Analisis rantai pasok komoditas ikan tenggiri di Bandar Lampung melibatkan empat tahap distribusi: nelayan, Tempat Pelelangan Ikan (TPI), pedagang besar, dan pedagang eceran. Tahap awal adalah trust building untuk menentukan harga dan kualitas. Rantai pasok pertama melibatkan nelayan, TPI, pedagang besar, pedagang eceran, dan konsumen, dengan sebagian besar hasil tangkapan diarahkan ke TPI. Rantai kedua melibatkan nelayan, pedagang besar, dan pedagang eceran, dengan sebagian hasil langsung dialokasikan ke pedagang besar. Margin terdiri dari margin penjualan dan margin keuntungan. Rantai pasok pertama memiliki margin penjualan total Rp 24.000 dan margin keuntungan Rp 19.900, sementara rantai kedua memiliki margin penjualan Rp 22.000 dan margin keuntungan Rp 17.900, dengan selisih Rp 2.000. Margin tertinggi di rantai pertama adalah nelayan (Rp 16.000), diikuti TPI (Rp 4.000), pedagang eceran (Rp 2.250), dan pedagang besar (Rp 1.750). Di rantai kedua, margin tertinggi juga nelayan (Rp 14.000), diikuti TPI (Rp 4.000), pedagang eceran (Rp 2.250), dan pedagang besar (Rp 1.750). Perpindahan antar tahap distribusi menunjukkan penurunan margin, mencerminkan distribusi nilai ekonomi. Keberhasilan TPI dan pedagang dalam meningkatkan margin tergantung pada pemasaran dan efisiensi operasional. Hasil analisis fisherman share menunjukkan nilai 90% untuk rantai pasok pertama dan 87% untuk yang kedua, menandakan optimasi penjualan lebih tinggi pada rantai pertama. Sebaliknya, nilai margin menunjukkan efisiensi harga lebih baik pada rantai kedua, dengan total margin Rp 22.000 dibandingkan Rp 24.000 pada rantai pertama, karena melibatkan lebih sedikit pelaku.