Hia, Panca Sinar Prapenta
Unknown Affiliation

Published : 2 Documents Claim Missing Document
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 2 Documents
Search

The Correlation between Self-esteem and Self-diagnosis Behavior Regarding Mental Health among Adolescents at Senior High School X in Jakarta Hia, Panca Sinar Prapenta; Pasaribu, Jesika
Jurnal Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI) Vol 10, No 2 (2025)
Publisher : Persatuan Perawat Nasional Indonesia (JPPNI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32419/jppni.v10i2.706

Abstract

Research objective: Currently, adolescents tend to self-diagnose due to the influence of their environment and a lack of knowledge about mental health. A key driver factor for adolescents to engage in self-diagnosis is that they are still in the stage of understanding self-concept. The purpose of this study was to determine the relationship between self-esteem and self-diagnosis behaviour regarding mental health in adolescents. Method: The research method used was descriptive correlation. The inclusion criteria for this study were students in grades XI and XII at SMA X Jakarta. Data collection was conducted from October to December 2024. The research instruments used were the Rosenberg Self-Esteem Scale, which had a Cronbach's alpha (ɑ=0.86), and the Self-Identification of Having Mental Illness (SELF-I), which had a Cronbach's alpha (ɑ=0.90). Univariate analysis was conducted by processing central tendency data for self-esteem and self-diagnosis, while bivariate analysis was performed using Kendall's tau-b correlation test. Results: The bivariate test showed a significant relationship between self-esteem and self-diagnosis behaviour (p-value 0.001). Discussion: The study's results indicate the importance of adolescents having high self-esteem to reduce the risk of self-diagnosis behavior. Adolescents need to have good self-esteem to maintain mental health in the future. Conclusion: Respondents are advised to increase their mental health awareness, be more discerning when filtering information from unofficial sources to avoid misinformation and seek professional help immediately. Schools need to implement mental health literacy programs that cover the dangers of self-diagnosis and how to access professional help.Keywords: adolescent, mental health, self-diagnosis, self-esteem
Efektifitas Terapi Nebulizer dan Latihan Batuk Efektif terhadap Peningkatan Kemampuan Batuk dan Frekuensi Nafas pada Pasien dengan Masalah Bersihan Jalan Nafas Tidak Efektif di Unit IGD RSUD X Jakarta Hia, Panca Sinar Prapenta; Widani, Ni Luh
J-CEKI : Jurnal Cendekia Ilmiah Vol. 5 No. 4: Juni 2026
Publisher : CV. ULIL ALBAB CORP

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/j-ceki.v5i4.15414

Abstract

Pasien dengan Chronic Obstructive Pulmonary Disease atau Penyakit Paru Obstruktif Kronik (PPOK) sering mengalami bersihan jalan napas tidak efektif akibat peningkatan produksi sekret, inflamasi saluran napas, serta menurunnya kemampuan batuk, yang pada kondisi akut dapat memperburuk status respirasi, terutama di unit gawat darurat. Intervensi yang mampu mengoptimalkan patensi jalan napas menjadi bagian penting dalam asuhan keperawatan. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi efektivitas kombinasi terapi nebulizer dan latihan batuk efektif dalam meningkatkan bersihan jalan napas pada pasien PPOK di instalasi gawat darurat. Penelitian menggunakan desain studi kasus dengan pendekatan asuhan keperawatan pada dua pasien laki-laki dengan diagnosis PPOK dan masalah keperawatan bersihan jalan napas tidak efektif di salah satu rumah sakit umum daerah di Jakarta. Intervensi diberikan secara bertahap melalui terapi nebulizer yang diikuti latihan batuk efektif, dengan evaluasi klinis dilakukan sebelum dan sesudah tindakan selama periode observasi. Parameter evaluasi meliputi frekuensi napas, denyut nadi, saturasi oksigen, kemampuan batuk, karakteristik sputum, dan suara napas. Hasil menunjukkan adanya perbaikan status respirasi pada kedua pasien, yang ditandai dengan penurunan frekuensi napas dan denyut nadi, peningkatan saturasi oksigen, meningkatnya efektivitas batuk, kemudahan pengeluaran sputum, serta berkurangnya suara napas tambahan. Temuan ini menunjukkan bahwa kombinasi terapi nebulizer dan latihan batuk efektif berpotensi menjadi intervensi keperawatan yang efektif dalam meningkatkan bersihan jalan napas dan stabilitas respirasi pasien PPOK pada setting kegawatdaruratan.