Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Penerapan Bimbingan Konseling Spiritual Dalam Penerimaan Diri Pada Orang Tua Anak Berkebutuhan Khusus (Studi Kasus Pada Klien “F” di Kelurahan 35 Ilir): Penelitian R.A Dinda Dwi Aswin Safira; Manah Rasmanah; Lena Marianti
Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Vol. 4 No. 1 (2025): Jurnal Pengabdian Masyarakat dan Riset Pendidikan Volume 4 Nomor 1 (Juli 2025 -
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Masyarakat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jerkin.v4i1.2013

Abstract

Penelitian ini berjudul “Penerapan Bimbingan Konseling Spiritual dalam Penerimaan Diri pada Orang Tua yang Memiliki Anak Berkebutuhan Khusus (Studi Kasus Klien ‘F’ di Kelurahan 35 Ilir Kecamatan Ilir Barat II)”. Adapun yang melatarbelakangi penelitian ini yaitu orang tua yang memiliki anak berkebutuhan khusus menghadapi tantangan psikologis dan spiritual yang kompleks, seperti rasa malu, frustrasi, penolakan, serta rendahnya penerimaan diri akibat stigma sosial. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui gambaran penerimaan diri pada klien “F” sebagai orang tua anak berkebutuhan khusus, serta menganalisis penerapan bimbingan konseling spiritual untuk meningkatkan kemampuan klien dalam menerima kondisi anaknya. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan metode studi kasus. Teknik pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data menggunakan pendekatan Miles dan Huberman, meliputi reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan dan verifikasi. Hasil dari penelitian menunjukkan bahwa sebelum penerapan bimbingan konseling spiritual, klien "F" mengalami hambatan penerimaan diri, seperti merasa tidak mampu, membandingkan anak dengan anak normal, menolak keterlibatan dalam pengasuhan aktif, dan kesulitan mengekspresikan emosi. Setelah mengikuti 12 sesi bimbingan konseling spiritual dengan tahapan Tabayyun, Al-Hikmah, Mau’izah, dan Mujadalah, klien mulai menunjukkan perubahan seperti menerima kondisi anak sebagai anugerah, membangun komunikasi yang sehat dalam keluarga, dan memperkuat hubungan spiritual. Proses konseling tersebut dilakukan melalui tiga tahapan utama yaitu tahap awal, tahap pertengahan, dan tahap akhir.