Artikel ini menyajikan analisis mendalam terhadap pemikiran Ahmad Hassan al-Zayyat mengenai tantangan balaghah modern, sebagaimana termuat dalam karyanya Difa' 'Anil Balaghah. Sebagai salah satu disiplin ilmu bahasa Arab, balaghah melampaui tata bahasa dan morfologi untuk menggali kedalaman makna dan estetika, serta berperan krusial dalam memahami Al-Qur'an dan Hadis. Pergeseran dari balaghah klasik yang normatif ke balaghah modern yang lebih eklektik dan komparatif, tidak terlepas dari peran pemikir seperti Ahmad Hassan al-Zayyat, seorang sastrawan, pemikir, dan jurnalis terkemuka. Karyanya seperti Tarikh al-Adab al-'Arabi dan khususnya Difa’ An Al-Balaghah menunjukkan komitmennya untuk menghidupkan kembali balaghah dalam konteks kontemporer. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis studi kepustakaan (library research). Data primer difokuskan pada analisis teks kitab Difa' 'An al-Balaghah karya Ahmad Hassan al-Zayyat. Analisis data dilakukan dengan analisis isi (content analysis) yang meliputi reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa al-Zayyat mengidentifikasi tiga faktor utama yang merusak balaghah di era modern: kecepatan (السرعة), jurnalisme (الصحافة), dan parasitisme (التطفل). Kecepatan mengorbankan kedalaman dan ketelitian, jurnalisme mereduksi keindahan bahasa demi aktualitas, dan parasitisme merusak standar balaghah dengan partisipasi pihak yang tidak kompeten. Menanggapi tantangan ini, al-Zayyat mengonseptualisasikan balaghah ideal sebagai perpaduan harmonis antara akal, selera, ide, kata, dan bentuk, di mana makna adalah ruh dan lafaz adalah tubuh. Beliau menekankan bahwa balaghah adalah bakat alami yang disempurnakan oleh pengetahuan. Untuk pemulihan balaghah, al-Zayyat memprioritaskan penguatan selera (dzauq) yang murni melalui paparan karya klasik dan latihan, pembentukan gaya bahasa (uslub) yang kuat, serta penciptaan opini publik sastra yang sehat sebagai penjaga kualitas. Sikap tegasnya terhadap ammiyah (bahasa pasaran) dan mazhab baru menegaskan komitmennya terhadap kemurnian bahasa Arab.