Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan gambaran tingkat burnout yang dialami oleh pengurus sekolah berasrama di bawah naungan Yayasan Tangan Pengharapan (YTP), serta mengidentifikasi faktor-faktor penyebabnya dari aspek individu, organisasi, dan lingkungan kerja. Penelitian menggunakan pendekatan kuantitatif deskriptif tanpa menguji hubungan sebab-akibat antar variabel secara statistik. Data diperoleh dengan instrumen Maslach Burnout Inventory (MBI), instrumen faktor individu (Big Five Personality), faktor organisasi (Areas of Worklife) dan faktor lingkungan kerja , serta dilengkapi data kualitatif melalui wawancara mendalam. Hasil menunjukkan adanya variasi tingkat burnout di kalangan pengurus sekolah berasrama YTP, dengan mayoritas berada pada kategori sedang pada dimensi Emotional Exhaustion (57,6%) dan Depersonalization (54,5%), sementara burnout tinggi hanya dialami oleh sebagian kecil pengurus. Burnout paling erat berkaitan dengan beban kerja yang padat, terutama dialami oleh pengurus berusia 25–35 tahun dan dengan masa kerja 1–3 tahun, yang sedang berada pada fase awal karir. Secara lokasi, burnout level sedang paling banyak ditemukan di SB Jakarta, SB Mentawai, dan SB Sumba, dengan kasus burnout tinggi muncul pada SB Mentawai (2 orang) dan SB Sumba (1 orang), yang terkait dengan isolasi geografis dan beban kerja ganda di Jakarta. Dari faktor individu, neuroticism menjadi karakteristik kepribadian yang paling selaras dengan kecenderungan burnout, sedangkan dimensi positif seperti Openness, Conscientiousness, dan Agreeableness belum sepenuhnya melindungi dari tekanan emosional. Data kualitatif menegaskan bahwa rutinitas monoton, kesiapsiagaan 24 jam, dan ekspektasi tinggi terhadap perubahan perilaku siswa menjadi sumber tekanan utama, sedangkan dukungan tim dan apresiasi berperan sebagai faktor pelindung. Temuan ini menekankan pentingnya evaluasi beban kerja, penguatan komunikasi internal, dan dukungan psikososial berkelanjutan guna menjaga kesejahteraan kerja pengurus sekolah berasrama.