Rohmah, Zulfiani Ainur
Unknown Affiliation

Published : 3 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search

ANALISIS KONEKSI MATEMATIS SISWA DALAM MEMECAHKAN PERMASALAHAN SISTEM PERSAMAAN LINEAR DUA VARIABEL DITINJAU DARI KECERDASAN LOGIS MATEMATIS Rohmah, Zulfiani Ainur; Pambudi, Didik Sugeng; Murtikusuma, Randi Pratama
SCIENCE : Jurnal Inovasi Pendidikan Matematika dan IPA Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/science.v5i3.6833

Abstract

This research is motivated by the low mathematical connection skills of Indonesian students, a crucial skill for effective problem-solving, where logical-mathematical intelligence is identified as an internal influencing factor. The focus of this study is to analyze and describe students' mathematical connection skills in solving Systems of Linear Equations in Two Variables (SLSV), viewed from three different levels of logical-mathematical intelligence: high, medium, and low. As a crucial step, this study employed a descriptive qualitative approach, with three eighth-grade students selected as subjects through purposive sampling based on their intelligence test results. Data on connection skills were collected through the SLSV problem-solving test and in-depth interviews. The main findings indicate a clear correlation between intelligence level and connection skills: students with high intelligence systematically met all indicators, students with medium intelligence demonstrated inconsistent connections, while students with low intelligence failed to establish meaningful connections. In conclusion, logical-mathematical intelligence fundamentally determines students' ability to connect mathematical concepts to solve problems effectively. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya kemampuan koneksi matematis siswa di Indonesia, sebuah keterampilan krusial untuk pemecahan masalah yang efektif, di mana kecerdasan logis-matematis diidentifikasi sebagai faktor internal yang memengaruhinya. Fokus penelitian ini adalah untuk menganalisis dan mendeskripsikan kemampuan koneksi matematis siswa dalam memecahkan permasalahan Sistem Persamaan Linear Dua Variabel (SPLDV), ditinjau dari tiga tingkatan kecerdasan logis-matematis yang berbeda: tinggi, sedang, dan rendah. Sebagai langkah penting, penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif, di mana tiga siswa kelas VIII dipilih sebagai subjek melalui purposive sampling berdasarkan hasil tes kecerdasan. Data kemampuan koneksi dikumpulkan melalui tes pemecahan masalah SPLDV dan wawancara mendalam. Temuan utama menunjukkan adanya korelasi yang jelas antara tingkat kecerdasan dengan kemampuan koneksi: siswa berkecerdasan tinggi memenuhi seluruh indikator secara sistematis, siswa berkecerdasan sedang menunjukkan koneksi yang tidak konsisten, sementara siswa berkecerdasan rendah gagal membangun koneksi yang bermakna. Kesimpulannya, kecerdasan logis-matematis secara fundamental menentukan kemampuan siswa dalam menghubungkan konsep-konsep matematika untuk memecahkan masalah secara efektif.
PENERAPAN MODEL PEMBELAJARAN SCIENCE, TECHNOLOGY, ENGINEERING, MATHEMATICS (STEM) TERHADAP KETERAMPILAN BERPIKIR KREATIF SISWA KELAS V Setiawan, Yogi; Rohmah, Zulfiani Ainur
EDUCATIONAL : Jurnal Inovasi Pendidikan & Pengajaran Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/educational.v5i3.6838

Abstract

This research is motivated by the low level of creative thinking skills among students in science and science learning and the infrequent use of innovative learning models such as Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM). This study aims to determine the differences in creative thinking skills between students learning with the STEM model and those learning with conventional models. The method used was a quasi-experimental design with a non-equivalent control group design for 25 students in the experimental class and 28 students in the control class at SD Negeri Gandu I. The instrument was a descriptive test with indicators of fluency, flexibility, originality, and elaboration. The results showed that the average post-test score for the experimental class (82.40) was higher than the control class (71.18) with a significance level of <0.05, indicating a significant difference. The implementation of the STEM model not only increased the average score but also encouraged students to be more active, creative, and engaged in learning. This model can be an effective alternative for teachers in developing 21st-century skills. The implications of this research demonstrate the importance of project-based learning innovation in improving the quality of basic education. ABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi oleh rendahnya keterampilan berpikir kreatif siswa pada pembelajaran IPAS dan jarangnya penggunaan model pembelajaran inovatif seperti Science, Technology, Engineering, Mathematics (STEM). Penelitian ini bertujuan mengetahui perbedaan keterampilan berpikir kreatif antara peserta didik yang belajar dengan model STEM dan siswa dengan model konvensional. Metode yang digunakan adalah kuasi eksperimen dengan desain non-equivalent control group pada 25 siswa kelas eksperimen dan 28 siswa kelas kontrol di SD Negeri Gandu I. Instrumen berupa tes uraian dengan indikator fluency, flexibility, originality, dan elaboration. Hasil menunjukkan rata-rata post-test kelas eksperimen (82,40) lebih tinggi dibandingkan kelas kontrol (71,18) dengan signifikansi < 0,05, yang berarti terdapat perbedaan signifikan. Penerapan model STEM tidak hanya meningkatkan nilai rata-rata, tetapi juga mendorong siswa lebih aktif, kreatif, dan terlibat dalam pembelajaran. Model ini dapat menjadi alternatif efektif bagi guru dalam mengembangkan keterampilan abad ke-21. Implikasi penelitian ini menunjukkan pentingnya inovasi pembelajaran berbasis proyek untuk meningkatkan kualitas pendidikan dasar.
NILAI MUSYAWARAH DALAM PKN SEBAGAI BASIS PEMBENTUKAN MODAL KULTURAL KOLEKTIF: SEBUAH TINJAUAN PUSTAKA TENTANG DEMOKRASI DELIBERATIF DI SEKOLAH Setiawan, Yogi; Rohmah, Zulfiani Ainur
SOCIAL : Jurnal Inovasi Pendidikan IPS Vol. 5 No. 4 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Pendidikan dan Penelitian Indonesia (P4I)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.51878/social.v5i4.7996

Abstract

Civics Education plays a vital role in shaping the democratic character of citizens, yet reality shows low political participation among the younger generation and the dominance of authority in democratic practices in schools. This study aims to explore the value of deliberation in Civics Education as a basis for building collective cultural capital to realize deliberative democracy in educational settings. Using a descriptive qualitative method with a library research approach, this study analyzes various literature related to the challenges of school democracy, the internalization of the fourth principle of Pancasila, and its relationship to modern sociological theory. The results indicate that deliberation functions as a strategic bridge between noble traditional values ??and modern citizenship competencies, capable of fostering critical thinking, empathy, and social responsibility in students. Despite facing technical challenges such as the dominance of vocal students and limited learning time, inclusive teacher facilitation has proven effective in transforming classroom dynamics into a more equal space for dialogue. The main conclusion of this study confirms that substantively integrating the value of deliberation into the curriculum is not only effective in addressing the dialogic deficit but also strengthens the foundation of collective cultural capital, which is essential for the sustainability of a healthy and participatory deliberative democracy in Indonesia's national education system. ABSTRAKPendidikan Kewarganegaraan memegang peran vital dalam membentuk karakter demokratis warga negara, namun realitas menunjukkan masih rendahnya partisipasi politik generasi muda dan adanya dominasi otoritas dalam praktik demokrasi di sekolah. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi nilai musyawarah dalam Pendidikan Kewarganegaraan sebagai basis pembentukan modal kultural kolektif guna mewujudkan demokrasi deliberatif di lingkungan pendidikan. Menggunakan metode kualitatif deskriptif dengan pendekatan studi kepustakaan, penelitian ini menganalisis berbagai literatur terkait tantangan demokrasi sekolah, internalisasi sila keempat Pancasila, serta hubungannya dengan teori sosiologi modern. Hasil kajian menunjukkan bahwa musyawarah berfungsi sebagai jembatan strategis antara nilai tradisi luhur dan kompetensi kewarganegaraan modern yang mampu menumbuhkan sikap kritis, empati, serta tanggung jawab sosial siswa. Kendati menghadapi tantangan teknis seperti dominasi siswa vokal dan keterbatasan waktu pembelajaran, fasilitasi guru yang inklusif terbukti mampu mengubah dinamika kelas menjadi ruang dialog yang lebih setara. Simpulan utama penelitian ini menegaskan bahwa pengintegrasian nilai musyawarah secara substantif dalam kurikulum tidak hanya efektif mengatasi defisit dialogis, tetapi juga memperkuat fondasi modal kultural kolektif yang esensial bagi keberlangsungan demokrasi deliberatif yang sehat dan partisipatif dalam sistem pendidikan nasional Indonesia.