Zulfarizal, Zulfarizal
Unknown Affiliation

Published : 5 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 5 Documents
Search

TEKSTUAL DAN KONTEKSTUAL DALAM MEMAHAMI HADIS Zulfarizal, Zulfarizal
AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies Vol. 1 No. 1 (2020): AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (352.394 KB) | DOI: 10.51875/alisnad.v1i1.27

Abstract

Bagian yang paling rumit dalam memahami hadis ialah segala sesuatu yang dinisbatkan kepada Rasulullah SAW, dalam segala altivitas belaiu seperti perkataan, perbuatan, dan segala keputusan/ketetapannnya dalam statusnya sebagai utusan Allah SWT., sehingga harus perlu kosentrasi yang tinggi untuk memahaminya. Karena ia rasul akhir zaman, berarti aturannya pun untuk sepanjang zaman, padahal kenyataannya dalam sejarah ia hidup pada waktu tertentu dan zaman tertentu pula. Maka sudah seharusnya pula memahami hadis, tidak hanya melalui pendekatan tekstual ansich apabila menginginkan agar hadis senantiasa berlaku sepanjang zaman dan dimanapun tempat (Salihun li Kulli Zaman wa li Kulli Makan), mengingat problem kehidupan dewasa ini semakin kompleks. Oleh karena itu, perlu dalam memahaminya dilakukan pendekatan secara kontekstual. Hal ini berarti, dalam memahami hadis atau sunnah dengan mengacu pada latar belakang, siatuasi dan kondisi serta kedudukannya ketika hadis atau sunnah tersebut disabdakan (qawliyah), ditetapkan (taqririyah), dilakukan atau disaksiskan (af’aliyah).
METODOLOGI SYARAH HADIS NABI SAW: Telaah Kitab Fath Al-Bari’ Syarah Shahih Al-Bukhari Zulfarizal, Zulfarizal; Mardiyatul Ch, Alya
AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies Vol. 2 No. 1 (2021): Al Isnad: Journal of Indonesian Hadith Studies Journal
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (314.163 KB) | DOI: 10.51875/alisnad.v2i1.111

Abstract

Tulisan ini bertujuan untuk mendeskripsikan metode syarah atau penjelasan hadis di kitab Shahih Bukhari yang di tulis oleh Ibnu Hajar Al-Asqalani yang terdapat dalam kitabnya, yakni Fathul Bari’. Selanjutnya di deskripsikan juga terkait latar belakang penulisan, sistematika penulisan, metode penulisan, contoh syarah serta menyebutkan kelebihan dan kekuarangannya. Untuk menemukan metode syarah maka digunakan metode deskriptif kualitatif. Merupakan jenis penelitian pustaka yang data-data nya bersumber dari literatur berupa buku atau kitab. Hasil penelitian ini adalah metode syarah kitab Fathul Bari’ menggunakan 3 metode yakni, tahlili dengan menjelaskan secara rinci terkait hadis yang di syarah, metode muqaran dengan menyebutkan bandingan dari pendapat-pendapat para ulama dalam mensyarah hadis tersebut dan metode maudhu’i atau tematik sesuai dengan bab-bab fiqih dan di sesuaikan dengan urutan judul kitab yang ada di kitab Shahih Bukhari. Sistematika penulisan nya sesuai dengan urutan kitab Shahih Bukhari terdapat 97 kitab, 3220 juz dan 7523 hadits. Sedangkan latar belakang penulisan di dasari karena Ibnu Hajar Al-Asqolani merasa kitab shahih Bukhari ini sangat relevan dan memiliki kedudukan yang mulia. Akan tetapi belum ada yang mensyarah kitab ini secara sempurna. Kelebihan dari kitab ini salah satunya terdapat banyak pembahasan ilmiah yang jarang ditemui dalam syarah lainya dan kekurangan nya, beliau jarang memberikan pendapat nya terkait bidang aqidah kebanyakan mengutip dari para ulama lain nya.
DOA PERNIKAHAN NABI SAW UNTUK FATIMAH DAN ALI : Antara Redaksi yang Populer Versi Kitab Sunni dan Kitab Syiah Zulfarizal, Zulfarizal
AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies Vol. 2 No. 2 (2021): Al Isnad: Journal of Indonesian Hadith Studies Journal
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (358.848 KB) | DOI: 10.51875/alisnad.v2i2.117

Abstract

Artikel ini berusaha melacak asal-usul terjemahan doa Nabi Muhammad yang diklaim pernah dibacakan pada pernikahan Ali dan Fatimah. Doa ini populer di kalangan pelaku industri kartu undangan pernikahan. Klaim doa itu terhubung dengan Nabi, Ali dan Fatimah mendorong sebagian pihak berpikir bahwa doa tersebut berasal dengan kaum Syiah. Dengan melakukan penelusuran dan komparasi literatur hadis Sunni dan Syiah, sejauh yang dapat diakses, ditemukan bahwa terjemahan doa pernikahan populer itu memiliki unsur kesamaan dengan redaksi yang dimuat dalam kedua literatur Sunni maupun Syiah. Namun, ada pula detail yang berbeda antara doa yang populer di masyarakat dengan doa yang termuat dalam literatur. Terutama terkait detail manfaat dan bentuk berkah keturunan. Detail tersebut merupakan tambahan di luar hadis. Doa tersebut sejatinya boleh saja diamalkan. Tetapi, penisbatan pada Nabi SAW akan bermasalah jika ditinjau dari sudut pandang Ilmu Hadis.
PERIWAYAT KADZDZAB DALAM SAHIH AL-BUKHARI: Telaah Biografi Isma‘il bin Abi Uways Zulfarizal, Zulfarizal
AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies Vol. 3 No. 1 (2022): Al Isnad: Journal of Indonesian Hadith Studies Journal
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (460.015 KB) | DOI: 10.51875/alisnad.v3i1.121

Abstract

Artikel ini membahas profil periwayat hadis bermasalah dalam kitab Shahih Al-Bukhari dan sikap Al-Bukhari terhadapnya. Kitab Shahih Al-Bukhari diyakini sebagai kitab menggunakan metode seleksi hadis paling ketat. Dalam literatur ulumul hadis yang beredar luas di kalangan umat Islam, penilaian kesahihan hadis didasarkan pada kualitas periwayat an sich. Tetapi, ditemukannya perawi pemalsu hadis dalam kitab Shahih Al-Bukhari membuat kita harus menelaah ulang bagaimana metode seleksi hadis pada masa Al-Bukhari. Dalam penelitian kualitatif ini penulis menganalisis dokumen, kitab-kitab rijal al-hadits dan ‘ulum al-hadits, untuk melacak profil periwayat berikut riwayatnya dalam kitab Shahih Al-Bukhari. Berikutnya, penulis menganalisis sikap Al-Bukhari terhadap periwayat tersebut. Periwayat yang dianalisis adalah Isma’il bin Abi Uways. Seorang periwayat yang dinilai bermasalah karena pernah membuat hadis palsu. Dalam telaah, ditemukan bahwa Isma’il bin Abi Uways merupakan keponakan dan murid langsung Imam Malik bin Anas, pendiri mazhab Maliki. Ia mengaku bahwa dirinya pernah membuat hadis palsu untuk meredakan ketegangan yang terjadi di kalangan pengikut Imam Malik di Madinah. Penerimaan Al-Bukhari terhadap Isma’il adalah karena dalam menilai kesahihan hadis, Al-Bukhari tidak hanya mengandalkan pertimbangan kualitas periwayat, tetapi lebih kepada marwiyat (hadis yang diriwayatkan). Ada kecurigaan, bahwa sebelum menganalisis periwayat, Al-Bukhari menganalisis terlebih dahulu kandungan hadis apakah bersesuaian dengan tradisi yang berlaku, hadis dengan kualitas sahih lainnya, atau fakta sejarah. Jika memenuhi kualifikasi ini, maka hadis dapat dinilai sahih sekalipun diriwayatkan oleh perawi bermasalah.
PLURALISME DALAM PERSPEKTIF HADITS Zulfarizal, Zulfarizal; Fharadillah, Vira
AL ISNAD: Journal of Indonesian Hadith Studies Vol. 3 No. 2 (2022): Al Isnad: Journal of Indonesian Hadith Studies Journal
Publisher : Institut Daarul Qur'an Jakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (285.969 KB) | DOI: 10.51875/alisnad.v3i2.131

Abstract

Melalui lensa hadits, tulisan ini berusaha menentukan apa yang harus dilakukan dalam menghadapi keberagaman agama yang ada dalam kehidupan. Hal ini dilatarbelakangi oleh realitas yang tidak baik, yaitu ketidakharmonisan masyarakat, yang meyakini bahwa hanya agamanya yang benar dan agama yang lain salah. Alih-alih menyamakan Tuhan, inti dari sikap terhadap pluralisme agama adalah menghargai perbedaan untuk mencapai perdamaian dalam hidup berdampingan. Jika Allah ingin menjadikan manusia menjadi satu suku, bangsa, dan agama, Dia bisa. Tapi Allah ingin menguji hamba-Nya dan melihat seberapa baik dia bersaing dalam kebaikan. Metodologi tulisan ini adalah penelitian kepustakaan. Menurut temuan penelitian ini, cara terbaik untuk menghadapi pluralisme adalah dengan bersikap ramah, lembut, dan menghormati perbedaan.