Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Boycott as Symbolic Action: An Analysis of Social Action in Support of Palestine Hasuna, Asma Nadia; Nurkhurairokh, Azzahra; Fauziah, Rafa Annisa; Ayu, Salwa Laila; Hufad, Achmad; Achdiani, Yani
JISIP: Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan Vol 9, No 3 (2025): JISIP (Jurnal Ilmu Sosial dan Pendidikan) (Juli)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pendidikan (LPP) Mandala

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58258/jisip.v9i3.8816

Abstract

The feud between Palestine and Israel has lasted more than seven decades, causing deep suffering for the Palestinian people who experience refugee camps, restrictions on human rights, and lack of basic needs. In this context, a boycott of products affiliated with Israel emerged as a form of moral and political protest, reflecting global solidarity and social values that underlie individual and collective participation in the movement. This study aims to study the boycott of products affiliated with Israel as symbolic social actions, and identify the types of underlying social actions, including rational actions, rational instrumental, affective, and traditional. In addition, this research also understands the motivation and meaning behind individual and collective participation in the boycott movement, using the theoretical framework of Max Weber's social action. This study uses secondary and primary data. Secondary data obtained from articles, journals, and relevant internet sources. Primary data is collected through questionnaires to obtain information directly from respondents. The combination of these two types of data allows an understanding of respondents' perceptions and experiences related to a boycott of products that support Israel, with voluntary and anonymous participation. This study found that the boycott actions reflect the types of social action Max Weber, driven by sympathy and human values, and were influenced by social media and support of public figures. Respondents interpret the boycott as an act of economic impact and moral statement of injustice, a social action that reflects values, emotions, and rationality in solidarity with Palestine.
Pengangguran Lulusan Sma, Smk, dan Perguruan Tinggi di Indonesia dalam Era Bonus Demografi: Peluang yang Terabaikan Atau Beban Demografi Baru? Ramdani, Hari; Fauziah, Rafa Annisa; Nur Aeni, Siti; Abdullah, Mirna Nur Alia
Arus Jurnal Sosial dan Humaniora Vol 6 No 1: April (2026)
Publisher : Arden Jaya Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57250/ajsh.v6i1.2412

Abstract

Indonesia saat ini tengah memasuki fase bonus demografi, yang ditandai dengan dominasi penduduk usia produktif dan berpotensi mendorong pertumbuhan ekonomi. Namun demikian, tingginya tingkat pengangguran di kalangan terdidik menjadi tantangan serius yang dapat mengubah peluang tersebut menjadi beban demografi. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis fenomena pengangguran terdidik di indonesia dalam konteks bonus demografi, serta menilai apakah kondisi ini merupakan peluang yang belum dimanfaatkan atau justru indikasi munculnya beban demografi baru. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif melalui studi pustaka dan pengumpulan data primer berupa kuesioner daring terhadap 15 responden, yang terdiri dari lulusan SMA, SMK, dan perguruan tinggi yang sedang berada dalam masa transisi menuju dunia kerja. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan kondisi, faktor penyebab, dampak, serta persepsi terkait pengangguran terdidik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengangguran terdidik didominasi oleh lulusan pendidikan menengah dan tinggi, dengan proporsi tertinggi berasal dari lulusan SMK. Faktor utama penyebabnya antara lain ketidaksesuaian antara kompetensi lulusan dengan kebutuhan pasar kerja (skills mismatch), kurikulum yang cenderung teoritis, kurangnya pengalaman magang, terbatasnya ketersediaan lapangan kerja formal, serta tingginya tingkat persaingan. Dampak yang muncul meliputi aspek ekonomi, seperti ketergantungan finansial dan rendahnya produktivitas, serta aspek sosial dan psikologis, termasuk stres dan menurunya kepercayaan diri. Persepsi responden terhadap fenomena ini beragam, sebagian memandangnya sebagai peluang yang belum dimaksimalkan, sebagian lain melihatnya sebagai potensi beban demografi baru, sementara sisanya menganggapnya sebagai kondisi yang bergantung pada kebijakan yang diterapkan. Penelitian ini menyimpulkan bahwa pengangguran terdidik merupakan masalah multidimensional yang membutuhkan penanganan komprehensif, seperti reformasi kurikulum yang selaras dengan kebutuhan industri, penguatan program magang berkualitas, peningkatan keterampilan melalui upskilling dan reskilling, serta penciptaan lapangan kerja berbasis inovasi dan ekonomi digital. Tanpa langkah strategis tersebut, bonus demografi berpotensi berubah menjadi beban sosial ekonomi di masa depan.