Demam merupakan respons fisiologis terhadap infeksi atau peradangan, ditandai dengan peningkatan suhu tubuh akibat pirogen endogen yang memicu produksi prostaglandin E2 (PGE2) di hipotalamus. Obat antipiretik seperti parasetamol dan ibuprofen bekerja dengan menghambat sintesis PGE2. Tujuan Penelitian ini bertujuan untuk membandingkan efektivitas antipiretik antara parasetamol dan ibuprofen pada tikus putih jantan galur Wistar yang diinduksi demam menggunakan suspensi putih telur 5%. Metode penelitian eksperimental laboratorik ini menggunakan desain post-test only control group, dengan 15 ekor tikus dibagi dalam 3 kelompok (kontrol, parasetamol, ibuprofen). Data suhu tubuh diukur setiap 15 menit selama 60 menit pasca pemberian obat, dan dianalisis menggunakan ANOVA satu arah dilanjutkan uji Tukey (p<0,05). Hasil menunjukkan bahwa parasetamol dan ibuprofen menurunkan suhu tubuh secara signifikan dibandingkan kontrol negatif. Penurunan suhu rata-rata pada kelompok parasetamol mencapai 4,86%, sementara pada ibuprofen sebesar 4,46%, dan pada infusa kayu manis Cinnamomum burmani sebesar 0,40%, sehingga pada infusa gandarusa Justucia gandarusa sebesar 0,03%Kesimpulan Parasetamol dan ibuprofen sama-sama efektif sebagai antipiretik, dengan hasil penurunan suhu yang sebanding. Penelitian ini mendukung penggunaan keduanya dalam manajemen demam, namun diperlukan studi lanjutan dengan pengamatan toksikologis dan biomolekuler. Gandarusa (Justicia gandarusa) memiliki efektivitas lebih efektif dibandingkan kayu manis. Kayu manis (Cinnamomum burmanii) antipiretik yang terlihat dari penurunan suhu tubuh, sehingga berpotensi digunakan sebagai alternatif terapi penurun demam yang alami dan aman.