Khusnurridlo, Moh.
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Evaluasi Kurikulum Madrasah Ibtidaiyyah Tahun 1994: Evaluation of the 1994 Madrasah Ibtidaiyyah Curriculum Khusnurridlo, Moh.
Fenomena Vol 1 No 1 (2002): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v1i1.263

Abstract

The 1994 Madrasah Ibtidaiyah (MI) curriculum in Indonesia struggles to balance religious and general education amid rapid socio-technological change. Drawing on curriculum evaluation and systems theories, this study addresses the lack of a systematic evaluation of the curriculum’s conceptual and operational frameworks, educators’ perceptions, and its strengths and weaknesses. Using a qualitative-descriptive multi-site design, data were collected through questionnaires, interviews, observations, documentation, and focus group discussions with MI principals and teachers in three districts (Jombang, Lamongan, Malang), and then analysed through reflective thinking. The findings show that, while the curriculum is conceptually ideal and relevant to madrasah goals—emphasising basic literacy, numeracy, Islamic worship, Qur’anic literacy, and moral conduct—implementation is hindered by limited teacher understanding (focused only on GBPP guidelines), insufficient socialisation, and a severe imbalance between content load and the time allocated to Islamic subjects. Consequently, the curriculum’s strengths include flexibility in local content and teacher autonomy, whereas weaknesses include oversaturated Islamic content, underdeveloped Fiqh and SKI materials, and misaligned central exam questions. It is recommended that principals initiate continuous, simultaneous curriculum evaluation and innovation, while teachers develop effective, efficient, and engaging learning designs adapted to local contexts and technological advances. Kurikulum Madrasah Ibtidaiyah (MI) tahun 1994 di Indonesia menghadapi tantangan dalam menyeimbangkan pendidikan agama dan umum di tengah perubahan sosial dan teknologi yang pesat. Berlandaskan teori evaluasi kurikulum dan teori sistem, penelitian ini bertujuan mengisi kesenjangan evaluasi sistematis terhadap kerangka konseptual dan operasional kurikulum tersebut, persepsi tenaga kependidikan, serta kelebihan dan kekurangannya. Dengan pendekatan kualitatif-deskriptif rancangan multi-situs, data dikumpulkan melalui kuesioner, wawancara, observasi, dokumentasi, dan diskusi kelompok terfokus dari kepala MI dan guru di tiga kabupaten (Jombang, Lamongan, Malang), lalu dianalisis menggunakan refleksi kritis. Temuan menunjukkan bahwa meskipun kurikulum secara konseptual ideal dan relevan dengan tujuan madrasah—menekankan dasar baca-tulis-hitung, ibadah shalat, baca tulis Al-Qur’an, serta akhlak mulia—implementasinya terhambat oleh pemahaman guru yang terbatas (hanya pada GBPP), sosialisasi yang kurang, dan ketidakseimbangan parah antara beban materi dengan alokasi waktu untuk mata pelajaran agama. Kelebihan kurikulum meliputi fleksibilitas muatan lokal dan otonomi guru, sementara kelemahannya mencakup materi agama yang terlalu padat, kurangnya pengembangan materi Fiqih dan SKI, serta soal CAWU yang tidak selaras. Direkomendasikan agar kepala madrasah melakukan evaluasi dan inovasi kurikulum secara berkelanjutan, dan guru mengembangkan desain pembelajaran yang efektif, efisien, dan menarik sesuai konteks lokal.
Islam Tengger: Ihwal, Persebaran, Tradisi dan Transformasi Sosial Keagamaan: Studi Kasus Di Kecamatan Tosari, Pasuruan, Jawa Timur: Islam Tengger: Origins, Distribution, Traditions, and Socio-Religious Transformation: A Case Study in Tosari District, Pasuruan, East Java Khusnurridlo, Moh.
Fenomena Vol 1 No 2 (2002): FENOMENA: Journal Penelitian STAIN Jember
Publisher : LP2M Universitas Islam Negeri Kiai Haji Achmad Siddiq Jember

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/fenomena.v1i2.315

Abstract

The socio-historical development of Islam in Indonesia’s pluralistic Tengger region remains underexplored despite its unique interreligious dynamics. This study addresses the gap by examining the history of Islam’s entry and development, identifying factors that support or hinder its spread, and projecting its prospects in the Tengger community of Tosari, Pasuruan. Using a qualitative case study design, data were collected through in-depth interviews, participant observation, and documentation, then analyzed interpretively. Findings indicate that Islam began spreading around 1910 through trade, with organized da'wah intensifying in the 1920s, led by KH. Ahmad Dahlan. Islamic traditions have been practiced adaptively in Hindu-majority settings, fostering inclusive socio-religious relations rather than conflict. Key propagation channels included education, trade, marriage, and missionary efforts. The study concludes that Islam’s future in Tengger is promising, supported by intergenerational transmission and local pluralism. Recommendations emphasize strengthening religious education and interfaith dialogue to sustain constructive coexistence. Perkembangan sosiohistoris Islam di kawasan Tengger yang pluralistik masih kurang terungkap meskipun dinamika antaragama yang unik. Penelitian ini mengisi kesenjangan tersebut dengan mengkaji sejarah masuk dan berkembangnya Islam, mengidentifikasi faktor pendukung dan penghambat, serta memproyeksikan prospeknya di masyarakat Tengger, Tosari, Pasuruan. Dengan desain studi kasus kualitatif, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, observasi partisipatif, dan dokumentasi, lalu dianalisis secara interpretatif. Temuan menunjukkan Islam mulai menyebar sekitar tahun 1910 melalui jalur perdagangan, dengan dakwah terorganisasi meningkat pada 1920-an yang digerakkan oleh KH. Ahmad Dahlan. Tradisi keislaman dipraktikkan secara adaptif di tengah masyarakat mayoritas Hindu, mendorong hubungan sosial-keagamaan yang inklusif而非 konflik. Jalur utama penyebaran meliputi pendidikan, perdagangan, perkawinan, dan dakwah. Kesimpulannya, masa depan Islam di Tengger prospektif, didukung transmisi antargenerasi dan pluralisme lokal. Rekomendasi mengarah pada penguatan pendidikan agama dan dialog lintas iman untuk keberlanjutan koeksistensi konstruktif.