During a breakup, individuals typically experience profound sadness and drastic emotional changes. These emotional shifts often lead to differences in communication patterns following the end of a relationship. The purpose of this study is to explore how men and women engage in relationships and communication during the relapse phase after a breakup. This research employs a qualitative descriptive method with a case study approach. Data were collected from observation, in-depth interviews, and literature review. The informants consisted of men and women who had experienced a breakup and undergone a relapse phase, with the criteria of having been in a relationship for at least one year and having been separated for a minimum of three months. Data were analyzed using Baxter’s Relational Dialectics Theory (RDT). The findings reveal that there are differences in communication patterns between men and women during the relapse phase. Although both still harbor feelings of longing, the form and intensity of communication show different tendencies. Abstrak Pada masa putus cinta, umumnya seseorang mengalami kesedihan yang mendalam serta perubahan emosi yang drastis. Hal ini menyebabkan adanya perbedaan dalam pola komunikasi yang terjadi setelah hubungan berakhir. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bagaimana hubungan dan komunikasi yang dilakukan oleh laki-laki dan perempuan pada fase relapse pasca putus cinta. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui observasi, wawancara mendalam, dan studi literatur. Informan dalam penelitian ini terdiri dari laki-laki dan perempuan yang pernah mengalami putus cinta dan mengalami fase relapse, dengan kriteria telah menjalin hubungan minimal selama satu tahun dan masa putus minimal tiga bulan. Analisis data dilakukan dengan menggunakan model Relational Dialectics Theory (RDT) dari Baxter. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat perbedaan dalam pola komunikasi antara laki-laki dan perempuan pada fase relapse. Meskipun keduanya sama-sama masih menyimpan rasa rindu, bentuk dan intensitas komunikasi yang dilakukan menunjukkan kecenderungan yang berbeda.