Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

Semiosis Akulturasi Islam Dan Budaya Jawa Dalam Tradisi Menggantung Kupatan Pada Bulan Syawal Harul Marif
Millatuna: Jurnal Studi Islam Vol. 2 No. 02 (2025): Studi Islam
Publisher : Fakultas Agama Islam, Universitas Hasyim Asy'ari Tebuireng Jombang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33752/mjsi.v2i02.8508

Abstract

Tradisi menggantung ketupat di bulan Syawal merupakan representasi akulturasi budaya Islam dan Jawa yang dapat dianalisis melalui teori simbol dan makna Charles Sanders Peirce. Tradisi ini melibatkan hubungan dinamis antara representamen (ketupat sebagai tanda fisik), objek (kesucian, harmoni sosial, dan kemakmuran), serta interpretant (pemaknaan masyarakat). Sedangkan ketupat berfungsi sebagai ikon, indeks, dan simbol, di mana bentuk fisik, konteks keagamaan, dan konvensi budaya melebur menjadi satu. Proses semiosis dalam tradisi ini menggambarkan bagaimana makna ketupat terus berkembang melalui interpretasi masyarakat yang menggabungkan nilai-nilai Islam seperti perayaan Idul Fitri dan silaturahmi dengan kearifan lokal Jawa, termasuk juga konsep "ngaku lepat" (pengakuan kesalahan). Ketupat bukan sekadar simbol makanan, akan tetapi juga menjadi wadah makna kolektif yang menguatkan solidaritas komunitas. Analisis ini menunjukkan bahwa tradisi menggantung ketupat adalah bukti dinamisnya hubungan antara agama dan budaya, di mana makna tidak statis, tetapi selalu ditentukan oleh konteks sosial dan pengalaman kolektif. Sebagai sebuah praktik akulturasi, tradisi ini memperlihatkan cara masyarakat memadukan nilai spiritual dan kultural untuk menciptakan identitas yang harmonis.