This study examines magical realism in Wakhid Nurrokhim's novel Kemah Terlarang, focusing on the interconnection between fact and fiction, as well as the influence of local culture and Islamic views on the representation of supernatural phenomena. The purpose of this study is to reveal how magical narratives are constructed realistically and how they reflect the belief systems that exist within society. The method used is qualitative with descriptive analysis techniques. Primary data was obtained from the text of the novel, while secondary data came from theory, cultural studies, and Islamic literature. The results of the study show that magical elements in the novel are treated as part of the daily lives of the characters. The concept of wandering spirits that appears in the story refers to local myths, but contradicts Islamic teachings, which interpret such events as the deception of jinn. This research is beneficial for expanding the study of magical realism in contemporary Indonesian literature, particularly in relation to local culture and religious perspectives. In conclusion, this novel not only combines magical and realistic elements but also presents ideological tension between cultural traditions and religious beliefs, making it a literary work rich in social and spiritual meaning. ABSTRAK Penelitian ini mengkaji realisme magis dalam novel Kemah Terlarang karya Wakhid Nurrokhim dengan fokus pada interkoneksi antara fakta dan fiksi, serta pengaruh budaya lokal dan pandangan Islam terhadap representasi fenomena gaib. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengungkap bagaimana narasi magis dibangun secara realistis dan bagaimana hal tersebut mencerminkan sistem kepercayaan yang hidup dalam masyarakat. Metode yang digunakan adalah kualitatif dengan teknik analisis deskriptif. Data primer diperoleh dari isi teks novel, sedangkan data sekunder berasal dari teori, kultur budaya dan literatur keislaman. Hasil penelitian menunjukkan bahwa unsur magis dalam novel diperlakukan sebagai bagian dari kehidupan sehari-hari tokoh-tokohnya. Konsep ruh gentayangan yang muncul dalam cerita mengacu pada mitos lokal, namun bertentangan dengan ajaran Islam yang memaknai peristiwa tersebut sebagai tipu daya jin. Penelitian ini bermanfaat untuk memperluas kajian realisme magis dalam sastra Indonesia kontemporer, terutama yang berkaitan dengan budaya lokal dan perspektif keagamaan. Kesimpulannya, novel ini tidak hanya menggabungkan unsur magis dan realistis, tetapi juga menghadirkan ketegangan ideologis antara tradisi budaya dan keyakinan religius, menjadikannya sebagai karya sastra yang kaya akan makna sosial dan spiritual.