Background: Diarrheal disease remains a global health problem, including in Indonesia. Diarrhea is a dangerous disease that can cause death due to poor environmental sanitation, inadequate water supplies, and limited education. Poor sanitation negatively impacts lives, including a decline in the quality of the community's living environment, contamination of drinking water sources, and the emergence of several diseases. Prolonged diarrhea can weaken the sufferer's body due to the loss of energy, fluids, and electrolytes. Purpose To identify risk factors for identifying acute diarrhea at the Saradan Community Health Center in Madiun in 2024. Methods: This study used a quantitative method with a descriptive quantitative approach. The research subjects were sanitation clinic records for diarrhea patients collected by environmental health workers at the Saradan Community Health Center. Four informants participated in this study: the Head of the Saradan Community Health Center, one person in charge of the Public Health Unit, one person in charge of the Individual Health Unit, and an environmental health program implementer. Results: This study found that diarrhea sufferers were distributed across all ages, with children under 10 years of age being the most prevalent. The distribution of diarrhea sufferers at the Saradan Community Health Center was predominantly among those using dug wells as their clean water source, at 42%. Conclusion: Handwashing with Soap (CTPS) practice is not yet 100%. This is evidenced by data showing that 69% of patients habitually wash their hands with soap, while 31% are not. Despite handwashing with soap, patients still contract diarrhea. Suggest: Preventive and promotive efforts should be emphasized in households, food handlers, schools, and community groups such as integrated health posts (Posyandu) to raise public awareness of clean and healthy lifestyles. Rotavirus immunization coverage for toddlers needs to be increased. Regarding clean water, household water testing activities by community health center staff should continue to be expanded. At the food vendor or producer level, food safety training and outreach activities need to be increased to minimize food contamination, including ingredient selection, food handlers, processing, and storage. Keywords: Handwashing with Soap; Diarrhea; Environment. Pendahuluan: Penyakit diare hingga saat ini masih menjadi masalah kesehatan dunia termasuk di Indonesia. Diare adalah salah satu penyakit yang berbahaya karena dapat menyebabkan kematian yang disebabkan kondisi sanitasi lingkungan yang buruk, persediaan air yang tidak memadai, dan pendidikan terbatas. Buruknya kondisi sanitasi akan berdampak negatif di kehidupan, mulai dari turunnya kualitas lingkungan hidup masyarakat, tercemarnya sumber air minum bagi masyarakat sehingga meningkatnya jumlah kejadian diare dan munculnya beberapa penyakit. Diare yang berkepanjangan dapat melemahkan tubuh penderitanya karena kehilangan banyak energi, cairan dan elektrolit tubuh. Tujuan: Untuk mengetahui faktor resiko untuk mendentifikasi kejadian diare akut di Puskesmas Saradan Madiun Tahun 2024. Metode: Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan deskriptif kuantitatif. Obyek penelitian adalah catatan klinik sanitasi pada penderita diare yang dikumpulkan oleh petugas Kesehatan lingkungan Puskesmas Saradan. Informan dalam penelitian ini berjumlah 4 orang terdiri dari Kepala Puskesmas Saradan, 1 orang penanggung jawab Unit Kesehatan Masyarakat, 1 orang penanggung jawab Unit Kesehatan Perorangan dan pelaksana program Kesehatan lingkungan. Hasil : Penelitian ini didapatkan hasil bahwa penderita diare menyebar di semua usia dengan usia di bawa 10 tahun yang paling banyak menderita diare. Distribusi penderita diare di Puskesmas Saradan terbanyak merupakan pengguna sumber air bersih dari sumur gali sebesar 42%. Simpulan: Pembiasaan diri untuk Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) belum 100%. Hal ini dibuktikan dengan data bahwa penderita yang terbiasa cuci tangan pakai sabun sebanyak 69% sedangkan penderita yang tidak terbiasa cuci tangan pakai sabun ada 31%. Meskipun sudah mencuci tangan pakai sabun, penderita masih terjangkit diare. Saran: Upaya promotif preventif hendaknya lebih ditekankan di lingkungan rumah tangga, penjamah makanan, sekolah maupun kelompok masyarakat seperti posyandu agar dapat meningkatkan kesadaran masyarakat untuk berperilaku hidup bersih dan sehat. Peningkatan cakupan imunisasi rotavirus bagi balita perlu ditingkatkan. Dari segi air bersih, kegiatan pemeriksaan air bersih rumah tangga oleh petugas puskesmas sebaiknya terus ditingkatkan cakupannya. Di level penjual atau produsen makanan, perlu ditingkatkan kegiatan pelatihan dan sosialisasi keamanan pangan agar konytaminasi makanan dapat diminimalkan, baik dari pemilihan bahan makanan, penjamah, proses pengolahan hiingga penyimpanan makanan. Kata Kunci: Cuci Tangan Pakai Sabun; Diare; Lingkungan.