Stres akademik merupakan fenomena umum yang dialami oleh mahasiswa, terutama mereka yang berada di tingkat akhir perkuliahan. Tekanan menyelesaikan tugas akhir, ekspektasi lingkungan, serta kekhawatiran terhadap masa depan menjadi pemicu utama stres. Di tengah kondisi tersebut, layanan konseling online hadir sebagai solusi alternatif yang menjanjikan, namun tingkat pemanfaatannya masih tergolong rendah. Penelitian ini bertujuan untuk mengubah kecenderungan mahasiswa Universitas Negeri Padang dalam menggunakan layanan konseling online untuk mengatasi stres akademik, dengan menggunakan pendekatan Technology Acceptance Model (TAM) menurut Wicaksono (2020) yang mencakup lima aspek: persepsi kegunaan , persepsi kemudahan penggunaan , sikap terhadap penggunaan , niat perilaku untuk menggunakan , dan penggunaan sistem aktual . Penelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kuantitatif dengan sampel sebanyak 200 siswa tingkat akhir yang dipilih melalui teknik purposive sampling . Data dikumpulkan melalui angket Skala Likert dan dianalisis menggunakan statistik deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa seluruh indikator TAM berada pada kategori tinggi, dengan rata-rata skor keseluruhan sebesar 94,24 (72,49%). Meskipun demikian, terdapat kesenjangan antara niat dan penggunaan aktual layanan konseling online . Temuan ini menegaskan bahwa TAM merupakan model yang relevan dalam menjelaskan penerimaan teknologi pada konteks kesehatan mental mahasiswa, serta menjadi dasar bagi strategi pengembangan peningkatan literasi digital psikologi di lingkungan perguruan tinggi.Kata Kunci: Konseling Online, Stres Akademik, Teknologi, Model Penerimaan, Mahasiswa