Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

“Yang Sakral” dalam Ritual Ziarah Kubur di Makam Kiai Nur Iman Mlangi Perspektif Mircea Eliade Muhammad Rusidi; Dina Istiqomah; Opi Yensi; Laksamana Naufal Hadi
Panangkaran: Jurnal Penelitian Agama dan Masyarakat Vol. 9 No. 1 (2025)
Publisher : LP2M UIN Sunan Kalijaga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14421/panangkaran.v9i1.4294

Abstract

The grave pilgrimage ritual in Dusun Mlangi, Yogyakarta centered at the tomb of Kiai Nur Iman represents a significant spiritual tradition among local Muslims. This study analyzes the ritual using Mircea Eliade's perspective, particularly the concepts of hierophany, sacred time repetition, and sacred space. Employing a qualitative case study method, data were collected through observation and in-depth interviews with religious leaders and pilgrims. The findings reveal that the tomb is not merely a burial site, but a sacred space where the human and divine realms intersect. The ritual is perceived as a cyclical return to sacred time, providing pilgrims with inner peace and blessings. The tomb’s architecture, reflecting the grandeur of Mataraman Palace, functions symbolically to reinforce its spiritual aura and supports the idea of hierophany. Beyond its religious meaning, the ritual also nurtures communal bonds and enhances social cohesion. This study deepens our understanding of how local communities interpret sacredness not only as a theological construct, but also as a lived, socially unifying cultural experience. [Ritual ziarah kubur di Dusun Mlangi, Yogyakarta tepatnya di makam Kiai Nur Iman merupakan tradisi spiritual penting bagi masyarakat Muslim setempat. Penelitian ini menganalisis ritual tersebut dengan menggunakan perspektif Mircea Eliade, khususnya konsep hierofani, pengulangan waktu sakral, dan ruang sakral. Dengan pendekatan kualitatif studi kasus, data dikumpulkan melalui observasi dan wawancara mendalam dengan tokoh agama serta peziarah. Temuan menunjukkan bahwa makam ini tidak sekadar tempat pemakaman, tetapi ruang sakral tempat dunia manusia dan dimensi ilahi saling bersentuhan. Ritual ziarah dipahami sebagai bentuk pengulangan waktu sakral yang memberikan ketenangan batin dan keberkahan bagi peziarah. Arsitektur makam yang menyerupai kemegahan Keraton Mataram memperkuat aura spiritual dan simbol hierofani. Selain dimensi religius, ritual ini juga mempererat ikatan sosial dan membangun kohesi antarwarga. Penelitian ini memperkaya pemahaman mengenai bagaimana masyarakat lokal memaknai kesakralan tidak hanya sebagai konsep teologis, tetapi juga sebagai pengalaman budaya yang hidup dan menyatukan sosial.]