Studi ini meneliti pemahaman mahasiswa tentang kekerasan seksual verbal di lingkungan pendidikan tinggi. Kekerasan seksual verbal sering dinormalisasi sebagai bentuk humor atau interaksi sosial biasa di antara mahasiswa, sehingga pengakuan terhadap sifatnya sebagai kekerasan berbasis gender masih terbatas. Studi ini bertujuan untuk menganalisis bagaimana mahasiswa mendefinisikan kekerasan seksual verbal, mengidentifikasi batasan antara humor dan kekerasan seksual verbal, dan mengeksplorasi faktor-faktor yang berkontribusi pada normalisasi perilaku tersebut di lingkungan akademik. Metode kualitatif dengan pendekatan deskriptif digunakan. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam dengan mahasiswa dari berbagai fakultas di universitas-universitas di Kota Surakarta dan dilengkapi oleh informan ahli dari kalangan akademisi dan Satuan Tugas Pencegahan dan Penanganan Kekerasan (Satgas PPK). Temuan menunjukkan bahwa mahasiswa umumnya memahami kekerasan seksual verbal sebagai ucapan, lelucon, atau komentar yang melampaui batasan pribadi dan menyebabkan kerugian psikologis pada korban. Namun, kekerasan seksual verbal terus dinormalisasi karena budaya patriarki, rendahnya tingkat sensitivitas gender, dan praktik menyalahkan korban. Studi ini menyimpulkan bahwa penguatan kesadaran gender dan penerapan program pendidikan pencegahan sangat penting untuk menciptakan lingkungan akademik yang aman, inklusif, dan bebas dari kekerasan berbasis gender.