Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search

KAJIAN TEOLOGIS MENGENAI KETUNDUKAN ISTRI DAN KEPEMIMPINAN SUAMI MENURUT EFESUS 5:22-25 DAN SIGNIFIKANSINYA DALAM KELUARGA rdiani, Wiwin
GENEVA: JURNAL TEOLOGI DAN MISI Vol. 14 No. 2 (2023): DESEMBER 2023
Publisher : Sekolah Tinggi Teologi Injili Abdi Allah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71361/gjtm.v14i2.120

Abstract

Baik ketundukan istri terhadap suami maupun kepemimpinan suami terhadap istri bukanlah sesuatu yang mudah untuk dipahami secara harafiah. Semenjak kejatuhan manusia dalam dosa, mengakibatkan semua manusia memiliki natur keberdosaan yang sewaktu-waktu bisa saja melakukan kesalahan. Sehingga kesulitan dalam memahami pengertian ketundukan istri terhadap suami akan mempengaruhi pola pikir manusia dalam melakukan kebenaran sebagaimana Alkitab nyatakan. Manusia lebih mudah menilai bagaimana jika ketundukan dimanfaatkan untuk melakukan kekuasaan yang otoriter, demikian pula bagaimana jika istri sulit untuk dipimpin dan lebih cenderung melawan atau meremehkan kepemimpinan suami. Merujuk pada istilah kata  “tunduk” yang disematkan bagi istri, seperti terkesan memiliki sebuah kata “negatif” atau sesuatu yang telah dianggap “kuno”. Istri tunduk terhadap suami, sekilas menempatkan istri berada pada situasi buruk, lemah dan tak berdaya bahkan seperti tidak memiliki hak suara. Tunduk bukanlah sesuatu yang buruk jika dilihat dari kacamata Ilahi. Istri bersukacita karena ia tunduk kepada suaminya sendiri, yaitu suami yang mengasihinya dalam takut akan Tuhan dan ia memperoleh serta menikmati suatu karunia Allah yang tidak diberikan kepada setiap wanita. Begitu juga kepercayaan yang Tuhan berikan kepada suami untuk memimpin istri tentunya harus dilaksanakan sebagaimana Tuhan ajarkan. Kepemimpinan bukan berarti melakukannya dengan otoriter melainkan membawa istrinya dan seluruh anggota keluarga kepada satu kehendak Tuhan. Kehendak Tuhan tentunya menjadi hal utama dalam memimpin keluarga. Itu sebabnya suami harus memiliki hubungan yang dekat kepada Tuhan yang memberikan mandat kepadanya agar mengerti rancangan dan kehendak Tuhan dalam membina keluarga dengan benar. Demikian pula pengertian dan pemahaman suami yang mengasihi istrinya karena menyadari bahwa Kristus adalah Kepala jemaat yang menyelamatkan. Kekepalaan suami tidak boleh digunakan untuk menghancurkan atau melumpuhkan istrinya atau membuat istrinya frustasi untuk menjadi dirinya sendiri. Kekepalaannya lebih kepada mengungkapkan perhatian daripada kontrol, tanggungjawab daripada aturan. Kristus telah berinisiatif dengan kasih setiaNya untuk mengasihi, merawat dan mendidik jemaat agar serupa dengan Dia yang menyelamatkannya. Keserasian dalam peran suami dan istri akan memberi dampak positif bagi pertumbuhan keluarga. Keluarga yang sehat, bermula dari suami-istri mengerti peran dan fungsinya masing-masing, sehingga tidak akan terjadi yang namanya kekacauan maupun overlap dalam peran kepemimpinan keluarga. setiap pribadi diarahkan untuk kembali kepada rancangan semula Allah dalam membentuk dan memberkati keluarga