Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

Analisis Teknik Pemeriksaan Calcaneus pada Proyeksi AP Axial Plantodorsal dan Proyeksi AP Axial Dorsoplantar Ditinjau dari Kenyamanan Pasien, Proyeksi yang Lebih Memudahkan Radiografer, dan Informasi Anatomi: Analysis of Calcaneus Examination Techniques in AP Axial Plantodorsal Projection and AP Axial Dorsoplantar Projection in View of Patient Comfort, Projections That are More Easy For Radiographers, and Anatomic Information Rondonuwu, Roucho Yusuf; Dharmawan, I Bagus Gede
Jurnal Surya Medika (JSM) Vol. 11 No. 2 (2025): Jurnal Surya Medika (JSM)
Publisher : Institute for Research and Community Services Universitas Muhammadiyah Palangkaraya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33084/jsm.v11i2.10536

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hasil perbandingan tingkat kenyamanan pasien, proyeksi yang lebih memudahkan radiografer. dan informasi anatomi pada proyeksi AP Axial Plantodorsal dan proyeksi AP Axial Dorsoplantar. Penulisan karya tulis ini menggunakan metode kuantitatif dengan pendekatan eksperimen, metode tersebut yaitu penulis turun ke lapangan melakukan eksposi kepada relawan yaitu menggunakan proyeksi AP Axial Plantodorsal dan proyeksi AP Axial Dorsoplantar dan membandingkan hasil radiograf dari proyeksi AP Axial Plantodorsal dan proyeksi AP Axial Dorsoplantar. Metode pengumpulan data yaitu dengan cara memberikan kuesioner kepada 10 orang relawan untuk menilai kenyamanan pasien, memberikan kuesioner kepada 3 orang radiografer untuk menilai kemudahan mengerjakan proyeksi dan yang terakhir diberikan kuesioner kepada 3 orang dokter untuk menilai informasi anatomi yang data tersebut akan diolah menggunakanan aplikasi SPSS. Dari pengolahan dan analisis data diperoleh hasil penelitian bahwa dengan menggunakan proyeksi AP Axial Plantodorsal lebih optimal dalam memberikan informasi anatomi
Analisis Teknik Radiotherapy Non-Coplanar (NC) 3 Dimension Conformal Radiation Therapy (3D-CRT) Pada Kasus Acute Lymphoblastic Leukemia (ALL) Di RSUP DR. Hasan Sadikin Bandung Rondonuwu, Roucho Yusuf; Sukmasari, Indah; Juliasa, I Wayan; Alfiah, Farikhatul
Jurnal Ilmu Kedokteran dan Kesehatan Vol 13, No 4 (2026): Volume 13 Nomor 4
Publisher : Prodi Kedokteran Fakultas Kedokteran Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jikk.v13i4.22851

Abstract

Craniospinal irradiation (CSI) merupakan teknik radioterapi yang digunakan untuk menangani keganasan yang melibatkan otak dan sumsum tulang belakang, seperti acute lymphoblastic leukemia (ALL). Tantangan utama dalam pelaksanaan CSI adalah mencapai distribusi dosis yang homogen pada target kranial dan spinal, serta meminimalkan paparan dosis terhadap organ at risk (OAR). Penelitian ini merupakan studi seri kasus pada empat pasien pediatrik dengan ALL yang menjalani terapi CSI di RSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung. Perencanaan terapi dilakukan menggunakan simulasi berbasis CT dengan perangkat imobilisasi yang dirancang khusus untuk pasien pediatrik. Teknik 3D-CRT non-coplanar pada CSI dengan penggunaan lima lapangan penyinaran, penyesuaian sudut gantry, rotasi meja (couch), verifikasi harian menggunakan image-guided radiotherapy (IGRT), serta imobilisasi khusus pediatrik, mampu memberikan cakupan target yang optimal dengan dosis OAR tetap dalam batas aman. Hasil perbandingan menunjukkan bahwa nilai Dmax dan Dmean pada organ kritis seperti lensa, mata, saraf optik, tiroid, paru-paru, jantung, ginjal, dan hati sesuai dengan standar rumah sakit dan data referensi, dengan variasi antar pasien yang minimal. Pendekatan ini efektif dalam meminimalkan paparan terhadap jaringan sehat sekaligus mempertahankan presisi penyinaran, sehingga layak digunakan dalam tatalaksana CSI pada kasus ALL. Kesimpulannya, teknik 3D-CRT non-coplanar mampu menghasilkan distribusi dosis yang merata pada area CSI dengan risiko overlap yang minimal. Perencanaan berbasis CT 3D dan delineasi yang presisi mampu menjaga dosis OAR tetap dalam batas aman. Sistem imobilisasi khusus pediatrik juga meningkatkan stabilitas dan reprodusibilitas, sehingga metode ini aman, efektif, dan layak diterapkan pada pasien pediatrik yang menjalani CSI.