Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Fenomena Campur Kode dalam Interaksi Digital Gen Z: Analisis Sosiolinguistik Kolom Komentar TikTok P, Febrian Tegar
sarasvati Vol 7, No 1 (2025)
Publisher : Universitas Wijaya Kusuma Surabaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30742/sv.v7i1.4543

Abstract

This study investigates the phenomenon of code-mixing in the digital interactions of Generation Z on TikTok through a sociolinguistic approach. Generation Z often mixes two languages, particularly Indonesian and English, in single utterances to express social identity, emotions, and digital communication style. The study employs a qualitative descriptive method, analyzing TikTok comments from the account @jeromepolin98 to identify the forms and functions of code-mixing. The analysis reveals three main types of code-switching: tag switching, intersentential switching, and intrasentential switching. Code-mixing serves various functions, including self-expression, identity reinforcement, humor, religiosity, and social prestige. This linguistic phenomenon reflects not only the bilingual ability of Gen Z but also their linguistic adaptability to the global communication demands in digital spacesPenelitian ini mengkaji fenomena campur kode dalam interaksi digital Generasi Z di platform TikTok melalui pendekatan sosiolinguistik. Generasi Z menunjukkan kecenderungan menggunakan dua bahasa, terutama bahasa Indonesia dan bahasa Inggris, dalam satu tuturan sebagai ekspresi identitas sosial, emosi, dan gaya komunikasi digital. Metode yang digunakan adalah deskriptif kualitatif dengan data berupa komentar-komentar TikTok dari akun @jeromepolin98 yang dianalisis untuk mengidentifikasi bentuk dan fungsi campur kode. Hasil analisis menunjukkan adanya tiga bentuk utama alih dan campur kode: tag switching, intersentensial switching, dan intrasentensial switching. Penggunaan campur kode ini berfungsi sebagai media ekspresi diri, penegasan identitas, humor, religiusitas, hingga prestise sosial. Campur kode tidak hanya mencerminkan kemampuan bilingual Gen Z, tetapi juga menunjukkan adaptasi linguistik terhadap tuntutan komunikasi global dalam ruang digital..