Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Dinamika Hubungan Ketergantungan Indonesia dan Tiongkok Pasca Klaim Sepihak Tiongkok di Laut Natuna Safira, Gravenia Rahma
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v5i2.3185

Abstract

Ketegangan antara Indonesia dan Tiongkok di wilayah Laut Natuna Utara meningkat sejak klaim sepihak Tiongkok berdasarkan peta sembilan garis putus-putus. Klaim ini dianggap mengancam kedaulatan dan keamanan nasional Indonesia. Meskipun demikian, Indonesia tetap meningkatkan kerja sama ekonomi dengan Tiongkok, yang menimbulkan pertanyaan mengenai dinamika hubungan kedua negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis alasan di balik peningkatan kerja sama ekonomi Indonesia–Tiongkok pasca klaim sepihak di Laut Natuna. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus tunggal dan teori complex interdependence dari Keohane dan Nye sebagai kerangka analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat konflik maritim, ketergantungan ekonomi dan politik antara kedua negara menjadi faktor utama yang meredam eskalasi konflik. Indikator utama interdependensi kompleks seperti berkurangnya peran militer, tidak adanya hirarki isu, dan banyaknya saluran komunikasi antaraktor terkonfirmasi dalam hubungan bilateral ini. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan diplomatik dan ekonomi menjadi strategi utama Indonesia dalam mempertahankan stabilitas dan mencapai kepentingan nasional di tengah ancaman kedaulatan.
Dinamika Hubungan Ketergantungan Indonesia dan Tiongkok Pasca Klaim Sepihak Tiongkok di Laut Natuna Safira, Gravenia Rahma
COMSERVA : Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Vol. 5 No. 2 (2025): COMSERVA: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat
Publisher : Publikasi Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59141/comserva.v5i2.3185

Abstract

Ketegangan antara Indonesia dan Tiongkok di wilayah Laut Natuna Utara meningkat sejak klaim sepihak Tiongkok berdasarkan peta sembilan garis putus-putus. Klaim ini dianggap mengancam kedaulatan dan keamanan nasional Indonesia. Meskipun demikian, Indonesia tetap meningkatkan kerja sama ekonomi dengan Tiongkok, yang menimbulkan pertanyaan mengenai dinamika hubungan kedua negara. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis alasan di balik peningkatan kerja sama ekonomi Indonesia–Tiongkok pasca klaim sepihak di Laut Natuna. Studi ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus tunggal dan teori complex interdependence dari Keohane dan Nye sebagai kerangka analisis. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat konflik maritim, ketergantungan ekonomi dan politik antara kedua negara menjadi faktor utama yang meredam eskalasi konflik. Indikator utama interdependensi kompleks seperti berkurangnya peran militer, tidak adanya hirarki isu, dan banyaknya saluran komunikasi antaraktor terkonfirmasi dalam hubungan bilateral ini. Implikasi dari temuan ini menunjukkan bahwa pendekatan diplomatik dan ekonomi menjadi strategi utama Indonesia dalam mempertahankan stabilitas dan mencapai kepentingan nasional di tengah ancaman kedaulatan.