Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

TRADISI ADAT NOGIGI PADA SUKU KAILI DI PALUPI KECAMATAN TATANGA KOTA PALU Abu Haif; Andrayani, utari; Musdalifah; Nini Ismayani; Korompot, Muhammad Nur
Istiqra: jurnal hasil penelitian Vol. 13 No. 1 (2025): Januari - Juni 2025
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat (LP2M) UIN Datokarama Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24239/ist.v13i1.3756

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji makna konstruksi dan fungsi sosial tradisi Nogigi dalam komunitas Kaili di Palupi, Kecamatan Tatanga, Kota Palu, serta respons adaptifnya terhadap perubahan sosial budaya. Menggunakan pendekatan kualitatif dan metode studi kasus, data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan tetua tradisional dan praktisi ritual, observasi partisipatif selama upacara pra-nikah, dan dokumentasi simbol dan narasi lokal. Data dianalisis menggunakan kerangka teoritis ganda: teori konstruksi sosial Berger dan Luckmann dan teori struktural-fungsional Durkheim dan Radcliffe-Brown. Temuan tersebut mengungkapkan bahwa Nogigi bukan hanya tindakan estetika tetapi ritual pemurnian spiritual yang melambangkan transformasi identitas dan status sosial. Ini melayani empat fungsi sosial inti: kohesi integratif, transmisi nilai budaya, kontrol sosial, dan legitimasi status dan hierarki sosial. Di tengah modernisasi dan globalisasi, tradisi ini telah mengalami interpretasi ulang—terutama di kalangan generasi Kaili perkotaan yang lebih muda—sambil mempertahankan signifikansi spiritual dan komunalnya. Kebaruan dari penelitian ini terletak pada analisis interdisiplinernya, menggabungkan lensa antropologis dan sosiologis untuk menghadirkan Nogigi sebagai simbol budaya dinamis yang tertanam dalam kehidupan perkotaan kontemporer. Studi ini merekomendasikan penelitian di masa depan untuk melakukan analisis komparatif di seluruh kelompok sub-etnis Kaili dan untuk mengeksplorasi bagaimana platform digital dan konteks diaspora memengaruhi transformasi dan pelestarian praktik budaya tersebut.
Surya Muhammadiyah di Tanah Kaili, 1932-1982 Andrayani, Utari; Abd. Rahim Yunus; Nurkhalis A. Ghaffar
JURNAL JAWI Vol 8 No 2 (2025): Islam, Social Dynamics, and Modernity
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/00202582834700

Abstract

Penelitian ini mengkaji Sejarah Muhammadiyah di Tanah Kaili pada tahun 1932-1982, dengan menggunakan metode sejarah. Artikel ini menggunakan pendekatan historis dan sosiologi. Pendekatan Historis digunakan untuk melacak sejarah dan perkembangan organisasi Muhammadiyah di Tanah Kaili, sedangkan pendekatan sosiologi digunakan untuk memahami serta mendalami keadaan sosial yang terjadi dalam lingkungan organisasi Muhammadiyah. Teknik pengumpulan data yaitu sumber lisan dan tulisan dengan dikategorikan pada sumber primer dan sekunder. Hasil penelitian ini menemukan dua hal, pertama organisasi Muhammadiyah berdiri di Tanah Kaili pada tahun 1932 di Kabupaten Donggala, menyusul di Wani pada tahun 1933 dan di Kota Palu pada tahun 1938 yang berstatus cabang Muhammadiyah. Setelah itu, berkembang menjadi pimpinan Wilayah Muhammadiyah pada tahun 1966 setelah para pengurus Muhammadiyah diketiga wilayah tersebut mengikuti Muktamar Muhammadiyah di Makassar. Kedua, persebaran Muhammadiyah ke berbagai daerah tidak mengalami kendala karena didukung oleh para tokoh-tokoh penting. Ketiga, setelah terbentuknya cabang-cabang hal ini menjadi mendorong pembentukan Muhammadiyah Sulawesi Tengah. Peran Muhammadiyah dalam peradaban Islam di Teluk Palu melalui pendirian sekolah hingga perguruan tinggi dengan tujuan menciptakan generasi bangsa yang cerdas, menyediakan tempat tinggal bagi anak yatim, membangun masjid sebagai pusat ibadah dan membina umat, serta menyebarkan dakwah Islam, oleh karena itu organisasi Muhammadiyah berhasil mengubah persepsi awal masyarakat yang sempat meragukan eksistensinya, menjadi organisasi Islam yang diterima dan mampu berkembang secara berkelanjutan hingga masa kini di Tanah Kaili.