kesehatan reproduksi dan SADARI sebagai upaya deteksi dini terhadap kanker payudara. Metode: Jenis kegiatan yang dilaksanakan berupa pendidikan kesehatan kepada masyarakat dengan mengusung tema “Sosialisasi SADARI dan Pemeriksaan Klinis Payudara: Strategi Efektif Membangun Ketahanan Kesehatan Reproduksi Mahasiswa Pertanian.” Sasaran kegiatan ini adalah 23 mahasiswa semester III, yang berada pada usia produktif dan rentan terhadap berbagai risiko kesehatan reproduksi. Kegiatan pertama dilaksanakan pada hari sabtu tanggal 23 Maret 2024, mulai pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. di Kebun Percobaan Fakultas Pertanian, berupa demonstrasi dan praktik langsung oleh peserta, seperti simulasi pemeriksaan payudara sendiri (SADARI), yang menjadi bagian penting dalam membentuk keterampilan praktis peserta. Kegiatan kedua dilaksanakan pada hari senin tanggal 1 April 2024, pukul 08.00 WIB hingga 15.00 WIB. di ruang kelas, peserta diberikan materi edukatif mengenai kesehatan reproduksi, faktor risiko kanker payudara, serta langkah-langkah melakukan SADARI dengan benar, yang disampaikan melalui presentasi, video edukatif, dan diskusi interaktif untuk menggali pemahaman peserta serta memberikan ruang tanya jawab. Hasil: Menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan responden tentang deteksi dini dan risiko kanker payudara pre-test dalam kategori baik sebanyak 7 (30.4%), kategori cukup sebanyak 12 (52.2%), dan kategori kurang sebanyak 4 (17.4%). Sedangkan tingkat pengetahuan responden tentang deteksi dini dan risiko kanker payudara post-test semuanya dalam kategori baik yaitu sebanyak 23 (100.0%). Simpulan: Kegiatan pengabdian masyarakat bertema edukasi dan sosialisasi SADARI (Pemeriksaan Payudara Sendiri) bagi mahasiswa pertanian telah terlaksana dengan lancar dan berhasil meningkatkan pengetahuan, kesadaran, dan keterampilan peserta dalam menjaga kesehatan reproduksi serta melakukan deteksi dini kanker payudara. Melalui kombinasi penyuluhan teori dan praktik langsung, mahasiswa memperoleh pemahaman konseptual sekaligus pengalaman aplikatif sebagai agen edukasi kesehatan di masyarakat, khususnya di wilayah pedesaan. Saran: Diharapkan kegiatan ini dilakukan secara berkelanjutan oleh peserta, sehingga dapat mendorong praktik SADARI secara mandiri dan menyebarluaskan informasi serta praktik kesehatan yang benar di lingkungan pedesaan dan sektor pertanian yang menjadi wilayah pengabdian utama peserta kelak, sebagai bentuk perilaku preventif dalam menjaga kesehatan reproduksi.
Factors related to smoking behaviour among adolescent girls Holida, Siti Solihat; Lupianti, Meisya; Yuliana, Lia
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 4 No. 5 (2026): January Edition 2026
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v4i5.2176

Abstract

Background: Smoking behaviour among adolescent girls is a growing public health concern, influenced by peers, parental guidance, and social environment. These factors play a critical role in shaping norms and smoking habits. Purpose: To determine the factors related to smoking behavior among adolescent girls. Methods: A cross-sectional design was used with a total population of 76 female adolescents. Data were collected using a structured online questionnaire via Google Forms, measuring smoking behaviour and the influence of peers, parents, and social environment. Univariable analysis described respondent characteristics, while bivariate analysis using the Chi-square test examined the association between variables, with a significance level of p < 0.05. Results: The study found that 53.9% of respondents were active smokers. Bivariate analysis indicated that peer influence (p = 0.031) and social environment (p = 0.009) were significantly associated with smoking behaviour, whereas parental influence was not statistically significant (p = 0.131). Adolescents with influential peers and a permissive social environment were more likely to smoke. Conclusion: Smoking behaviour among female adolescents is significantly influenced by peers and social environment, while parental influence shows no significant association in this age group. Preventive interventions should focus on strengthening positive social influences and controlling environmental factors to reduce the risk of smoking among adolescent girls. Keywords: Adolescent Girls; Parental Influence; Peer Influence; Smoking Behaviour; Social Environment.
Peningkatan pengetahuan pola makan sehat untuk pencegahan gastritis pada petani Holida, Siti Solihat; Safari, Ganjar; Yuliana, Lia
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 5 No. 12 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v5i12.2606

Abstract

Background: Gastritis is a common digestive health problem among productive age groups, including farmers, due to irregular eating patterns and inappropriate food choices. Farmers' physically demanding work activities and long working hours often lead to delayed mealtimes, increasing the risk of gastritis. Purpose: To increase farmers' knowledge about healthy eating habits as a means of preventing gastritis. Method: This community service activity was conducted on January 18th in Mekarsari Village, Cimaung District, involving 10 farmers as respondents. This community service activity used an educational and participatory approach based on community nursing, oriented towards increasing knowledge and empowering farmers in gastritis prevention efforts through the implementation of healthy eating habits. The extension material was delivered through interactive lectures supported by posters and leaflets, combined with discussions and questions and answers. Respondents' knowledge levels were measured using questionnaires administered before and after the educational activity (pre-test) and after the educational activity (post-test). A descriptive qualitative evaluation was conducted by comparing changes in respondents' knowledge levels between before and after the educational activity. Results: The average age of respondents was 39.2 years with a standard deviation of ±8.79 years. Most respondents were aged 40–49 years (40.0%). 50.0% of respondents were male and 50.0% were female. The educational level of respondents was 40.0% elementary school graduates, 40.0% junior high school graduates, and 20.0% high school graduates. The majority of respondents had worked as farmers for >10 years (6 respondents) and most respondents had a history of stomach complaints (8 respondents) (80.0%). There was an increase in respondents' knowledge about diet and gastritis prevention to 80.0% (post-test) in the good category from 60.0% before the educational activity (pre-test). Conclusion: The Community Service (PKM) activity, which provided education on healthy eating patterns for farmers, effectively increased participants' knowledge of healthy eating principles and gastritis prevention efforts. This activity also provided relevant benefits that can be continued and developed as a promotional and preventive program in the community, particularly for groups of farmers at risk of gastric health problems, thereby contributing to improving community health. Suggestion: It is hoped that the community will apply and share health information related to the knowledge gained regarding regular mealtimes and selecting safe foods for the stomach in their daily lives. Community Health Centers are also expected to collaborate with relevant parties to ensure the sustainability of community-based health education programs as a promotional and preventive effort, particularly in preventing gastritis. Keywords: Health education; Gastritis; Community health; Farmers; Healthy eating patterns Pendahuluan: Gastritis merupakan salah satu masalah kesehatan saluran cerna yang sering dialami oleh kelompok usia produktif, termasuk petani, akibat pola makan yang tidak teratur dan pemilihan makanan yang kurang sesuai. Aktivitas kerja petani yang menuntut fisik tinggi dan waktu kerja panjang sering kali menyebabkan keterlambatan waktu makan sehingga meningkatkan risiko terjadinya gastritis. Tujuan: Meningkatkan pengetahuan petani mengenai pola makan sehat sebagai upaya pencegahan gastritis. Metode: Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan pada tanggal 18 Januari di Desa Mekarsari, Kecamatan Cimaung, dengan melibatkan 10 orang petani sebagai responden. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini dilaksanakan dengan pendekatan edukatif dan partisipatif berbasis keperawatan komunitas, yang berorientasi pada peningkatan pengetahuan serta pemberdayaan petani dalam upaya pencegahan gastritis melalui penerapan pola makan sehat. Materi penyuluhan disampaikan melalui ceramah interaktif yang dibantu media poster dan leaflet serta dikombinasikan dengan diskusi dan tanya-jawab. Tingkat pengetahuan responden diukur menggunakan kuesioner yang dilakukan sebelum kegiatan edukasi (pre-test) dan sesudah kegiatan edukasi (post-test). Evaluasi secara deskriptif kualitatif dengan membandingkan perubahan tingkat pengeteahuan responden antara sebelum kegiatan edukasi dengan sesudah kegiatan edukasi. Hasil: Menunjukkan bahwa rata-rata usia responden adalah 39.2 tahun dengan standar deviasi ±8.79 tahun, sebagian besar responden berusia 40–49 tahun sebesar 40.0%. Responden yang berjenis kelamin laki-laki sebesar 50.0% dan berjenis kelamin perempuan juga sebesar 50.0%. Tingkat pendidikan responden yaitu sebesar 40.0% adalah tamatan SD, sebesar 40.0% adalah tamatan SMP, dan sebesar 20.0% adalah tamatan SMA. Mayoritas responden memiliki status pekerjaan sebagai petani selama >10 tahun yaitu sebesar 60.0%, dan sebagian besar responden memiliki riwayat keluhan pada lambungnya yaitu sebanyak 8 responden (80.0%). Terdapat peningkatan pengetahuan responden tentang pola makan dan pencegahan gastritis dalam kategori baik menjadi sebesar 80.0% (post-test) dari sebesar 60.0% sebelum kegiatan edukasi (pre-test). Simpulan: Kegiatan Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) berupa edukasi pola makan sehat pada petani secara efektif memberikan peningkatan pengetahuan peserta mengenai prinsip pola makan sehat dan upaya pencegahan gastritis. Kegiatan ini juga memberikan manfaat yang relevan untuk dilanjutkan dan dikembangkan sebagai program promotif dan preventif di masyarakat, khususnya pada kelompok petani dengan risiko gangguan kesehatan lambung sehingga berkontribusi dalam meningkatkan derajat kesehatan komunitas. Saran: Diharapkan kepada masyarakat dapat menerapkan dan saling berbagi informasi kesehatan terkait pengetahuan yang telah diperoleh mengenai keteraturan waktu makan dan pemilihan jenis makanan yang aman bagi lambung dalam kehidupan sehari-hari. Diharapkan juga kepada Puskesmas untuk melakukan kolaborasi dengan pihak terkait dalam menjamin program edukasi kesehatan berbasis komunitas dapat berjalan secara berkelanjutan sebagai upaya promotif dan preventif, khususnya dalam pencegahan penyakit gastritis.